Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Yayah Sarah: dari GPI Masyumi Hijrah ke Fatayat NU

Yayah Sarah: dari GPI Masyumi Hijrah ke Fatayat NU
Yayah Sarah (Foto: Istimewa)
Yayah Sarah (Foto: Istimewa)

"Ari Masyumi teh bermazhab?" tanya Kiai Sulaiman Mahfud kepada salah seorang santrinya. 
"Iya," jawab santrinya yang bernama Yayah Sarah. 
"Heunteu (tidak)," jawab Kiai Sulaiman Mahfud. 

Menurut pelaku percakapan itu, Yayah Sarah, berlangsung sekitar tahun 1959. Berarti terjadi pada masa Orde Lama atau pemerintahan Presiden Soekarno, empat tahun selepas pemilu pertama yang diikuti ratusan partai, dan setahun sebelum Masyumi dibubarkan. 

Masalah mazhab pernah menjadi perdebatan antarormas Islam pada tahun 30-an. Perdebatan itu melahirkan salah satu ormas yang menyatakan dalam statuten (AD/ART) dengan tegas, kami adalah kalangan Muslim yang mengikuti salah satu imam dari mazhab empat. Ormas itu berdiri 31 Januari 1926, Nahdlatul Ulama.   

Namun, ternyata sisa-sisa perdebatan tentang mazhab sepertinya masih hadir di tahun 50-an. Tergambar dalam percakapan yang diceritakan Yayah Sarah, ibuku, di atas. Ia menceritakan hal itu, 62 tahun kemudian, saat aku bertanya tentang aktivitasnya di masa muda. 

Menurutku, percakapan di atas ada betulnya, tapi tak sepenuhnya betul karena di Masyumi saat itu masih ada tokoh-tokoh pesantren Ahlussunah wal Jamaah sebagaimana NU. Sepertinya percakapan itu dalam rangka memudahkan penjelasan dari seorang guru kepada murid.

Ibu menceritakan pengalamannya itu dengan matanya yang sayu, sembari kadang menatap langit-langit dapur. Pikirannya mungkin menerobos ruang waktu ke masa revolusi dan kemerdekaan dan hal-hal yang tentu saja aku tak mengetahuinya. 

Yayah Sarah adalah panutanku, sekaligus melahirkanku. Ia mengaku lahir sekitar tahun 1942 walaupun di KTP tertulis 1945. Di usia belia, ia mengaku pernah aktif di Gerakan Pemuda Islam (GPI) sayap pemuda Partai Musyawarah Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). 

Selama aktif di GPI, sering bersilaturahim dengan aktivis-aktivis kelompok lain seperti Sarekat Islam (SI), Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Persatuan Tarbiyah Islam (Perti), bahkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia mengaku sering berdiskusi dengan aktivis perempuan dari Muhammadiyah, Persis, dan lainnya. 

Yayah Sarah sibuk ketika menjelang pemilu pertama, 1955, menjadi aktivis GPI. Suhu politik Indonesia kala itu, menurutnya, tak menentu, karena setelah atau sebelum masa kemerdekaan bermunculan gerakan- gerakan nasionalis, keagamaan, budaya, dan lainnya. 

Ketika pemilu semakin dekat, Kiai Sulaiman Mahfud atau biasa dipanggil Apa Encep putra Kiai Faqih, Cinunuk, Cileunyi, meminta Yayah Sarah banting stir untuk menjadi aktivis NU. Meski kaget, ia mengikuti anjuran gurunya yang merupakan tokoh NU di wilayahnya itu.

Informasi memang saat itu tidak bergerak cepat seperti sekarang. Tak heran kemudian banyak tokoh atau warga NU yang masih di Masyumi saat pemilu pertama itu. Mereka hanya tahu bahwa NU yang turut membidani Masyumi, meski akhirnya keluar sekitar tiga tahun sebelum pemilu. 

Kiai Sulaiman Mahfud, termasuk tokoh NU yang mengetahui informasi itu agak telat, kemudian dengan segera menarik murid-muridnya yang masih aktif di Masyumi untuk masuk NU. 

Ibu yang saat itu masih belasan tahun, kemudian menjadi Ketua Fatayat NU di wilayahnya, setingkat PAC atau kecamatan kalau sekarang.

Cerita-cerita masa lalu mengalir pelan dan sesekali terputus darinya. Maklum ia memasuki usia 80 tahun. Sesekali ia bercerita pertempuran di Jatinangor, kemudian tentang sirine tanda pasukan Darul Islam, lalu berbelok pada kisah tarekat Mama Naqsyabandi Pengkolan.

Dan aku berusaha merangkainya...

Penulis: Nasihin
Editor: Abdullah Alawi