Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Urang Sunda dan Sungai

Urang Sunda dan Sungai
Sungai Citarum di kawasan Rajamandala Bandung Barat. (Foto: NU Online Jabar/Antara/Raisan Al-Farisi)
Sungai Citarum di kawasan Rajamandala Bandung Barat. (Foto: NU Online Jabar/Antara/Raisan Al-Farisi)

Oleh Rudi Sirojudin Abas

Memasuki musim hujan, kecemasan dan kekhawatiran masyarakat kembali mengemuka, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitaran bantaran sungai dan pemukiman dataran rendah. Pasalnya, curah hujan yang tinggi dan keberadaan sungai-sungai yang tak bersahabat  disinyalir dapat mengakibatkan terjadinya banjir musiman. 

Akibatnya, kerugian dan  penderitaan masyarakat akibat banjir tak bisa terelakkan. Kerusakan jalan, jembatan, tanggul, bangunan rumah tinggal, fasilitas publik, dan infrastruktur lainnya menjadi pemandangan yang sudah tak asing lagi. Diperparah lagi dengan adanya korban jiwa akibat terseret banjir maupun tertimbun longsor, seolah menambah penderitaan yang memilukan.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, musim hujan di Indonesia akan dimulai secara bertahap di akhir bulan Oktober 2020. Sekitar 87 persen wilayah di Indonesia yang sudah mengalami musim kemarau panjang, diprediksi akan menjadi lahan curah hujan tinggi. Ini berarti, musim hujan kemungkinan besar akan terjadi secara menyeluruh di wilayah Indonesia.

Sesuatu yang dikhawatirkan akhirnya terjadi. Musim hujan belum sepenuhnya terjadi, akibatnya sudah mulai dirasakan. Baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan peristiwa banjir bandang dan longsor yang terjadi di wilayah selatan Kabupaten Garut yang telah merendam ribuan rumah penduduk dan merusak banyak fasilitas umum. Pemerintah setempat pun menyatakan, banjir bandang di Garut diduga terjadi akibat kerusakan lingkungan dan  hutan di hulu sungai yang kewenangannya dikelola oleh pihak Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani).

Meskipun telah dibantah oleh Perhutani, bahwasanya banjir tersebut bukan disebabkan oleh kerusakan hutan, melainkan karena curah hujan yang terlalu tinggi, tidak serta merta dapat menyelesaikan permasalahan yang ada. Kerugian material dan psikologi masyarakat yang tak terhitung nilainya tak cukup selesai hanya dengan sebuah klarifikasi saja. Namun yang diharapkan adalah bagaimana caranya agar pemulihan atau penanggulangan akibat banjir dapat  segera teratasi. 

Tak heran jika telah terjadi banjir,  semua pihak akhirnya saling menyalahkan satu sama lain. Pembangunan dan perbaikan tanggul dan saluran air yang dilakukan pemerintah disinyalir belum sepenuhnya dapat menanggulangi tingginya curah hujan. Begitupun, pola hidup masyarakat yang tak sehat seolah menjadi penyebab utama terjadinya musibah banjir. Maka tak heran,  jika kita melihat sungai-sungai yang ada, hanyalah tumpukan sampah yang menjadi pemandangannya. Kondisi airnya pun bercampur dengan limbah pabrik dan rumah tangga. Diperparah lagi dengan tidak adanya populasi ikan-ikan penjaga ekosistem sungai.

Berbeda lagi dengan masyarakat yang masih memfungsikan sungai sebagai sumber kehidupan. Air sungai dijadikan sebagi keperluan pemenuhan kehidupan sehari-hari seperti memasak, mencuci, mandi, serta pengairan irigasi sawah dan ladang. Bahkan di sebagian wilayah,  masih ditemukan masyarakat yang menjadikan air sungai sebagai pembantu ketersediaan tenaga listrik sehari-hari.

Kurangnya wawasan terhadap keberadaan sungai, terutama bagi masyarakat modern (urban) menjadi salah satu penyebab utama terjadinya banjir. Bagi mereka, keberadaan sungai disinyalir hanya menjadi sumber malapetaka saja. Luapan air sungai menjadi momok yang menakutkan yang dapat mengakibatkan terjadinya banjir. Keberadaan sungai-sungai pun tidak lagi menjadi sumber penghidupan, melainkan menjadi  sumber kesengsaraan, sumber derita yang tak kunjung reda.. 

Budaya Air di Sunda
Dalam catatan sejarah, di Sunda terdapat sungai Cimanuk, yang menurut Sujarwo Tedjo, dalam buku Manuwara Ibu Budaya Jawa-Sunda (Tandi Skober, Bumen Pustaka Emas, 2013) merupakan pelabuhan kedua terbesar setelah Sunda Kelapa. Namun tragis, pada dekade tahun 1980-an sungai Cimanuk yang membelah kota Indramayu "dimatikan" karena dianggap penyebab banjir pada musim hujan. Sebagai solusinya saat itu adalah aliran sungainya dibelokan menuju laut lepas, menghindari kota Indramayu.

Tak seperti sungai Musi bagi Palembang atau sungai Chao Praya di Bangkok yang disikapi sebagai peninggalan sejarah dan diolah menjadi aset pariwiata. Sungai Cimanuk terkesan "dibunuh" menemui ajalnya. Padahal Cimanuk bukan hanya mengalirkan air penyubur peradaban saja, tetapi juga sebagai saksi sejarah berkembangnya, jatuh bangunnya, kerajaan-kerajan besar Sunda dan Jawa. Letaknya yang strategis, di antara kedua kerajaan tersebut menjadi benang perajut jalinan dua kebudayaan besar itu.

Urang sunda sangat menjunjung tinggi keberadaan air. Maka tak heran banyak nama tempat di Sunda memakai awalan ci atau cai seperti Cicaheum, Cicalengka, Cibaduyut, dan yang lainnya. Mengapa air begitu vital bagi kehidupan masyarakat Sunda? Hal itu dapat dipahami dari cara hidup mereka sebagai petani, baik yang berladang maupun yang bersawah. Pertanian didasarkan pada air. Perkawinan antara tanah dan air melahirkan kesuburan, kehidupan manusia itu sendiri. Masyarakat peladang menggantungkan ketersediaan airnya pada curah hujan, sedangkan masyarakat pesawah tergantung pada pasokan air sungai.

Menurut Jakob Sumardjo, dalam buku Sunda Pola Rasionalitas Budaya (Kelir, 2015), air pada zaman Hindu-Indonesia disebut tirta amerta. Tirta adalah air. Amerta merupakan bentuk negasi dari merta, yang berarti kematian. Jadi tirta amerta adalah air antikematian atau lazim dikenal air kehidupan. Air merupakan berkah dan setiap berkah itu suci, bersifat sakral, murni, dan halus. 

Bahwa air adalah tirta amerta bagi masyarakat Sunda dapat disimak dari gejala budaya mereka, yaitu budaya ladang dan sawah. Akibat wilayahnya yang berbukit, maka aliran-aliran sungai di Pasundan begitu banyak. Mungkin itulah sebabnya, banyak kampung dan kota bernama sungai, ditandai dengan awalan ci atau cai.

Masyarakat Sunda mempunyai cara tersendiri dalam melestarikan keberadaan air sungai agar tetap lestari dan tidak tercemar. Dalam pantun-pantun Sunda, atau ungkapan masyarakat pedesaan zaman dulu terdapat istilah "pulo" atau "kabuyutan" yaitu daerah sakral, suci, keramat, dan khusus, yang tak bisa dikunjungi oleh setiap orang. "Pulo atau "kabuyutan" itu biasa dibangun di tempat patimuan (pertemuan) dua sungai. 

Maka tidak heran orang Sunda zaman dulu ketika akan membuka pemukiman baru, selalu berada di antara dua sungai seperti leuwi atau parung. Air dari mata air "kabuyutan" itu dinilai keramat dan mendatangkan berkat, selain menjadi pembatas sekaligus pelindung dari ancama orang luar. Oleh karenanya air sungai menjadi berkah yang akan membawa kelestarian hidup di dunia.

Pada masyarakat Sunda primordial, terdapat sumur atau sungai yang dikeramatkan, dan biasanya dikitari pohon-pohon besar yang sengaja dirindangkan. Seperti Tujuh Sumur Keramat di Linggarjati, Kuningan, yang sampai sekarang masih diziarahi. Sungai, mata air, ataupun sumur keramat lainnya pun hampir tersebar di tempat-tempat penziarahan yang ada di wilayah Pasundan seperti di Makam Kian Santang (Garut), Astana Gede Kawali (Ciamis), Kabuyutan Cipaku Darmaraja (Sumedang), Kabuyutan Ciwidey (Bandung), dll. Sebelum berziarah, masyarakat biasanya singgah terlebih dahulu ke sungai atau ke mata-mata air tersebut. Hal serupa juga berlaku pada acara ritual semisal hajat lembur, munggahan, nadran, bersih desa, dan muludan. 

Begitulah cara tradisi karuhun (leluhur) Sunda dalam memperlakukan air, sungai, dalam kehidupannya, sebagai bagian dari mupusti (melestarikan) alam agar tetap bermanfaat bagi kehidupan. Hasilnya, sungai-sungai atau mata air yang dianggap keramat hingga kini masih tetap lestari, tetap memberikan manfaat bagi keberlangsungan kehidupan. Tidak seperti sungai-sungai lain yang hanya menimpakan derita bagi masyarakat sekitarnya.

Penulis adalah pemerhati Budaya Sunda