Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Umroh, Aktivis Pengajian Muslimat NU dari Sukawera

Umroh, Aktivis Pengajian Muslimat NU dari Sukawera
Umroh, aktivis pengajian Muslimat Nu dari SUkaera, Kertasmaya, Indramayu. (Foto: NU Online Jabar/Khanna Riayatul Maula
Umroh, aktivis pengajian Muslimat Nu dari SUkaera, Kertasmaya, Indramayu. (Foto: NU Online Jabar/Khanna Riayatul Maula

Indramayu, NU Online Jabar
Umroh, kata itu pasti tidaklah asing bagi umat Islam karena terkait dengan ibadah ke tanah suci yang banyak diidam-idamkan untuk dapat dilaksanakan, tetapi Umroh yang satu ini adalah nama seorang anggota Muslimat NU di Desa Sukawera Kecamatan Kertasmaya Kabupaten Indramayu.  

Perempuan kelahiran tahun 1968 ini aktif mengikuti berbagai kegiatan Muslimat NU. Ia memiliki segudang cerita saat mengikuti kegiatan rutin Jam’iyahan. Kepada NU Online Jabar, Selasa (24/11) Umroh mengisahkan beberapa pengalaman unik dan manfaat  mengikuti Jam’iyah Muslimat setiap hari Selasa, yang digelar secara bergilir di berbagai desa se-Kertasmaya.

“Saya mulai aktif  mengikuti Jam’iyahan Muslimat pada tahun 2008, ketika anak saya yang keempat masih kelas satu MI. Karena saya ingat, selalu membawa anak yang paling kecil itu untuk mengikuti jamiyahan. Walaupun ketika sampai di acara, dia hanya ikut makan kemudian tidur di pangkuan saya,” ungkap Umroh sambil tersenyum tipis.

“Tujuan saya ikut kegiatan Muslimat NU adalah mencari berkah. Kami sekeluarga adalah keturunan NU. Warga Sukawera juga dikenal sebagai masyarakat yang terus menjaga tradisi dan amaliyah Ahlussunnah wal Jamaah. Kata orang tua saya dulu, harus ikut NU biar mendapatkan berkah dari para kiai,” tambahnya.

Menurut Umroh dengan aktif menjadi anggota Muslimat NU dirinya banyak mendapatkan pengalaman baru karena sering mengikuti kegiatan keliling ke berbagai desa yang ada di Kecamatan Kertasmaya, selain itu juga ia banyak berkenalan dengan anggota Muslimat lainnya.

“Alhamdulillah senang rasanya bisa punya banyak saudara, kita juga banyak mendapatkan ilmu dari pengajian-pengajian yang rutin dilaksanakan oleh pengurus Muslimat NU. Bagi kami ibu-ibu di desa, mengikuti kegiatan Muslimat itu bisa menjadi hiburan tersendiri  di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga atau pekerjaan lainnya. Kami bisa bercanda dan bergurau dengan lepas saat pengajian berahir,” tutur ibu dari empat orang anak ini.

Salah satu pengalaman menarik dan membuat ibu-ibu anggota Muslimat NU tak bisa menahan tawa adalah saat jam’iyahan yang digelar di Sukawera. Saat itu hidangan yang biasa disajikan ternyata masih setengah matang dan beberapa terlihat gosong. Saat itu jadwal jam’iyah rutinan di masjid Masjid Jami Nurul Huda Sukawera. Buras (Bubur Beras) yang disiapkan ternyata rasanya tidak seperti biasa. Maka buras yang gagal itu jadi bahan ledekan di antara ibu-ibu Muslimat. Tentu diiringi gelak tawa sampai terpingkal-pingkal.

Umroh kembali menuturkan, acara mingguan yang diadakan Muslimat NU sangat bermanfaat karena salah satu dari isi acaranya adalah  belajar mengaji dengan tajwid dan makhorijul huruf yang benar. 

“Kegiatan tersebut mampu mengasah kemampuan ibu-ibu dalam membaca ayat suci Al-Qur’an yang baik dan benar. Terkadang dalam event tertentu, isinya bukan hanya belajar mengaji, tetapi kegiatan marhabanan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan lain sebagainya,” ungkap Umroh.

Kegiatan ini juga berguna untuk mempererat tali silaturahim. Menjadi contoh untuk para pemuda masa kini untuk mengisi kesehariannya dengan hal-hal yang positif. 

“Juga pelajaran bagi anak saya yang selalu dibawa ketika kegiatan tersebut,” tutur ibu rumah tangga yang dikenal ramah ini.

Ketua Muslimat NU Ranting Sukawera Hj Mahmudah membenarkan apa yang disampaikan oleh Umroh. Menurutnya, kegiatan yang dilaksanakan oleh Muslimat sengaja dilakukan secara variatif. Selain untuk menghindari kejenuhan, juga untuk memberikan pengajaran tentang berbagai hal kepada anggotanya.

“Dalam acara Muslimat NU rutinan mingguan, setidaknya dihadiri kurang lebih seratus orang. Tetapi ketika ada event khusus tertentu, misalnya Maulid Nabi, kurang lebih dihadiri oleh 1.000 Muslimat NU dari seluruh desa se-Kertasmaya. Mereka sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut, terutama Ibu Umroh yang tak pernah ketinggalan,” ujar Ketua Hj Mahmudah.

Menurut Mahmudah, kunci kesuksesan anak-anak terletak pada ibunya. Dengan aktif mengikuti kegiatan Muslimat NU, ibu-ibu di Sukawera bisa mendorong anak-anaknya menjadi generasi penerus yang unggul, menjadi kader-kader Nahdlatul Ulama yang dapat melanjutkan perjuangan para kiai NU di masa depan.

Pewarta: Khanna Riayatul Maula
Editor: Iing Rohimin