Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Transformasi Organisasi PMII, Resistensi dan Solusinya (3-Habis)

Transformasi Organisasi PMII, Resistensi dan Solusinya (3-Habis)
PMII
PMII

Oleh Heri Kuswara

Solusi Resistensi terhadap Transforamasi 
Sebatas pengetahuan saya, setidaknya ada lima solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan resistensi terhadap program transformasi organisasi, kelima solusi ini, saya paparkan sebagai berikut:

1. Membangun Pola Komunikasi Efektif
Apa sebenarnya yang harus dikomunikasikan? Komunikasi merupakan istilah yang seringkali kita dengar terutama dalam berorganisasi begitu juga istilah sosialisasi, koordinasi, konfirmasi dan si.. si.. yang lainnya. Sebagai konseptor (leader atau police maker lainnya) seringkali mengkomunikasikan program-program perubahan, target dan  keuntungan dll. Seharusnya hal terpenting yang wajib dikomunikasikan adalah the logic of change, mengapa perlu perubahan. Manusia rela untuk berubah jika perubahan itu akan menguntungkan diri dan organisasinya. Hal Ini akan mudah dipahami melalui logika yang mudah diterima dan rasional (umumnya), bukan melalui doktrin (doktrinasi).

Sementara kenyataannya yang sering kita jumpai adalah bias dalam menterjemahkan dan memahami keuntungan ini, sering berjangka pendek. Sebagai contoh pada transformasi teknologi tentu ini sebuah terobosan inovasi yang maha dahsyat, dengan teknologi yang berbasis online dan digital tentu akan sangat memudahkan aktifitas/kegiatan organisasi tanpa terbatas ruang dan waktu namun tidak sedikit yang resisten dengan transformasi ini, mengingat faktor-faktor resistensi di atas.

Oleh karenanya membangun dan menumbuhkan pola komunikasi efektif, persuasif dan masif dengan memahami berbagai latarbelakang kader yang berbeda ini penting dilakukan sebagai ikhtiar untuk menanamkan pesan bahwa transformasi ini sangat bermanfaat dan sangat menguntungkan diri, organisasi dan umat. 

2. Partisipasi Semua Pihak
Setiap individu akan memiliki rasa sence of belonging, sence of critis, dll, manakala ada keterpanggilan ikut merumuskan transformasi atau perubahan tersebut. Ini mudah dipahami karena individu yang ikut “merubah” sangat jelas tidak akan resisten terhadap perubahan tersebut. Asalkan perubahan tersebut didapat dari hasil konsensus bersama. Oleh karenanya keterlibatan da keterwakilan semua pihak dalam setiap program transformasi organisasi ini penting dilakukan untuk meminimalisir munculnya resistensi. Sebagai contoh transformasi kaderisasi dalam rangka membentuk lembaga-lembaga profesi di lini profesional, dalam perumusan, persiapan dan pelaksanaanya tidak hanya didiskusikan pada tingkat pengurus besar/pusat atau pengurus inti saja, namun bagaimana melibatkan kader yang mungkin statusnya hanya sebagai anggota pada tingkatan terendah tapi mempunyai kepakaran yang luar biasa, harus diakomodir untuk turut hadir dan berpartisipasi dalam proses pembentukan lembaga-lembaga profesi tersebut. Dengan demikian mereka bukan hanya ikut bergabung dalam lembaga profesi tersebut, namun turut serta hadir dan berkontribusi memberikan berbagai ide dan gagasan sebagai bahan masukan dan pertimbangan untuk organisasi sehingga mereka merasa turut terpanggil, turut memiliki dan bertanggungjawab atas keberlangsungan lembaga profesi yang dibentuk.

3. Ketersediaan Fasilitas dan dukungan 
Program transformasi organisasi pada berbagai lini/bidang dapat berhasil sukses, manakala ketersediaan fasilitas dan kesiapan Sumber Daya Manusian (SDM) terpenuhi dengan baik. Oleh karenanya ketersediaan fasilitas (sarana, prasarana, perlengkapan, peralatan, media, dan sarana pendukung lainnya) akan dapat mengurangi bahkan meniadakan resistensi terhadap program transformasi. Yang tidak kalah pentingnya adalah kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai administrator (pengelola) dan sebagai user/client (Pengguna) wajib dipersiapkan sebelum program transformasi itu digulirkan. Berbagai pelatihan/training, workshop, seminar baik yang berhubungan dengan soft skill (merubah/memperbaiki mindset/karakter) maupun yang berhubungan dengan hard skill berupa ilmu, pengetahuan, keterampilan dan keahlian yang harus disiapkan dalam program transformasi harus dilakukan secara terencana, terstruktur, terprogram dan tersistem dengan baik. Dengan berbagai kegiatan pengembangan SDM ini, program transformasi yang akan dilakukan tentu bukan saja akan menghilangkan resistensi namun juga akan mendapatkan apresiasi dan dukungan dari semua pihak.

4. Memberikan Privilege Atas Adanya Program Transformasi 
Memberikan privilege kepada seseorang/departemen/organisasi pada berbagai tingkatan bukan berarti menganaktirikan yang lainnya, ini penting dilakukan agar program transformasi dapat berjalan dan sukses. Sebagai contoh  Pada Program Transformasi Global Organisasi yang dilakukan oleh PB PMII, salah satunya adalah terus menambah (membentuk) PCI PMII di berbagai negara, agar PMII bisa mencakup seluruh teritori yang ada di dunia. Tentu PB PMII sudah mempersiapkan Peraturan atau mekanisme Organisasi yang dapat memudahkan proses pendirian PCI-PCI PMII diberbagai negara di dunia, mungkin peraturan dan mekanisme ini tidak sama dengan syarat pembentukan Pengurus Cabang di Indonesia. satu lagi PB PMII akan terus mendorong kader-kadernya untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri agar ada knowledge and experience transfer kepada seluruh kader PMII di Indonesia. program trasnformasi ini pun harus memberikan privilage kepada kader-kader didaerah tiga T (3T) yaitu Terdepan, Terpencil, Tertinggal dan kader-kader yang mungkin saja dari sisi akademik masih kurang mumpuni namun mempunyai motivasi dan potensi yang besar untuk mengabdi NKRI.

5. Coercion and funishment
Cara ini memang tidak populis, kurang bijak dan terlihat otoriter. Namun demikian sebagai pemegang amanah organisasi, paksaan dengan berbagai cara, tentu degan cara-cara yang baik dan terbaik harus terus dilakukan agar semua kader dan semua tingkatan organisasi dapat turut mensukseskan program transformasi organisasi. Terkadang  dlilakukan dengan penggunaan “power” dan bahkan ancaman. Begitu juga pemberian funishment pun dengan sangat terpaksa harus diberikan sebagai cara terakhir, bila cara lain tidak berhasil untuk menggiring ke dalam program transformasi tentu sekalipun funishment namun bentuknya harus berupa penyadaran/pendidikan. Sudah barang tentu funishment yang diberikan disesuaikan dengan skala resistensi yang muncul. 

Selain lima solusi sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan resistensi terhadap program transformasi organisasi di atas, saya meyakini begitu banyak cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi resistensi terhadap program transformasi organisasi.

Mengatasi resistensi hanyalah salah satu aspek dari managing change. Pemahaman terhadap aspek resistensi ini, bukan hanya perlu bagi agen of change, tapi bagi kita semua sebagai anggota suatu organisasi. Alasannya adalah pertama, karena perubahan itu akan terus terjadi sampai dunia terhenti. Kedua resistensi pada dasarnya natural. Seringkali, tanpa kita sadari, karena respon yang natural itu, kita menjadi begitu menolak perubahan. Dengan analisa sederhana di atas kita dapat merenung, mencoba mencari tahu, mengapa kita resist.

Dengan mengetahui penyebabnya, kita menjadi lebih terbuka terhadap perubahan, dan bukan tidak mungkin kita menjadi agent of change bagi diri kita sendiri. Kita memang hanya dapat berubah jika kita setuju untuk itu. Sebagaimana Immanuel Kant mengatakan “seseorang disebut merdeka jika kewarasan akalnya menyetujui keputusan yang diambilnya”. 

Terakhir. Saya sagat meyakini dengan semangat muda membara, kuatnya kesungguhan, kepercayaan diri yang tinggi, team work yang solid dan sinergitas serta kolaborasi antar lini/tingkatan dan antar kader, Program transformasi organisasi yang sedang dan akan dilakukan oleh PB PMII pasti berhasil dan sukses sebagai buah maha karya persembahan dari PMII untuk Indonesia dan dunia.  

Penulis adalah anggota PMII Bekasi 94, Jakarta Pusat 98