Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Tradisi Syukur Anak Bisa Membaca Al-Qur’an di Indramayu

Tradisi Syukur Anak Bisa Membaca Al-Qur’an di Indramayu
Khatmil Qur'an Indramayu (Foto: NU Online Jabar/Abdul Ghoni)
Khatmil Qur'an Indramayu (Foto: NU Online Jabar/Abdul Ghoni)

Indramayu, NU Online Jabar
Sang senja mulai mengepakkan sayapnya, gelap mulai menyambut datangnya malam, suasana kampung di ujung selatan Kabupaten Indramayu nampak berbeda dari malam-malam sebelumnya, ratusan santri dari berbagai musholla dan pesantren di Desa Cangko Kecamatan Tukdana, Indramayu mulai berkumpul di rumah kepala desa, Ahad (15/11) dan bersiap melakukan arak-arakan mengelilingi kampung mengiringi seorang santriwati yang akan mengikuti Khatmil Qur’an.

Ratusan santri nampak sumringah dengan senyum ceria dan wajah polos penuh riang gembira mulai bergerak secara perlahan dengan melantunkan shalawatan diiringi para ustadz dan ustadzah serta warga masyarakat lainnya yang membawa lampu, sontak saja seluruh warga kampung keluar rumah menyambut arak-arakan tersebut apalagi ketika terdengar dentuman suara drumband yang memecah keheningan malam di desa tersebut. 

Setelah melakukan pawai keliling kampung, seluruh peserta pun kembali ke rumah sang kepala desa dan bersiap untuk mengikuti prosesi Khatmil Qur’an dengan rangkaian acara pembacaan beberapa surat tertentu dalam Al-Qur’an dan doa Khatmil Qur’an kemudian dilanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan oleh seorang penceramah.

Khatmil Qur’an atau khataman Al-Qur’an adalah salah satu tradisi masyarakat Indramayu yang masih terus dijalankan hingga saat ini. Tradisi tersebut digelar untuk mensyukuri keberhasilan seorang anak dalam belajar Al-Qur’an. Sang anak yang mengikuti prosesi Khatmil Qur’an itu bernama Dwi Valencia Pratiwi, puteri kedua Kuwu (Kepala Desa) Cangko, Fatkurohman dan Jujum Jumaroh.

Dwi Valencia Pratiwi didampingi beberapa santriwati lainnya mulai membacakan beberapa surat dalam Al-Qur’an, dengan suara merdu dan makharijul huruf yang tepat bacaan Dwi disimak oleh ratusan warga yang hadir dan disaksikan para kiai serta tokoh masyarakat setempat. Sementara ayah dan ibu Dwi Valencia Pratiwi nampak tak kuasa menahan haru dengan wajah tertunduk berusaha menahan butiran kecil yang mulai mengalir dari sudut matanya, menyaksikan sang puteri tercinta membacakan ayat-ayat suci.

Dwi Valencia Pratiwi ahirnya berhasil membacakan seluruh ayat dan surat yang lazim dibaca dalam setiap Khatmil Qur’an seperti surat Al-Fatihah, beberapa surat pendek, awal Surat Al-Baqarah, Ayat Kursi, Ahir Surat Al-Baqarah, Surat Al-Ihlas, Falaq Binnas dan diakhiri dengan doa Kahtmil Qur’an yang diamini seluruh hadirin yang menyaksikan prosesi Khatmil Qur’an yang mengharukan tersebut. 

Kuwu Desa Cangko, Fatkurohman yang juga ayah Dwi Valencia Pratiwi dalam sambutannya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada para ustadz dan ustadzah di Rumah Ngaji Assaudah yang telah membimbing puterinya menamatkan belajar Qur'an tahap satu.

“Tiada kata yang terindah yang patut saya sampaikan selain ucapan terima kasih yang terhingga kepada para ustadz dan ustadzah yang telah membimbing puteri kami sehingga bisa membaca Al-Qur’an dan bisa melaksanakan proses khataman ini, semoga ananda menjadi generasi Qur’ani, menjadi anak yang shalihah yang berbakti kepada agama, bangsa, negara dan kepada kami selaku kedua orang tuanya,” tutur Kuwu Fatkurohman sambil menahan rasa harunya.

Sementara, KH Hidayat dalam sambutannya menjelaskan,  tradisi Khatmil Qur'an harus terus dijaga dan dijalankan untuk memupuk semangat anak-anak dalam belajar membaca Al-Qur’an sehingga mampu membangkitkan generasi yang Qur’ani. 

“Tradisi ini memberikan ibrah kepada kita semua terutama untuk anak-anak, agar mampu membaca Qur'an karena itu bagian dari proses pembentukan anak saleh dan salehah serta mewujdukan generasi qur’ani. Di sisi lain Qur'an yang dibaca kelak akan memberikan syafaat kepada kita yang membaca maupun yang mendengarkan,” ungkapnya.

Sementara, Ketua MWCNU Kecamatan Tukdana, H Ahmadi kepada NU Online Jabar menuturkan, tradisi Khatmil Qur’an memang masih terus dijalankan oleh Nahdliyin di Kecamatan Tukdana, hal itu semata-mata untuk memotivasi para santri dalam belajar membaca Al-Qur’an sekaligus sebagai penghargaan atau semacam wisuda kepada mereka yang telah berhasil mengkhatamkan kitab suci.

“Tradisi arak-arakan keliling kampung dalam acara Khatmil Qur’an sengaja digelar untuk memberikan kegembiraan kepada para santri juga mengajak masyarakat untuk mendidik anaknya mampu membaca Al-Qur’an dengan mengirimkan ke musholla, tempat ngaji atau pondok pesantren, sehingga generasi penerus akan mampu menjadi generasi yang Qur’ani,” kata H Ahmadi.

Warga yang hadir dalam acara tersebut sangat antusias dan gembira mengikuti kegiatan Khatmil Qur'an, salah seorang  pengunjung, Saodah mengatakan, dirinya sangat tertarik dengan kegiatan ini dan menilai bahwa kegiatan tersebut bisa menarik minat anak-anak untuk giat belajar Al-Qur’an. 

“Tradisi arak-arakan dan Khatmil Qur’an ini bisa sangat memotivasi anak-anak dalam belajar membaca Al-Qur’an, semoga nanti saat anak saya juga khatam, akan bisa dilaksanakan acara Khatmil Qur’an yang lebih meriah,” pungkasnya.

Pewarta: Abdul Goni
Editor: Iing Rohimin