Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Tradisi Mandi di Sumuradem di Bulan Mulud

Tradisi Mandi di Sumuradem di Bulan Mulud
Warga antre di Sumuradem (Foto: NU Online Jabar/Madropi)
Warga antre di Sumuradem (Foto: NU Online Jabar/Madropi)

Indramayu, NU Online Jabar
Masyarakat Desa Sumuradem Kecamatan Sukra Kabupaten Indramayu memiliki tradisi yang diwariskan secara temurun dari nenek moyang mereka saat memasuki Bulan Rabiul Awal atau biasa dikenal dengan bulan Maulid. tradisi tersebut berupa mandi di sumur pada malam 12 Rabiul Awal. 

Nama sumur itu adalah Sumuradem yang kemudian diabadikan menjadi nama desa, yakni Desa Sumuradem karena memang sumur itu airnya adem (tawar) dan menjadi sumber mata air warga sejak dahulu kala. Desa Sumuradem sekarang terbagi menjadi dua bagian, yaitu Desa Sumuradem Timur dan Sumuradem Barat dengan jumlah penduduk meencapai 5.797 laki-laki dan 5.811 perempuan. 

Sumur tersebut terletak di Dusun Janaka RT 03 RW Desa Sumuradem Timur. Posisi sumur berada di sebuah bangunan permanen yang sengaja dibangun untuk melindungi keberadaan sumur sekaligus sebagai upaya pelestarian situs dan tempat untuk berdoa.

Pada tanggal 11 Rabiul Awal, sehabis Shalat Ashar warga berbondong-bondong memadati halaman sumur untuk melihat secara langsung moment bersejarah itu. Kemudian ada pembacaan Maulid Barzanji dan tahlil bersama untuk mengirimkan doa buat para leluhur di sela-sela hiruk pikuknya para pengunjung yang berdesk-desakan di pintu masuk. Tahlil dan doa dipimpin oleh kiai sepuh setempat dan dihadiri tokoh masyarakat serta warga yang akan mandi serta mengambil air. 

Setelah prosesi doa bersama selesai maka warga yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, tua muda dan anak-anak langsung masuk bergantian untuk mandi dan mengambil air. Warga yang datang mengikuti tradisi maulid mandi di Sumuradem itu bukan hanya dari setempat, melainkan juga dari beberapa desa lain di Kecamatan Sukra dan sekitaranya. 

Juru kunci sumur itu, Item (57) Kepada NU Online Jabar, Selasa (03/11) menjelaskan, berdasarkan penuturan dari orang tua terdahulu bahwa sejarah sumuradem bermula pada zaman dahulu ada seorang kakek-kakek pengembara yang kehausan dan meminta minum kepada warga. Kemudian warga menunjukkan ke sebuah mata air yang berada di tengah hutan dan saat sang kakek menemukan mata air itu ternyata berbentuk seperti sumur. Saat diminum ternyata airnya sangat sejuk dan rasanya tawar, maka sang kakek berkata, “Ini sumur adem dan airnya berkah”.

“Sejak kepergian kakek dari sumur itu kemudian banyak warga berdatangan hingga terbentuk sebuah pemukiman yang kemudian dikenal dengan nama Desa Sumuradem. Selain air dari sumur itu terkenal banyak berkahnya, mata airnya juga tidak pernah kering meskipun pada saat musim penghujan,” tutur Item.

Item menjelaskan, dulunya sumur itu dibuka setiap saat dan ratusan orang selalu datang setiap hari, sehingga para kiai dan sesepuh desa menyepakati agar sumur itu ditutup dan hanya dibuka pada malam 12 Rabiul Awal setiap tahun untuk tabarrukan kepada hari istimewa yakni Maulid Nabi Muhammad SAW. Penutupan sumur sengaja dilakukan semata-mata untuk menjaga keberlangsungan sumber mata air juga untuk menjaga aqidah umat agar tidak mengkultuskan keberadaan sumur sehingga tergelincir menjadi tindakan musyrik.

“Para kiai dan sesepuh desa setiap tahun selalu berkumpul dan melakukan doa bersama untuk menandai pembukaan sumur, para pengunjung semenjak habis waktu Shalat Ashar tiba sampai pukul 12 malam terus berdatangan untuk mandi dan membawa air dengan berharap berkah dari sumur keramat tersebut,” ujar Item.

Salah seorang pengunjung, Warmen (59) mengatakan, dirinya selalu berusaha ikut mandi di sumur Desa Sumuradem setiap tahun. Padahal ia harus rela berdesakan dengan pengunjung lain. 

“Kadang saya bisa ikut mandi dan terkadang juga tidak bisa mandi, tetapi yang pasti saya selalu membawa ember atau jerigen untuk mengambil dari sumber mata air itu kemudian dibawa pulang dan dipergunakan untuk mandi atau minum sekeluarga,” kata Warmen.

Sementara, Ketua MWCNU Kecamatan Sukra, Nasrudin menjelaskan, tradisi masyarakat dari berbagai desa mandi di sumur tersebut juga dialami dia sendiri sewaktu kecil karena dia sendiri asli orang Sumuradem.

“Tradisi seperti ini sebagai adat budaya lokal yang harus kita lestarikan. Selain itu kelestarian sumber mata airnya juga perlu dijaga jangan sampai terkotori. Lebih dari itu juga aqidah umat harus dijaga, maka kami dari jajaran ulama dan tokoh masyarakat sengaja membuat acara peringatan maulid sekaligus pembukaan sumur keramat dengan diisi berbagai kegiatan mulai dari pembacaan Al-Qur’an, Barzanji, tahlilan dan doa bersama, agar tradisi mandi dan mengambil air dari sumur yang kita lakukan ini senantiasa mendapat ridho dan berkah dari Allah SWT,” katanya.  

Salah seorang ulama, KH Abdul Qodir (70) ketika ditanya soal tentang kebiasaan mandi di sumur tersebut yang sampai saat ini masih bertahan dan menjadi kebiasaan tahunan masyarakat setempat. Dirinya bersama para tokoh masyarakat setempat memberikan pengetahuan kepada warga agar meluruskan niat dan  jangan sampai terjebak pada perbuatan syirik serta salah persepsi.

“Segala permintaan atau doa tetap kepada Allaah SWT, sedangkan mandi dan mengambil air untuk dibawa pulang hanya sebagai washilahnya saja,” pungkas KH Abdul Qodir.

Pewarta: Madropi
Editor: Iing Rohimin