Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Tokoh Agama Tidak Perlu Ikutan "Menggoreng" Arahan Pangkostrad

Tokoh Agama Tidak Perlu Ikutan "Menggoreng" Arahan Pangkostrad
KH Ahmad Ishomuddin (Kiri) dan Letnan Jendral TNI Dudung Abdurrahman (Kanan).
KH Ahmad Ishomuddin (Kiri) dan Letnan Jendral TNI Dudung Abdurrahman (Kanan).

Oleh: KH Ahmad Ishomuddin 
Sore hari Kamis, (16/9) sekitar pukul 17:45 WIB  tiba-tiba saya dikejutkan oleh telpon dari Bapak Letnan Jenderal TNI Dudung Abdurrahman, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad). Isi pembicaraan beliau antara lain menjelaskan kepada saya tentang konteks, substansi dan tujuan arahannya sebagai Pangkostrad di hadapan para prajurit TNI Batalyon Zipur 9 Kostrad, Ujungberung, Bandung, Jawa Barat, pada Senin, tanggal (13/9) beberapa hari yang lalu.

Arahan itu jelas bukan selaku pribadi muslim, melainkan selaku Pangkostrad yang ditujukan khusus kepada para para prajurit TNI yang identitas agamanya amat beragam.

Sebagai pembuka beliau mengucapkan salam dari setiap agama berbeda itu secara lengkap. Pada kesempatan itu, antara lain beliau  mengingatkan para prajurit agar bijak dalam bermedia sosial dan jangan gampang terprovokasi hoaks. Selanjutnya, beliau juga  selaku Pangkostrad juga mengajak kepada semua prajurit TNI itu agar menghindari sikap fanatik berlebihan terhadap suatu agama, karena semua agama benar di mata Tuhan. 

Bagian yang saya sebut terakhir "jangan fanatik berlebihan terhadap suatu agama, karena semua agama benar di mata Tuhan" adalah pernyataan beliau yang banyak diperbincangkan oleh netizen di banyak media sosial, bahkan banyak mendapat tanggapan, dikritik, disalahpahami, diplintir, "digoreng", hingga celaan dari segelintir tokoh muslim.

Saya menilai bahwa pernyataan Bapak Letjen TNI Dudung Abdurrahman sebagai Pangkostrad sudah benar, tepat, sama sekali tidak salah, sudah seharusnya begitu, hal biasa saja, dan bukan masalah yang patut dibesar-besarkan, apalagi untuk "digoreng-goreng"! Letak permasalahannya bukan berada pada pernyataan Bapak Pangkostrad, melainkan pada buruk sangka yang bercokol dalam pikiran setiap orang yang tidak cerdas memahami substansi, makna, konteks, dan tujuannya.

Dalam Islam, agama yang saya Pak Dudung, dan mungkin juga anda anut pun, diingatkan bahwa berlebihan (melampaui batas) itu perbuatan tercela yang dilarang Allah. Fanatik berlebihan terhadap agama yang kita anut bisa berakibat buruk terhadap pergaulan dengan sesama anak bangsa yang identitas agamanya  berbeda-beda, yang semuanya wajib menjaga persatuan dan keutuhan NKRI. Meyakini kebenaran agama yang dianut merupakan keniscayaan dari setiap penganut agama tertentu. Sebaliknya, fanatisme yang berlebihan dari penganut suatu agama tertentu meniscayakan sikap arogansi, suka mendiskriminasi, merasa benar sendiri, mudah menghakimi keyakinan orang lain, dan menafikan sikap saling menghormati antar penganut agama yang berbeda.

Saya yakin niat dan tujuan arahan Bapak Dudung Abdurrahman sebagai Pangkostrad di hadapan para prajurit TNI itu baik dan benar. Dan kita pun mengenali beliau bukan saja sebagai salah seorang tokoh besar dan sangat berpengaruh di lingkungan TNI, tetapi juga tokoh penting yang berpengaruh besar di Republik Indonesia ini. Jangan pernah meragukan kecintaan dan komitmen beliau terhadap persatuan dan kesatuan NKRI. Melihat sepak terjangnya yang terukur, nyata bahwa beliau seorang pemimpin yang rendah hati, disiplin, tegas, berani mengambil keputusan, tenang,  berwibawa, berhati-hati tidak sembarang berbicara dan berbicara sembarangan, demikian juga dalam bertindak. Pendek kata, rakyat Indonesia untuk masa depan yang lebih baik membutuhkan  pemimpin hebat seperti Bapak Letjen TNI Dudung Abdurrahman.

Penulis adalah salah seorang Rais Syuriyah PBNU