Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Tiga Pekerjaan Rumah Gus Yaqut sebagai Menteri Agama

Tiga Pekerjaan Rumah Gus Yaqut sebagai Menteri Agama
Gus Yaqut mencium tangan Habib Zein Umar bin Smith. (FB Yaqut Cholil Qoumas)
Gus Yaqut mencium tangan Habib Zein Umar bin Smith. (FB Yaqut Cholil Qoumas)

Oleh Muhyiddin
Pekerjaan rumah Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) sebagai menteri agama sungguh banyak. Pertama, membereskan radikalisme dan mengembalikan agama sebagai inspirasi bukan sekedar aspirasi.
Hari-hari pertama Gus Yaqut sebagai Menteri Agama, diisinya dengan silaturahmi ke MUI, Rabithah Alawiyah, lalu ziarah ke makam orang tua dan kakeknya, diteruskan ke Gus Najih Maemun dan ke Gus Baha. 

Rangkaian silaturahmi ini adalah bentuk simbolis Gus Yaqut mengaplikasikan agama sebagai inspirasi. MUI adalah lembaga berkumpulnya ulama, Rabithah Alawiyah adalah organisasi para habaib, Gus Najih Maemun seperti diketahui sering jadi rujukan kelompok ‘Islam Kanan’, dan Gus Baha merupakan representasi ulama tradisional-moderat.

Dan jangan abaikan ucapan Selamat Natal dari Menteri Agama yang baru ini yang oleh banyak orang disebut sebagai ucapan terbaik yang pernah disampaikan seorang Menteri Agama sebagai representasi negara.

Baca juga: Gus Yaqut Cholil Qoumas Ketum GP Ansor Jadi Menteri Agama

Dalam hal ini, Gus Yaqut adalah penerjemah gagasan Gus Dur yang terangkum dalam kalimat “tidak penting apapun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.” 

Sejalan dengan gagasan Habib Ali al-Jufri yang dibukukan dalam Kemanusiaan sebelum Keberagamaan. Senafas dengan gagasan kakaknya, Gus Yahya Cholil Staquf tentang Islam Rahmah. Seturut dengan ide Gus Mus, pamannya, tentang akhlak sebagai keindahan agama.
Tantangan terberatnya tinggal soal struktural terkait hak-hak minoritas yang selama ini terkerangkeng dalam SKB 3 Menteri. 

Kedua, memberdayakan pondok pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan di bawah Kementerian Agama. Sudah mafhum di tengah khalayak bahwa anggaran pendidikan yang dikelola Kemenag, sangat kecil dibandingkan dengan anggaran pendidikan Kemendikbud. Belum lagi yang ada di kementerian lain, semisal pembangunan asrama santri yang berada di PUPR dengan program Rusunawa, dan LPDP Santri yang berada di bawah Kementerian Keuangan.

Perlu kerjasama yang solid antarkementerian agar anggaran-anggaran yang bisa dipakai untuk memberdayakan Pesantren dan Lembaga-Lembaga Pendidikan di bawah Kementerian Agama, terserap secara maksimal untuk kemajuan pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan di bawah Kemenag.

Tugas kedua ini juga berat, di tengah pandemi Covid sekarang. Perlu formula yang tepat. BOP, misalnya, bisa dilanjutkan tetapi dengan pola penyaluran yang lebih rapi hingga isu-isu angsulan (cashback) dan berbagai pemotongan tidak terjadi lagi.

Baca juga: Gus Yaqut Jadi Menteri Agama, Rijalul Ansor Jabar Optimis Radikalisme di Jabar Teratasi

Ketiga, membereskan tata kelola birokrasi. Birokrasi yang merezim sama berbahayanya dengan radikalisme. Bagaimana misalnya orang-orang yang sudah masuk temuan dan catatan Inspektorat Jendral Kementerian Agama, masih bisa memegang posisi-posisi basah, mereka hanya pindah posisi atau naik ruangan.

Birokrasi adalah tulang punggung pemerintahan. Tanpa birokrasi yang akuntabel, efektif, dan efisien,  visi misi presiden dan program-program Menteri akan berakhir sebatas rutinitas menghabiskan anggaran agar tidak jadi Silpa. 

Arsip-arsip temuan Itjen tersebut, bisa dibuka kembali, disisir, untuk mendapatkan orang-orang yang bersih dan berintegritas sehingga yang mengisi jabatan di Kemenag adalah betul-betul sosok terbaik yang menjadikan agama sebagai inspirasi. 

Lat but not least, semoga Gus Yaqut selalu ingat petuah Gus Dur tentang kementrian agama, “Seperti pasar. Di dalamnya apa saja ada, kecuali agama.”
Selamat bertugas, Gus.

Penulis adalah Sekretaris Redaksi jabar.nu.or.id