Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Terorisme Atas Nama Agama adalah Musuh Besar Islam dan Negara

Terorisme Atas Nama Agama adalah Musuh Besar Islam dan Negara
(Ilustrasi: NU Online)
(Ilustrasi: NU Online)

Bandung, NU Online Jabar 
Direktur Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid mengatakan radikal terorisme yang mengatasnamakan agama adalah fitnah bagi agama itu sendiri. Pasalnya paham dan tindakannya menyimpang dari tujuan dan substansi agama. 

Agama Islam misalnya, kata dia, mengajarkan rahmatan lilalamin, yang akhlakul karimah, yang menebar kedamaian, kebaikan dan kasih sayang.

Ia juga mengatakan bahwa radikalisme dapat  menimbulkan pecah belahnya umat Islam dan memunculkan Islam pobia yang menjadi fitnah bagi Islam sendiri.

“Radikal Terorisme ini tidak hanya menyimpang dari tujuan dan substansi Islam, melainkan dapat menimbulkan pecah belahnya umat Islam dan memunculkan Islam pobia, ketakutan terhadap Islam yang menjadi fitnah bagi Islam sehingga sering saya katakan Radikalisme Terorisme  mengatasnamakan Agama itu menjadi musuh Agama dan Negara,” ungkapnya dalam menyampaikan materi dalam Seminar Kebangsaan IPPNU secara virtual, pada Sabtu (30/1) siang.

Dalam kesempatan yang sama Ahmad Nurwakhid juga mengatakan gerakan radikal terorisme juga bertentangan dengan konsensus nasional bangsa Indonesia dan harus menjadi pusat perhatian untuk ditanggulangi.

“Gerakan radikal terorisme yang ingin dicapainya bertentangan dengan konsensus nasional bangsa Indonesia yaitu Pancasila, UUD 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga ini menjadi perhatian kita untuk menanggulangi secara bersama-sama,” katanya.

Masih kata Ahmad, ia mengatakan ancaman radikalisme di kalangan pelajar ini menjadi sangat relevan untuk dibahas.

“Tema Mencegah  Ancaman Radikalisme di Kalangan Pelajar sangat bagus dan relevan, karena kaum radikal ini menggeser generasi muda, baik itu generasi Z, yaitu umur 14-19 tahun maupun generasi milenial yaitu umur 20-39 tahun,” katanya.

Lanjutnya, memang anak muda ini sangatlah rentan sekali terpapar paham radika, karena anak-anak muda itu sedang masa pertumbuhan, masa mencari eksistensi dan jati diri emosional khususnya, belum terbangun secara sempurna menuju fase kedewasaan. 

“Kemudian biasanya  senang tantangan dan menyukai sesuatu yang berbeda,” pungkasnya.

Pewarta: Abdul Manap
Editor: Abdullah Alawi