Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Terkait Bantuan Dampak Covid-19 untuk Pesantren, PWNU Jabar: Wallahu Alam

Terkait Bantuan Dampak Covid-19 untuk Pesantren, PWNU Jabar: Wallahu Alam
Beranda gedung PWNU Jawa Barat Jalan Terusan Galunggung No 9, Kota Bandung (Foto: NU Online Jabar)
Beranda gedung PWNU Jawa Barat Jalan Terusan Galunggung No 9, Kota Bandung (Foto: NU Online Jabar)

Bandung, NU Online Jabar
Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah mengatakan, pandemi Covid-19 memang ada ada hikmah yang bisa kita petik bagi orang yang mau menafakurinya. Tapi di sisi lain juga ada sesuatu hal yang bisa kita jadikan bahan untuk bersama-sama kita evaluasi. Di antaranya adalah bantuan dampak Covid-19 untuk pesantren.

“Dunia pondok pesantren dan dunia para kiai dengan adanya Covid-19 ini ada dampaknya. Hanya dampak yang dialami oleh kalangan pondok pesantren dan para kiai ini tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintah sehingga ini yang saya istilahkan; kita ini sama-sama terdampak, tapi kita ini tidak terdaftar jadi penerima manfaat kebijakan pemerintah yang terkait dengan penanganan Covid-19,” jelasnya di Gedung PWNU Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Kalaupun ada, menurut kiai yang akrab disapa Gus Hasan ini, anggarannya sangat kecil. Informasi yang tersiar untuk pesantren hanya di angka 2, 9 triliun dari sekian ratus triliun. 

“Itu pun dengan perdebatan, diskusi yang melibatkan banyak orang, banyak orang, banyak pejabat, banyak menteri, banyak kiai, dan sangat alot, yang wallahu a’lam sampai hari ini sudah terdistribusikan atau belum, saya enggak tahu,” katanya. 

Kiai pengasuh Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 3 Cilamaya Kabupaten Karawang ini mengaku pernah berkomunikasi dengan pihak Kemenag Jawa Barat yang menginformasikan bahwa ada beberapa pesantren yang sudah menerima manfaat, tapi masih sebagian kecil. 

Katib Syuriyah PWNU Jawa Barat KH Usamah Manshur, sebagai pengasuh pesantren di Cirebon juga mengaku belum mendapat bantuan tersebut. 

“Saya sebagai salah seorang pengasuh pesantren di Jawa Barat pernah diminta dan mengajukan data tentang pesantren yang konon nantinya akan mendapatkan bantuan, tetapi sampai hari ini belum dan mungkin dan teman-teman yang lain juga sama belum mendapatkan berita itu. Tapi yang jelas pesantren sudah dimintai datanya. Nama pesantrennya, nama pengasuhnya, jumlah santri, itu udah semua. 

Ia menceritakan, pesantrennya kerepotan saat tahun ajaran baru. Santri baru dan santri lama kembali berdatangan ke pesantren. 

“Mereka masuk dalam waktu tiga hari berbondong-bondong dan kami terapkan itu protokol kesehatan, menyiapkan tempat cuci tangan, menyiapkan masker, segala-gala, malah saya minta bantuan kepolisian, minta bantuan Banser untuk mengatur agar santri, para orang tua, dan santri baru teratur dalam menjaga jarak,” jelasnya. 

Pada saat seperti itu, lanjut Kiai Usamah, pihak pesantren harus menyediakan tangki semprot disinfektan, menyiapkan tempat cuci tangan di sekitar masjid dan asrama.

“Saya beli baju APD dua, beli tangki semprotan dua, di rumah ada dua, empat. Kemudian tempat cuci tangan di pondok putra dan di pondok putri, masker bantuan dari berbagai instansi. Bagi yang pakai masker, pakai masker, alat ukur suhu, itu pesantren beli sendiri,” katanya.  

Oleh karena itu, Kiai Usamah mengajak agar pemerintah segera merealisasikan janjinya untuk protokol kesehatan di pesantren. 

“Pandemi ini belum usai masih ada dan bukti secara empiris dimana-maa masih banyak orang tertular Covid-19. Jadi saya berharap, mengimbau mengajak kepada pemerintah agar para masyaikh, para kiainya para asatidznya, para santri, pengurus-pengurusnya, terjaga,” katanya. 

Pewarta: Abdullah Alawi