Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Tentang Kematian yang Begitu Dekat

Tentang Kematian yang Begitu Dekat
ilustrasi: NU Online
ilustrasi: NU Online

Oleh. H. Muhtar Gandaatmaja 

Waktu umur tiga puluh, empat puluh atau lima puluh tahunan jarang ingat mati. Kini, masuk lansia, bayang-bayang itu kerap datang. Doa akan tidur Bismika Allahumma ahya wa bismika amut. Dengan (menyebut) nama-Mu ya Allah aku hidup dan dengan (menyebut) nama-Mu aku mati, terasa sebagai ucapan perpisahan.

Aku akan pergi ke alam lain dan tak tahu kembali lagi atau tidak. Kala bangun, bahagia luar biasa seraya mengucap Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilahi nusur. Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah Dia mematikan dan hanya kepada-Nya kami akan dibangkitkan. 

Ingat kepada sahabat sewaktu SD, SMP, SMA, PT; teman kerja, saudara, orangtua, guru, kiai dan ulama yang telah mendahului menghadap Allah SWT, tak terelakkan, bayangan kematian melintas depan mata. Menghela napas.… hati berkata: Ya, kita pun akan seperti itu. Tinggal menghitung hari, menanti antrian. Entah kapan. Tidak ada yang tahu, tapi pasti terjadi. Umur manusia ada batasnya. Tidak selamanya. Kelak bila tiba saatnya, tak ada seorangpun yang sanggup mengawalkan atau mengakhirkannya. (QS. Al-A’raf: 34)

Menghadapi kematian, mestinya biasa saja dan santai, karena bukan hal baru. Terjadi sejak Adam As sampai sekarang. Hadapilah dengan senyum dan keikhlasan. Rileks saja, bukankah umur telah diatur, nyawa ada batasnya dan mati itu pasti? Secara teoritis benar. Kenyataannya, tidak mudah. Buat para muttaqin, syuhada, solihin, dan para Auliya Allah, kematian adalah keindahan, sebagai pintu gerbang menuju kebahagiaan menemui Maha Pencipta. Berbeda dengan kita orang biasa, menghadapi kematian tetap *_“keueung”_* (Bahasa Sunda: takut dan ngeri). 

Sejak kasus wabah korona merebak, mempengaruhi keajegan mental dan sikap kita akan kematian. Menyingkirkan rasa takut dan cemas karena soal itu bukan persoalan gampang. Testimoni orang yang sembuh dari wabah korona (penyintas), tentang derita yang dialaminya selama dalam isolasi dan normalisasi, melengkapi perasaan keueung.

Menurut mereka, terkena korona pilihannya hanya dua, hidup atau mati. Terasa amat berat ketika menarik nafas yang tersengal. Walau mungkin dianggap berlebihan menurut kita, mereka menganalogikan, sakitnya seperti sakaratul maut. Enggak apa-apa, toh mereka yang merasakan.

Protokol Kesehatan Covid-19 merubah kebiasaan dan kelumrahan. Ahli warits, tidak boleh mulasara jenazah. Memandikan, mengapani, menyalati dan menguburkan dikerjakan oleh petugas Gugus Tugas Covid-19. Keluarga hanya mampu menangis dan pasrah, memandangi orang yang dicintainya dikebumikan, dari kejauhan.

Selain karena masih ada iman terhadap qadha qadar Allah, keresahan hati terobati oleh janji Rasul Saw bahwa yang wafat karena wabah masuk syahid, sebagaimana sabdanya:

"Sesungguhnya tho'un itu siksaan yang Allah kirimkan kepada yang Dia kehendaki. Kemudian Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidak ada seorang pun hamba yang terkena tho'un, lalu ia tetap tinggal di negerinya sambil bersabar, dan dia yakin bahwa tidak akan menimpa kepadanya kecuali yang telah Allah tuliskan baginya, maka ia akan mendapatkan ganjaran mati syahid, "_ (HR Bukhari). 

Wafat karena wabah korona atau sebab lain termasuk bencana, bukan aib. Tak ada alasan untuk menghinakannya. Kita antar kepergian mereka dengan memuliakan dan mandoakannya, "Ya Allah, ampunilah mukminin mukminat, muslimin muslimat, yang masih hidup dan yang telah wafat…..” 

Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (Al-Hasr: 10). Amin!

Penulis adalah Ketua DKM Masjid Raya Bandung Jabar, Ketua Yayasan al-hijaz Aswaja Bandung