Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Sowan kepada Mbah Sofyan Aktivis Ketua GP Ansor Tahun 1960-an

Sowan kepada Mbah Sofyan Aktivis Ketua GP Ansor Tahun 1960-an
Mbah Sofyan (kiri) (Foto: NU Online Jabar/Hakim Hasan)
Mbah Sofyan (kiri) (Foto: NU Online Jabar/Hakim Hasan)

Depok, NU Online Jabar 
Terlihat tiga orang itu sedang asyik mengobrol di sebuah gubuk bambu. Yang bertopi Banser itu namanya Pak Rasyid. Ia Banser senior di Kampung Citayam. Yang pakai jaket Banser itu Pak Agung namanya. Ia juga penggerak NU di Citayam. Keduanya bisa dibilang penggerak NU di wilayah Bojonggede, Kabupaten Bogor. Sedangkan yang satunya lagi, yang pakai peci merah dan kaos putih itu Mbah Sofyan biasa masyarakat sekitar memanggilnya. 

Mbah Sofyan ini adalah mantan Ketua GP Ansor Kediri pada tahun 1960-an. Ia tinggal di Kota Depok sejak tahun 1993. Sekarang, ia tinggal di Kampung Perigi di daerah Sawangan Kota Depok, dekat dengan perbatasan Kabupaten Bogor. 

Dalam obrolannya itu Mbah Sofyan menceritakan pengalamannya ketika dulu pernah berjuang di garis terdepan bersama Pemuda Ansor, ia pernah menjadi ketua GP Ansor Kediri pada tahun 1960-an.

Di saat terjadi pemberontak PKI, yang saat itu sedang marak sekali di wilayah pulau Jawa, Mbah Sofwan memimpin para pemuda Ansor menjaga para kiai dan pondok pesantren. Ia berkhidmah kepada alim ulama, jam’iyyah Nahdlatul Ulama dan kepada tanah air.

Satu hal yang selalu menjadi pegangan hidupnya waktu itu adalah sebuah pesan dari ibunya:

"Nggak bileh membunuh,” ujar Mbah Sofyan, mengucap kembali pesan ibunya.

Padahal, kata Mbah Sofyan, itu adalah perang asli yang kalau tidak membunuh atau malah sebaliknya, yakni dibunuh. 

“Dengan ijin Allah, Mbah Sofyan ngga membunuh nggak terbunuh,” kata Mbah Sofyan. 

Banyak hikmah dan pesan dari cerita perjuangan beliau semasa berjuang di garis terdepan membela para kiai dan tanah air. Rasanya tak kuasa menahan air mata sampai-sampai kami berkaca-kaca saat mendengarkan penuturan Mbah Sofyan tentang kisah perjuangan hidupnya. 

Tidak terasa sudah cukup lama kami berbincang dengan beliau, terakhir sebelum kami berpamitan, kami meminta beliau untuk berdoa dan kami mengamini. 

Catatan bagi kita sebagai penerus perjuangan dan sebagai kader Nahdliyin, semoga bisa membantu keadaan beliau untuk jalan yang lebih baik.

Penulis: Hakim Hasan 
Editor: Agung Gumelar