Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Sisi Lain dan Unik dari Ajengan Ilyas Cipasung

Sisi Lain dan Unik dari Ajengan Ilyas Cipasung
KH. Moh. Ilyas Ruhiat dalam sebuah forum bahtsul masail (dok. Keluarga).
KH. Moh. Ilyas Ruhiat dalam sebuah forum bahtsul masail (dok. Keluarga).

Berikut ini sejumlah sisi lain dan unik dari sosok almaghfurlah KH. Moh. Ilyas Ruhiat Cipasung.

Salah satu kegiatan yang mengesankan dari periode awal Cipasung ialah forum musyawarin (bahtsul masail). Santri senior dibagi dalam empat kelompok yang masing-masing beranggotakan sekitar 15 orang. Masing-masing kelompok membawa kitab-kitab rujukan ke forum itu hingga menjulang tinggi melebihi tingginya orang duduk. Suatu ketika terjadi perdebatan seru antara empat kelompok itu dalam membahas suatu masalah. Tiga kelompok sudah sepakat dalam satu kesimpulan sementara satu kelompok tetap mempertahankan argumentasinya. Akhirnya diputuskan untuk mengundang Ajengan Ilyas. Setelah meneliti pangkal perdebatan itu, Ajengan Ilyas tidak terjebak mendukung mayoritas, melainkan membenarkan pendapat kelompok yang satu, karena tiga kelompok lain telah salah membaca yang berakibat salah memahami teks dalam kitab yang dirujuk.

Suatu ketika dalam kesempatan kegiatan musyawirin, pernah terjadi perdebatan yang ‘menegangkan’. Para santri kemudian menghadirkan Ajengan Ilyas. Dengan tenang, Ajengan Ilyas mengatakan bahwa harus dibedakan antara forum musyawarah dan mujadalah. Kalau mau musyawarah, harus ada take and give, tidak saling ngotot-ototan. Setelah itu tensi kembali menurun dan musyawarah dapat diteruskan dengan baik.

Ajengan Ilyas sangat kutu-kitab dan kutu-baca. Hampir tidak pernah terlihat ia tidak membaca, baik kitab kuning maupun koran atau buku bacaan lain. Yang mengesankan bagi santri-santrinya ialah daya ingatnya, sebab ia selalu mengingat apa yang dibcanya dan menyimpulkannya lalu hasil kesimpulannya disosialisasikannya kepada para santri sebelum memulai pengajian. Dalam pengajian setiap Kamis pagi, ia selalu membuka pengajiannya dengan menyampaikan terlebih dahulu apa yang sudah dibacanya ataupun informasi yang dibawanya dari bepergian dalam kapasitasnya sebagai pengurus NU atau MUI. Ia menghabiskan 15 – 20 menit untuk prolog itu. Bagi para ajengan yang tidak sempat memperhatikan berbagai persoalan nasional, atau yang kesulitan menyimpulkan dari sebuah problem kebangsaan, prolog Ajengan Ilyas itu sangat membantu mereka untuk mengetahui dan memahami persoalan yang sebenarnya. Sehingga diduga bahwa itulah alasan penting mereka mau datang mengaji setiap kamis, sebab untuk bacaan kitab yang dikaji bersama, pada dasarnya mereka sudah bisa dan paham.

Ajengan Ilyas sangat mengutamakan pengajian kemisan ini. Setelah beliau sibuk dengan berbagai aktivitas di luar, praktis hanya majelis kemisan yang masih jadi hancanya. Oleh karena itu, ia berusaha sekuat tenaga untuk istikomah. Pernah suatu ketika beliau pulang dari acara NU di luar Jawa dan tiba di Cipasung jam 09.00, maka setengah jam kemudian beliau sudah siap mengajar para ulama yang selalu setia datang setiap hari Kamis. Kalau ada acara di luar kota yang terjangkau, beliau akan pulang dulu untuk mengajar pada majlis kemisan, lalu kembali lagi ke lokasi acaranya di luar kota.

Di luar kepribadiannya yang kalem, Ajengan Ilyas diakui memiliki sense of humor yang tinggi. Kadang ia juga bisa membuat santrinya tertawa ketika menyampaikan contoh-contoh dalam suatu pelajaran. Misalnya soal buka puasa, “Nah kalau sepasang pengantin baru itu cara membatalkan puasanya bagaimana?” Tanpa menjelaskan lebih lanjut para santri sudah mafhum dan tertawa.

Ajengan Ilyas sangat senang mendengarkan laporan perjalanan siapa saja yang pergi dari Cipasung untuk suatu acara, seperti santri atau guru yang diutus mewakili pesantren ke sebuah pelatihan atau seminar. Ia akan teliti bertanya, siapa saja yang datang, apa saja yang dibicarakan, dan bagaimana jalannya acara. Ia tidak membatasi akses informasi dari siapa saja. Ia mendengarkan dengan baik dan cermat setiap laporan atau pengaduan yang disampaikan. Dengan demikian ia tahu  hasil yang dicapai dari mengutus seseorang ke acara tertentu. Ajengan Ilyas juga pandai menyemangati dan membesarkan hati orang. Misalnya ada utusan Cipasung yang ragu apakah ia mampu atau tidak mengikuti suatu forum, ia pasti mengatakan, “Kamu pasti mampu.”

Ketika menjadi anggota MPR sebagai utusan dari Jawa Barat, Ajengan Ilyas masih suka menggunakan Zebra tanpa AC-nya jika mengikuti persidangan di Jakarta. Mengetahui hal itu, suatu hari datang utusan dari Jakarta yang mengantarkan sebuah Mercedes-benz sebagai mobil inventaris anggota MPR agar tidak “memalukan” jika ke Jakarta. Namun dengan halus Ajengan Ilyas menolak dengan alasan khawatir terpakai olehnya untuk kebutuhan yang lain di luar tugasnya sebagai anggota MPR.
Sikapnya itu ‘dicemooh’ oleh temannya sejak kecil H. Syahid, 

“Padahal mah terima saja, Jang Haji, sesekali kan saya ingin juga naik mobil bagus.”
“Nah itu yang saya takutkan,”
timpal Ajengan Ilyas, “Saya takut bercampur dengan keperluan kasab saya.”

Kecuali kepada anak-anak Ajengan Ilyas tidak pernah memanggil orang lain langsung dengan namanya. Jika menyebut seseorang di depan orang lain, pasti ia mengimbuhkan kata ibu, bapak, kang, jang, dan sebutan sejenisnya.

Editor: Iip Yahya