Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Selamat Ulang Tahun Ke-73 Ahmad Tohari dan Ke-67 KH Muammar ZA

Selamat Ulang Tahun Ke-73 Ahmad Tohari dan Ke-67 KH Muammar ZA
Ahmad Tohari (kiri) dan Muammar ZA
Ahmad Tohari (kiri) dan Muammar ZA

Pada bulan Juni, ada beberapa seniman yang dekat dengan kalangan Nahdlatul Ulama berulang tahun, di antaranya adalah Asrul Sani, Slamet Gundono, Ahmad Tohari, dan Muammar ZA. Dua yang disebut di awal telah meninggal dunia, sementara sisanya masih sehat walafiat. Pada tulisan ini, akan menyajikan dua tokoh yang disebut terakhir itu.   

Menurut Ensiklopedia NU, Ahmad Tohari adalah seorang sastrawan terkemuka Indonesia. Ahmad Tohari merupakan seorang sastrawan terkemuka Indonesia yang lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. 

Menurut ensiklopedia itu, Ahmad Tohari merupakan pembelajar otodidak di dunia kepengarangan dengan bakat dan hasrat yang besar. Masa awal kepengarangannya beriringan dengan pekerjaannya sebagai redaktur majalah terbitan BNI 46, harian Merdeka, dan majalah Keluarga serta Amanah di Jakarta.

Tetapi, kemudian ia memilih pulang dan tinggal di desanya. Di antara karyanya adalah Kubah (novel, 1980); Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982); Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985); Jentera Bianglala (novel,1986); Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986); Senyurn Karyarnin (kumpulan cerpen,1989); Bekisar Merah (novel, 1993); Mas Mantri Gugat (kurnpulan esai, 1994); Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995); Mas Mantri Menjenguk Tuhan (kumpulan esai, 1997); Nyanyian Mularn (kumpulan cerpen, 2000); Belantik (novel, 2001); Orang-orang Proyek (novel, 2002); dan Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004). 

“Dari segi latar belakangnya sebagai santri, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk juga sangat unik. Di sini Tohari menunjukkan perhatiannya yang sangat rinci dan lengkap mengenai kebudayaan dan pandangan dunia kelompok masyarakat yang dalam kategori sosial disebut sebagai abangan plus simpatinya yang mendalam. la memang sangat mengakrabi lingkungannya dan seperti tak mengenal marka-marka sosial yang diciptakan oleh ideologi politik maupun agama di hadapannya,” tulis Ensiklopedia NU.  

Sementara Muammar ZA, Ensiklopedia NU menyebutkan, ia adalah seorang qari nasional dan bahkan internasional. Ia merupakan pelopor pembacaan Al-Qur'an secara berduet (bersama H Chumaidi) dan dengan gaya qira’at sab'ah (metode tujuh bacaan). Pembacaan Al-Qur’annya masih terus direkam ulang dan diperdengarkan hingga kini. 

H Muammar ZA lahir di Dusun Pamulihan, Warungpring, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, 14 Juni 1954. Setamat sekolah dasar Muammar nyantri di Kaiiwungu, Kendal, Jawa Tengah. Ia kemudian belajar di Pendidikan Guru Agama (PGA) di Yogyakarta. Ia juga sempat kuliah di IAIN Sunan Kalijaga. 

Selama kuliah, ia menggeluti dunia qira'ah. Ia mengikuti MTQ Tingkat Provinsi DIY pada 1987. Ia berhasil menyabet juara pertama tingkat remaja. Setelah itu, ia selalu menjadi anggota kontingen DIY di MTQ Nasional. Dari Yogyakarta, Muammar pindah ke Jakarta dan melanjutkan kuliah di PTIQ. 

Pada tahun 1980-an dan 1990-an suara merdunya lazim menghiasi masjid-masjid di Indonesia sebelum maghrib, menjelang subuh, atau menjelang shalat Jumat, melalui kaset yang diputar dengan tape recorder. Kaset-kasetnya juga diputar pada acara-acara keagamaan seperti Maulid Nabi. 

Hingga saat ini, suara emasnya masih dikagumi umat Islam sehingga ia masih kerap diundang untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. 

Pada 2015, PBNU mengundangnya untuk tampil pada pembukaan Munas Alim Ulama NU dan menyambut bulan suci Ramadhan 1436 H. 

“Qori' internasional Muammar ZA memimpin pembacaan shalawat badar pada Istighotsah Menyambut Ramadhan 1436 H dan Pembukaan Munas Alim Ulama" di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (14/6/2015). Muammar memandu pembacaan shalawat khas NU itu selepas melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Suara Muammar yang melengking disambut antusias puluhan hadirin yang memadati Masjid Istiqlal,” tulis NU Online.

Penulis: Abdullah Alawi