Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Saya, Pesantren dan Cita-cita Belajar di Luar Negeri

Saya, Pesantren dan Cita-cita Belajar di Luar Negeri
Lathifah Shofiani, mahasatri Juruan Ilmu Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Foto: Dok. Pribadi)
Lathifah Shofiani, mahasatri Juruan Ilmu Hadits UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Lathifah Shofiani

Nama saya Lathifah Shofiani, biasa dipanggi Shofi. Saya lahir sebuah kota yang dujuluki Kota kembang. Sejak kecil, tepatnya kelas 2 SD, saya sudah masuk ke pondok pesantren kanak-kanak di Ciamis. Dilanjut belajar di pesantren Nurul Iman  selama enam tahun hingga lulus Aliyah. Karena kebetulan pesantren tersebut dekat dengan rumah dan ayah ikut mengajar di sana. Saya sangat bersyukur dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah lingkungan yang agamis. Mereka mengajarkan banyak hal tentang agama, mulai dari akhlak, ubudiyah, dan masih banyak lagi. 

Sejak di bangku sekolah dasar, karena pondok pesantren tersebut memang dikhususkan untuk anak-anak yang ingin menghafal Al-Qur’an, mau tidak mau saya juga harus ikut menghafal. Memang tidak mudah bagi seorang anak kecil untuk menghafal ayat yang begitu banyak. Namun berkat bimbingan para ustadz dan ustdzah, saya mempu melewatinya hingga saat lulus, saya mempunyai hafalan kurang-lebih 3 juz.

Lulus dari SD, saya melanjutkan mondok di dekat rumah. Saat itu saya terkejut, karena pondok tersebut bukanlah pondok khusus tahfidz, melainkan pondok salafiyah tempat belajar kamib kuning. Saya sempat berpikir, seperinya saya salah masuk pondok, karena kecil kemungkinannya untuk saya menambah hafalan Qur’an. Benar saja selama enam tahun di pondok tersebut, saya memang tidak menambah hafalan dan hanya muraja’ah (mengulang) hafalan yang sudah saya hafal saat di bangku sekolah dasar dulu. Akan tetapi saya yakin suatu saat nanti saya pasti bisa merampungkan hafalan al-Qur’an saya secara utuh 30 Juz.

Selama bertahun-tahun hidup dalam keluarga santri yang ketat, membuat saya tidak pernah terbersit memikirkan untuk merubah jalan dan tradisi di keluarga saya. Apabila ada orang bertanya apa cita-citamu? Atau mau menjadi apa kamu di masa depan? Saya sempat berpikir untuk apa punya mimpi jika akhirnya saya akan mondok, ngajar, dan menikah. Tetapi kemudian pikiran-pikiran ini mulai terkikis, ketika saya melihat banyak tokih wanita yang berhasil yang sukses dengan mimpinya, bahkan ketika ia masih muda. Itulah yang akhirnya memotivasi saya untuk menempuh jalan yang lain, dan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. 

Berkat doa restu dari orang tua dan juga para asatidz, saya berhasil mendapatkan beasiswa santri berprestasi (PBSB) dari Kementrian Agama untuk melanjutkan studi S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Ilmu Hadis. Memang pada awalnya saya merasa kecewa karena jurusan tersebut bukanlah jurusan yang saya harapkan. Saya pikir, akan banyak menghafal hadits. Saat di Madrasah Aliyah, pelajaran yang paling saya tidak suka adalah mata pelajaran ilmu hadits ini. Tapi ternyata, hal tersebut berbeda dengan apa yang saya bayangkan. Di sana wawasan kami benar-benar dibuka bahwa dunia hadis itu sangat luas seperti tak berujung. Di situlah saya mendapat kesempatan kembali untuk menghafalkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sebagimana yang saya harapkan dulu. Persyaratan untuk lulus S1 ketika mendapat beasiswa PBSB, adalah hafal 10 Juz Al-Quran dan 100 hadits. 

Di Yogyakarta, kami ditempatkan di sebuah pondok pesantren khusus untuk mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari Kemenag. Kami dibimbing bagaimana cara menghafal al-Qur’an, kemudian cara menjaga hafalan agar tidak hilang. Salah satu metode yang kami lakukan adalah selalu mengulang-ulang (muraja’ah) hafalan ayat atau surat yang pernah kami hafal. Ketika kami akan menambah hafalan, maka hafalan sebelumnya harus disetorkan juga, tujuannya agar tidak lupa. Kemudian kami juga rutin mengadakan sima’an setiap satu bulan sekali, sebagai upaya untuk menjaga hafalan. 

Saya selalu ingat ketika guru saya mengatakan, jangan pernah berpikir bahwa menghafal Qur’an hanya sebatas dibaca dan dihafal saja, tapi harus juga mengamalkan kandungan yang terdapat di dalamnya ke dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah sebenar-benarnya seorang hafidz/hafidzah. Juga ada satu amalan yang dijazahkan oleh guru saya, yaitu memabaca surah Yasin setiap sehabis shalat, yang tujuannya adalah untuk menguatkan hafalan.

Selain menjadi mahasantri, saya juga aktif di sebuah organisasi yang berada di bawah naungan Kementrian Agama RI, yaitu CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam organisasi tersebut saya dipercaya menjadi sekretaris umum untuk periode 2020-2021. 

Sejumlah prestasi pernah saya raih antara lain: Juara 3 LKTI Nasional di Semarang (2018), Juara 3 Lomba Essay Nasional di Universitas Indonesia (2019), dan terpilih sebagai salah seorang peserta Pemuda Delegasi Indonesia ke Turki pada bulan Desember tahun ini.

Saya bercita-cita untuk melanjutkan studi saya ke luar negeri, karena saya ingin menambah ilmu dan wawasan. Saya ingin memberikan motivasi bagi orang lain, khususnya bagi santri Nurul Iman, tempat saya dibesarkan dan mendapat banyak pelajaran berharga. Motto hidup yang terus saya pegang sampai detik ini adalah “the best human being is useful for other”. Manusia terbaik adalah dia yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. 

Harapan saya, mengingat saat ini sedang diperingati Hari Santri Nasional, menjadi seorang santri hendaknya tidak hanya rajin mengaji saja. Santri juga harus memahami makna dari Al-Qur’an dan hadits secara kontekstual, kemudian diimplementasikan dalam bentuk kegiatan yang positif dan mengajak kepada kebaikan. Salah satu caranya yaitu dengan memahami dan menguasai teknologi dan menjadi bagian dari masyarakat saat ini. 

Terakhir bermimpilah setinggi dan sebesar mungkin, karena setiap orang berhak untuk bermimpi. Dan mimpi itu berhak untuk diperjuangkan. Tak lupa diiringi dengan doa dan usaha (ikhtiar).

Dream high, because our only limit is our mind.

Selamat hari santri.