Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Santri, Wali Murid, dan Jarum Pentul

Santri, Wali Murid, dan Jarum Pentul
Ilustrasi: https://www.wajibbaca.com/
Ilustrasi: https://www.wajibbaca.com/

Oleh Amanah Amnun Zulfa 

Ini terjadi sekitar empat atau tiga tahun yang lalu, tepatnya di Pondok Hidaayatul Mubtadiin Al-Inaaroh 2 Buntet Pesantren Cirebon. 

Sebagaimana tradisi pesantren-pesantren di Indonesia, Buntet Pesantren Cirebon mempunyai tradisi atau agenda tahunan yaitu haul para masyayikh dan warga buntet, Cirebon. 

Setiap tahunya, Haul Buntet Pesantren Cirebon ini selalu didatangi para peziarah dari berbagai penjuru Nusantara. Mulai dari berbagai kota di pulau jawa sampai luar kota pulau jawa pun ada. Mulai dari anak-anak sampai remaja, mulai dari orang dewasa sampai sesepuh yang sudah tua, tak terkecuali wali santri yang sengaja datang juga untuk menengok anaknya, semuanya datang berbondong-bondong untuk menziarahi makam para masyayikh itu

Padet dong? Banget. 

Dari jalan depan (jalan besar) sudah ditutup, karena kendaraan sudah dipastikan tidak boleh masuk. 

Jangankan kendaraan, kita yang jalan aja sesak, lebih-lebih dari ngantri sembako. 

Semua orang termasuk wali murid diundang untuk hadir. Setiap santri sibuk melayani tamu yang datang.  Masing-masing punya caranya sendiri-sendiri untuk memuliakan tamu yang datang.  

Dan yang tak boleh absen tentunya adalah prasmanan.

Acara biasanya berlangsung selama dua hari dua malam, bahkan bisa lebih. Wali murid yang datang tentu menginap di pondok anaknya masing-masing. 

Ada kejadian unik pada saat itu, ada seorang ibu dari wali santri sedang bercermin di salah satu cermin di kamar pondok. Tentu ini adalah hal yang biasa bukan? 

Tapi kemudian, raut wajah ibu itu pun berubah dan nampak kebingungan seperti mencari sesuatu yang hilang. 

Ibu itu kemudian menghampiri saya yang tengah duduk di depan kipas yang lagi istirahat sekaligus ngadem karena kepanasan. 

Ibu itu mendekati saya, masih dengan raut wajah seperti orang yang sedang kebingungan mencari sesuatu yang hilang. 

Ibu itu lalu mengatakan sesuatu kepada saya, sesuatu yang tak pernah saya duga sebelumnya, bahkan terpikirkan pun tidak sama sekali. 

“Mbak, maaf, ini lho ibu tuh tiga tahun yang lalu ke sini,” ujar sang ibu. 

Saya hanya terdiam dan masih bingung dengan apa yang barusan ibu itu katakan. Saya yang masih bingung karena tiba-tiba di dekati sang ibu itu, mencoba memposisikan posisi duduk saya dengan posisi yang lebih sopan. 

“Maaf banget, maaf banget, Mbak,” kata ibu melanjutkan. 

Saya masih menahan wajah bingung dengan tetap tersenyum pada sang ibu itu. 

“Ini, Mbak, ibu pernah ambil jarum yang diselipkan dekat kaca itu,” kata sang ibu dengan mengalihkan pandangan ke arah kaca yang tadi. 

“Maaf ya, ibu bisa saja disebut pencuri,” tutur sang ibu.

“Ini ibu kembalikan karena ndak tau punya siapa. Tapi itu kan bukan hak ibu,” lanjutnya. 

Seketika itu saya merasa malu pada ibu itu. Saya malu, Bu, saya salut sama ibu atas kejujuran dan kehati-hatian ibu terhadap hak-hak yang seharusnya dimiliki dan tidak. Benar-benar menjaga diri dari hal yang subhat

Sekali  lagi, saya mendapatkan ilmu tanpa kelas dan buku. Ilmu hidup, ilmu kejujuran, ilmu yang mahal, yang lahir dari amal.  

Penulis adalah santri alumni Hidaayatul Mubtadiin Al-Inaaroh 2 Buntet Pesantren Cirebon