Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Samenan dan Ngaleseng di Madrasah Diniyah dalam Kenangan Kang Bakang

Samenan dan Ngaleseng di Madrasah Diniyah dalam Kenangan Kang Bakang
Seorang murid sedang ngaleseng (Foto: KH Abubakar Sidik)
Seorang murid sedang ngaleseng (Foto: KH Abubakar Sidik)

Bandung, NU Online Jabar 
Wakil Ketua PWNU Jawa Barat KH Abubakar Sidik mengenang masa kanak-kanaknya yang pernah menimba ilmu di Madrasah Diniyah (MD), sebuah lembaga pendidikan agama dengan sistem kelas. Biasanya waktu belajarnya sore hari.   

“Pada akhir tahun selalu dilaksanakan kenaikan kelas. Namanya bisa macam-macam, ada haflah ada imtihan, tetapi di Sukabumi yang terkenal adalah nama samenan,” kata ajengan yang akrab disapa Kang Bakang melalui akun Facebook-nya, Sabtu (5/6). 

Salah seorang ajengan di Pondok Pesantren Al-Masthuriyah Kabupaten Sukabumi ini menjelaskan, kegiatan inti samenan terdiri dari tampilan seni, tampilan pidato anak-anak atau yang disebut ngaleseng. Banyak juga yang diawali dengan pawai dan karnaval. Tetapi, dengan kejadian pandemi memaksa pengelola MD untuk tidak pawai. 

Pada samenan, lanjutnya, setiap murid diberi kesempatan untuk tampil di publik. Ada yang pidato, ada yang membaca surat pendek, ada yang menghapal kitab dan syairan. Pokoknya tampil, dan orangdengan pakaian yang umumnya baru. 

“Yang menarik ngaleseng. Setiap murid disiapkan teks lesengan. Teksnya berbeda tiap murid. Lalu dihafal dan kemudian ditest. Kadang berkali-kali testnya. Supaya benar-benar siap. Tapi, ya namanya juga anak-anak, banyak juga yang lupa, yang takut dan malu hingga menangis di panggung. Membuat teks lesengan itu susah karena harus disesuaikan dengan kondisi psikologis anak yang berbeda,” jelasnya. 

Menurut dia, lulusan madrasah umumnya siap menjadi pemimpin masyarakat dalam skop yang beragam. Dan siap juga untuk jadi penyebar ajaran Islam. 

Menurut Ensiklopedia NU, samenan adalah istilah kenaikan kelas yang khas di Jawa Barat untuk lembaga pendidikan madrasah diniyah (sekolah agama) dan sekolah dasar. 

Menurut ensiklopedia itu, istilah samenan, kemungkinan berasal dari bahasa Belanda, examen, yang artinya ujian untuk kenaikan kelas.

Samenan, sebagaimana diceritakan Kiai Abubakar, di sekolah agama berlangsung lebih meriah dibanding samenan di SD. Acara berlangsung dari pagi. Berbagai acara ditampilkan, mulai dari perlombaan yang bersifat permainan yang menghibur, karnaval berkeliling di jalan raya, mengarak bedug, sampai drum band. Pada malam harinya ada pembacaan puisi hingga drama. Kadang-kadang ada juga yang mengundang mubaligh untuk berceramah atau grup kasidah yang tampil.

Masih, menurut ensiklopedia itu, di antara kegiatan samenan ada ngaleseng, yaitu seorang murid tampil ke pentas, ada yang sendirian dan ada juga yang berkelompok membacakan ayat Al-Qur’an atau hadits yang beberapa bulan sebelumnya dihafalkan. 

Pewarta: Abdullah Alawi