Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Sambutan Harlah Ke-95 NU Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah

Sambutan Harlah Ke-95 NU Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah
Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah (Foto: NU Online Jabar/Bagus)
Ketua PWNU Jawa Barat KH Hasan Nuri Hidayatullah (Foto: NU Online Jabar/Bagus)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Segala puja dan puji untuk Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurah untuk Nabi Muhammad SAW, para keluarga, sahabat, tabi’in dan atbait tabi’in...

Para kiai, para pengasuh pondok pesantren, para pengurus NU di tingkat wilayah hingga ranting, para pengurus lembaga dan badan otonom NU, Nahdliyin dan Nahdliyat di Jawa Barat yang saya hormati, sesuai tema harlah ke-95 NU yang dikeluarkan PBNU, yakni konsistensi khidmah NU dalam menjaga dan menyebarkan Islam Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) dan meneguhkan komitmen kebangsaan. 

Menurut hemat saya, khidmah adalah kata kunci NU berdiri dan pergerakannya selama ini. Para kiai membentuk NU bertujuan untuk berkhidmah kepada agama dan tanah air. 

Pertama, khidmah untuk agama, NU memang lahir dari para pemuka agama yang nahdlah atau bangkit dengan tujuan untuk melestarikan Islam Ahlussunah wal Jama’ah di Indonesia dan dunia. Pada AD/ART NU pertama kali tertulis: 

Adapun maksud perkumpulan ini yaitu: memegang dengan teguh pada salah satu dari mazhabnya Imam empat, yaitu Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah An-Nu’man, atau Imam Ahmad bin Hambal, dan mengerjakan apa saja jang menjadikan kemaslahatan agama Islam.

Kedua, khidmah untuk Tanah Air. Ini berarti NU dengan sekuat tenaga akan menjaga keutuhan negara dan memperjuangkan kesejahteraan rakyatnya. Sungguh suatu tujuan yang mulia dan itu sudah ditunjukkan dalam sejarah.

Dua khidmah ini seiring sejalan dalam langkah gerak NU. Islam Ahlussunah wal Jamaah menjadi inspirasi dan gerak untuk cinta Tanah Air yang tertera dalam kalimat hubbul wathan minal iman. Agama dan Tanah Air menjadi bagian cinta dalam satu tarikan napas.    

Mari kita buka sedikit dari peran NU dalam sejarah: 

Pada masa kolonial Belanda, yakni tahun 1937, NU membidani Majelis Islam A'la Indonesa (MIAI).

Pada menjelang kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, NU turut serta merumuskan dasar negara yaitu Pancasila yang diwakili KH Abdul Wahid Hasyim, putra Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. 

Pada masa mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1945, NU mengeluarkan Resolusi Jihad NU dan Fatwa Jihad. Peristiwa ini menjadi Hari Santri hari ini. Rasolusi Jihad NU ini kemudian digelorakan kembali pada 1946 selepas Muktamar NU di Purwokerto. 

Pada tahun 1954 guna mengukuhkan kedudukan kepala negara Republik Indonesia sebagai Waliyul Amri ad-Dharuri Bissyaukah yang dirongrong kelompok separatis berkedok agama. 

Pada tahun 1965, NU turut serta dalam pengganyangan dan pembubaran PKI. 

Pada tahun 1984, NU menyatakan Pancasila sebagai asas tunggal, dan waktu NU menjadi satu-satunya ormas Islam yang menyatakan Pancasila sebagai negara. 

Para kiai, para pengasuh pondok pesantren, para pengurus NU di tingkat wilayah hingga ranting, para pengurus lembaga dan badan otonom NU, Nahdliyin dan Nahdliyat di Jawa Barat, khidmah NU kepada agama dan Tanah Air akan terus berlanjut karena Nahdlatul Ulama merupakan kebangkitan para intelektual yang mampu membaca gerak zaman. Itu tercermin dari kata nahdlah, yang artinya kebangkitan yang terus-menerus. 

Sebagaimana yang dikatakan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, bahwa kebangkitan ulama NU insyaallah akan berlangsung sampai kiamat. 

Para kiai, para pengasuh pondok pesantren, para pengurus NU di tingkat wilayah hingga ranting, para pengurus lembaga dan badan otonom NU, Nahdliyin dan Nahdliyat di Jawa Barat, karena harlah ke-95 NU berlangsung pada situasi pandemi Covid-19, PWNU mengimbau agar peringatan harlah NU kali ini dilaksanakan secara sederhana dengan memberlakukan protokol kesehatan tanpa menimbulkan kerumunan demi menjaga kemaslahatan bersama. 

Demikian, saya sampaikan, semoga para kiai, para pengasuh pondok pesantren, para pengurus NU di tingkat wilayah hingga ranting, para pengurus lembaga dan badan otonom NU, Nahdliyin dan Nahdliyat di Jawa Barat, selalu berada dalam lindungan Allah. Amin ya rabbal ‘alamin.

Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq 
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh