Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Saf Tarawih Paling Berbahaya 

Saf Tarawih Paling Berbahaya 
Ilustrasi (NU Online)
Ilustrasi (NU Online)

Oleh Abdullah Zuma

Semasa kecil, saya memiliki kesan khusus dengan tarawih. Orang Sunda melafalkannya dengan taraweh. Kemudian dipelesetkan kirata (dikira-kira tapi nyata) menjadi tara sawareh (hanya sebagian yang melakukan). Taraweh memang hukumnya sunat. Karenanya yang melakukan dijanjikan pahala, jika ditinggalkan tak berdosa.

Taraweh di masjid kampung saya, saat saya masih kecil, tak pernah melibatkan kalangan perempuan. Namun kini, sekitar sepuluh tahun terakhir, mereka turut berpartisipasi. Tentu saja antara jamaah laki dan perempuan dihijab kain. Karena masjid kami cukup luas, antara jamaah perempuan dan laki-laki memiliki cukup jarak, sekitar 5-6 saf. Dan saya tak memiliki catatan terkait keterlibatan mereka karena sejak dewasa tak pernah tinggal di kampung saya lagi.  

Saat saya masih kecil, jamaah tarawih tak pernah kurang dari lima saf. Apalagi kalau malam-malam awal; bisa mencapai 6-7 saf. Di malam pertengahan bisa surut, hanya 2 atau atau 3 saf bertahan. Mungkin makmum lain mulai jenuh karena dari dulu, tarawih ya begitu-begitu saja. Atau karena cuaca, misalnya hujan. Atau karena memang malas. Dan yang ini banyak sekali.

Mendekati Lebaran, tarawih kembali bergeliat, bisa 7 hingga 8 saf. Itu karena dua hal: orang dari perantauan pulang dan pak ajengan atau pak DKM beberapa hari sebelumnya, melalui pengeras suara, memperingatkan bahwa puasa sebentar lagi finish. Tarawih harus digiatkan lagi. 

Formasi abadi jamaah taraweh di masjid kampung saya adalah: setelah imam, saf pertama adalah para orang tua dengan bentuk tubuh yang beragam karena dimakan usia dan kerja. Ada yang sudah bongkok. Ada yang sudah tak kuat berdiri. Dan mereka yang bagus bacaan Al-Qur'annya yang selalu siap menggantikan imam jika kondisi darurat, misalnya imam kebelet pipis atau tak bisa menahan kentut. Tapi itu jarang terjadi dan seingat saya tak pernah terjadi. 

Di belakang saf itu diisi makmum para orang tua juga, setengah baya, atau anak muda yang memakai koko dan sorban. Dua saf terakhir diisi anak-anak sebaya saya serta anak-anak muda yang tak bersarung atau tak berkopiah. 

Saf depan merupakan paling khusuk rapi dan aman. Kejadian apa pun tak akan mempengaruhi mereka. Dunia terbalik pun, mereka sepertinya tak akan menggubrisnya. Kalau melafal amin, mereka hanya bersuara dengan gemeremang, seperti tawon hijrah.

Sebaliknya, saf belakang memiliki tradisi berbeda. Mulai takbiratul ihram seenak hatinya saja, tapi selesai selalu bareng. Jika melafal amin, terdengar suara mereka disentakkan; nyaring seperti meneriaki maling kepergok. Jika kebetulan ada orang jantungan, bisa copot organ pemompa darahnya seketika. Kalau ada perempuan hamil, mungkin lahiran seketika tanpa bidan atau dukun bayi.

Barisannya juga tidak lurus, terkesan main-main, dan ini dia: sangat berbahaya!

Bagaimana tidak, peci bisa hilang dari kepala. Sarung bisa tersingkap bahkan lepas. Orangnya pun bisa digotongpindahkan ke tempat lain. Ketika hendak ruku', kadang didorong dari belakang sedikit saja, maka akan menabrak yang di depan. Pasalnya saat posisi hendak ruku', badan dalam kondisi tidak stabil. 

Dan saat sujud merupakan bagian yang paling krusial. Apalagi jika tidak mengenakan celana dalam. Kadang diganjal sapu ijuk, atau pemukul beduk. Dan yang paling brengsek adalah menyentil “anu” yang tergantung bebas. Rasanya kesetrum sekujur tubuh. Otomatis kaki menerjang ke belakang. Soal mengenai sasaran atau tidak, tidak penting.

Tarawih waktu itu seperti shalat siddatul khauf saja, yaitu shalat dalam kondisi gawat darurat.

Namun ketika duduk tahiyat akhir, semua anggota saf belakang tunduk pada kesepakatan tak tertulis, yaitu ikut barisan serapi mungkin, ikut awe salam, melirik kanan-kiri, dan mengusap muka dengan wajar seolah tak terjadi apa-apa. Dunia dalam keadaan damai, aman terkendali. 

“Hei, barudak, kalau tarawih, jangan main-main!” kata Pak Ketua DKM bernama Kang Romli. Dia mungkin merasa punya otoritas atas kenyamanan makmum lain. Namun, peringatannya itu seolah tak diiringi bukti. Pasalnya saf barisan belakang dalam kondisi tertib dan tak ada yang main-main sama sekali.

Oleh karena, kami pura-pura tak mendengarnya. Melirik mukanya saja tidak tertarik sama sekali. Dan tentu saja tak perlu menjawab atau menjelaskan. 

Setelah imbauan Kang Romli itu, beberapa rakaat aman sentosa. Tapi rakaat-rakaat selanjutnya, situasi tak terkendali. Terdengar pula cekikikan lepas tak bertanggung jawab seolah tak ada satu pun yang shalat. Ketika saya lirik, ternyata kepala seorang teman dikopiahi celana karet pendek entah milik siapa. 

Perlu diketahui, di pojokan masjid saya waktu itu terselip celana kolor orang tua. 

Teman yang dikopiahi celana dalam itu, membalas dendam. Namun, dia menimbang-nimbang; jika pelaku lebih tua, dia berpaling dan melampiaskannya kepada anak yang menurut perhitungannya berani jika harus baku hantam. Maka dia memperlakukan hal serupa kepada anak itu. Anak itu pun melakukan yang sama ke yang lain. Estafet kolor pun terjadi dengan akhir saling melempar-lempar benda nahas itu.

"Berisik!" kata Kang Romli sambil melotot. Matanya seperti hendak mencelat. Dia terpaksa membatalkan shalatnya demi tugas mulia, memberantas para pemberisik saf belakang. Telinga kami pun menjadi sasarannya. Kami cuma bisa pasrah.

Adalah Firman, teman kami yang tidak ikut-ikutan, tapi terkena imbas jeweran. Dia melakukan protes secara tidak langsung dengan keluar masjid dengan penuh gerutuan. Tak lama kemudian terdengar suara beduk dipukul sekerasnya. Ia langsung saja lari pulang. 

Setelah tarawih bubar, kami mendapati tulisan "ROMLI GALAK" di beduk itu dengan huruf-huruf kapital segede gajah. Tapi kami tak mempedulikannya karena tiga pentungan, kaleng bekas, panci bekas, mulai ditabuh.

Tong tang tong tung crek... Tong tong tung crek...

Kemudian masuk suara beduk;

Dag dug dug dag dug ... Dag dug dug dag dug...

Penulis adalah Nahdliyin kelahiran Sukabumi