Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Rumus DMNC untuk Pengembangan Ekonomi Pesantren

Rumus DMNC untuk Pengembangan Ekonomi Pesantren
Rumus DMNC untuk pengembangan ekonomi pesantren dari KH Irfan Soleh (dok. pribadi).
Rumus DMNC untuk pengembangan ekonomi pesantren dari KH Irfan Soleh (dok. pribadi).

KH Irfan Soleh
Unit usaha punya peran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan pesantren karena infrastuktur pendidikan menjadi prasyarat keberhasilan proses pendidikan dan unit usaha pesantren harus dikembangkan salah satunya dalam rangka meningkatkan kualitas infrastruktur pendidikan. Adanya unit usaha tidak lantas menyimpang dari fungsi pesantren karena fungsi pesantren dalam UU No 8 Tahun 2019, tidak hanya sebagai lembaga pendidikan dan dakwah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan pesantren dan masyarakat. Kesejahteraan ekonomi bisa dicapai salah satunya dengan mengembangkan unit usaha pesantren. Bagaimana caranya mengembangkannya? Kami singkat dengan rumus DMNC.

Rumus pertama adalah D yaitu delegating. Pesantren harus mendelegasikan pada Sumber Daya Insani yang fokus mengurusi Unit Usaha Pesantren. Usaha itu ibarat bayi yang harus betul-betul dijaga dan dirawat dengan baik. Biasanya kalau kyai yang mengurusi bisnisnya secara langsung tanpa didelegasikan selalu berbenturan antara ngurus santri dan bisnis. Terkadang bisnisnya maju tapi santrinya bubar, atau santrinya terurus tapi bisnisnya ancur-ancuran. Memang tidak mudah mencari orang yang tepat atau istilahnya the right man on the right place, tetapi harus dicoba. Kalau memungkinkan pelajari ilmu perekrutan dan penempatan misalnya dari buku Gary Dessler yang berjudul Human Resource Management atau konsultasikan pada mentor atau konsultan yang ahli di bidang manajemen sumber daya manusia. Paling tidak Pengasuh pesantren bisa menugaskan santri yang punya minat dan bakat wirausaha untuk berkhidmah secara khusus fokus pada unit usaha pesantren.

Rumus kedua adalah M yaitu marketing. Setelah ada orang yang fokus mengurus, dilanjutkan pada memastikan tersedianya pasar bagi produk unit usaha yang dijalankan pesantren. Marketing didahulukan karena usaha pesantren akan sia-sia jika tidak ada permintaan atau demand pada produk atau pelayanan yang kita sediakan. Marketing itu berhubungan dengan mengidentifikasi dan menghubungkan dengan apa yang dibutuhkan pasar atau customer. Tim unit usaha pesantren bisa mempelajari ilmu marketing manajemen dari mulai membuat rencana dan strategi pemasaran, menganalisis lingkungan, meriset pasar, menciptakan nilai bagi pelanggan, mengidentifikasi target dan segmen pasar dan lain-lain. Bisa dengan mempelajari buku-buku Marketing Management karya Philip Kotler misalnya atau menghubungi mentor dan konsultan yang ahli di bidang tersebut.

Rumus ketiga adalah N yaitu networking. Berjejaring dengan para pelaku usaha baik yang sama maupun berbeda dengan usaha kita. Dalam bahasa agama yaitu silaturahmi. Civitas pesantren sudah sangat faham hikmah dari silaturahmi bisa menambah rezeki. Tinggal bagaimana caranya agar jejaring kita bisa saling membawa manfaat dan maslahat satu sama lain. Bergabunglah dengan komunitas bisnis pesantren atau komunitas bisnis lainnya karena biasanya banyak ilmu dan peluang yang bisa kita dapatkan. Misalkan marketing kita berhasil namun ternyata kapasitas produksi kita belum mampu memenuhi permintaan pasar, dalam konteks ini jaringan juga diperlukan agar kita tidak mengecewakan customer. Terkadang ada permintaan barang yang kita belum produksi, kita bisa memenuhi permintaan tersebut dengan mencari supplier pesantren yang ada dalam jaringan kita. Jadi berjejaring itu bisa membuka dan menambah wawasan baru, media promosi, dan sarana mendapatkan peluang baik dari sisi demand maupun supply.

Rumus keempat adalah C yaitu capability, meningkatkan kapabilitas dalam pengelolaan usaha atau bisnis. Salah satu pola pikir yang membawa kesuksesan adalah terbuka untuk terus belajar. Jangan hanya karena kita sudah jadi kyai lantas berhenti belajar, jangan hanya karena sudah banyak santri kegiatan belajar pun terhenti justru seharusnya kita semakin haus mencari ilmu, dalam konteks bisnis, baik kyai maupun santri yang ditugaskan mengelola unit usaha pesantren harus terus meningkatkan ilmu bisnisnya agar kapabilitasnya pun terus meningkat. Indikatornya harus bisa mencoret sikap "saya sudah tahu", mau menjadi pendengar yang baik dan mau belajar pada ahlinya. Pelaku usaha pesantren setidaknya harus mengetahui manajemen keuangan, manajemen operasional, dan manajemen pemasaran. Sukses itu adalah menggapai apa yang diinginkan, dalam kurun waktu yang ditentukan, lewat usaha yang terukur. Sukses adalah gabungan motivasi, pengetahuan dan implementasi. Motivasi yang tinggi pantang menyerah disertai dengan ilmu dan amal akan menentukan kesuksesan unit usaha yang dijalankan pesantren. Rumus DMNC hanyalah bagian dari ikhtiar yang paling penting adalah eksekusinya. Johann Wolfgang Von Goethe pernah berkata, "Whatever you do, or dream you can, begin it. Boldness has genius, power and magic in it. Begin it now!"

Penulis adalah Pengasuh Pesantren Raudhatul Irfan Ciamis.