Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Perkembangan Pesantren Menurut Ajengan Ilyas Cipasung

Perkembangan Pesantren Menurut Ajengan Ilyas Cipasung
Almaghfurlah KH Moh Ilyas Ruhiat (Dok. Majalah Hidayatullah, 1997)
Almaghfurlah KH Moh Ilyas Ruhiat (Dok. Majalah Hidayatullah, 1997)

Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang tertua di Indonesia, yang telah mengalami fase-fase perubahan. Di negara kita ada pesantren yang mengikuti sistem salaf. Pondok pesantren seperti ini hanya mengajarkan ilmu agama melalui kitab-kitab kuning, tidak ditambah dengan ilmu pengetahuan umum. Mulai dari ilmu tauhid, fiqih, akhlak, Al-Qur’an, hadist dan tafsir-tafsirnya, serta hukum Islam.

Mulai tahun 1950-an, khususnya di Jawa Barat, pondok pesantren mengalami perkembangan yang baru. Sejumlah pondok pesantren mulai menambah lembaga formal di lingkungannya. Ada madrasah yang dibawahi Departemen Agama (Depag), juga ada sekolah-sekolah umum yang dibawahi Depdikbud. Madrasah berupa Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah yang mengikuti kurikulum Depag. Sedangkan sekolah umum, meliputi SD Islam, SMP Islam, dan SMA Islam yang kurikulumnya diatur Depdikbud. 

Ini dimaksudkan agar lulusan pesantren bisa juga mempelajari ilmu-ilmu umum di samping ilmu syari’ah. Santri bisa belajar ekonomi, pertanian, ketatanegaraan dan sebagainya. Itu salah satu strategi agar lulusan pesantren bisa terlibat dalam banyak bidang pembangunan, seperti lulusan sekolah umum.

Belakangan, muncul sistem pondok pesantren modern, seperti Gontor di Jawa Timur. Sistem ini menggabungkan antara sistem lama (salaf) dengan sekolah-sekolah. Ketiga sistem itu masih perlu dipertahankan karena masing-masing punya keunggulan. Sistem salaf membentuk ulama yang mendalami kitab kuning. Sitem kedua, dengan adanya lembaga pendidikan formal, bisa memenuhi kebutuhan penyuluh agama, termasuk tenaga ahli seperti hakim agama. Sedangkan sistem modern menghasilkan orang-orang yang punya pengetahuan praktis. Hanya saja sistem modern rata-rata Cuma bisa dijangkau oleh kalangan menengah ke atas.

Ketiganya masih perlu ada, karena masing-masing punya jangkauannya sendiri. Masyarakat yang dihadapi pun bermacam-macam. Santri dari sistem salaf biasanya menghadapi masyarakat lapisan bawah. Sedangkan santri dari dua sistem yang lainnya biasa dakwahnya di tempat-tempat resmi. Ketiga-tiganya masih perlu.

Setiap sistem itu tentu mempunyai kekurangan. Kekurangan sistem salaf, terletak pada penyampaian materi yang tergantung kemauan kiai. Seorang kiai bisa mengajar sambil berbaring atau duduk-duduk. Juga sangat sederhana dalam penyajiannya. Tapi sekarang, ada perubahan berupa tersedianya bangku-bangku dan kurikulum.

Tentu saja, sistem lainnya pun ada kekurangan yang perlu dipelajari untuk perbaikan. Santri dari dua sistem lainnya, sulit memusatkan perhatian pada satu mata pelajaran. Perhatiannya terbagi-bagi pada banyak mata pelajaran. Dulu, sistem lama, bisa menghasilkan ajengan dalam waktu tujuh tahun. Sekarang, tujuh tahun belum tentu menghasilkan ajengan. Karena di samping menghadapi kitab kuning, santrinya pun belajar kimia, biologi dan sebagainya.

Melihat jumlah santrinya, minat anak-anak masih lebih besar ke sistem salaf dibandingkan dua sistem lainnya. Santri sistem salaf sangat dibutuhkan di kampung-kampung. Untuk peringatan maulid dan isra’ mi’raj di daerah, yang paling pas membawakan ceramah adalah keluaran sistem salaf.

Soal Teknologi

Dalam menyikapi kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, para santri tidak hanya mempertimbangkan keuntungan duniawi tapi juga keuntungan di akhirat, sehingga pertimbangan-pertimbangannya lebih jauh. Tidak hanya kepentingan sekarang, tetapi juga kepentingan di masa akan datang. Karena itu, mereka agak lambat dalam mengantisipasi kemajuan-kemajua tersebut. 

Kemudian karena umat Islam itu kebanyakan terdiri dari orang-orang awam, artinya orang-orang  yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup atau tinggi, sehingga dalam mengambil langkah-langkah itu berpikirnya lambat. Orang lain sudah sedemikian maju, kita baru memikirkannya. Di samping itu, kesulitan umat Islam sendiri masih lemah, khususnya di bidang ekonomi dan lainnya.

Di sebagian pondok pesantren, telah didirikan lembaga-lembaga formal, yaitu sekolah-sekolah umum dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Ini di antaranya untuk mengantisipasi agar kader-kader umat Islam itu benar-benar komplit pengetahuannya dari segi keduniaan dan keakhiratannya. Di samping itu, di sebagian pondok pesantren telah ditingkatkan upaya-upaya utuk melatih para santri agar bila kembali ke daerahnya nanti – ketika mendirikan pondok pesantren – mampu menerpakan pengetahuan-pengetahuan ekonomi kepada para santrinya, dengan mendirikan koprasi-koprasi di lingkungan pondok pesantren. Si santri itu bukan saja mengembangkan ilmu pengetahuan agama yang didapatkannya, tapi juga bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan menerapkan kegiatan koperasi yang mereka dirikan.

(Disarikan dari wawancara KH Moh Ilyas Ruhiat dengan harian Kompas dan tabloid Adil tahun 1997)

Editor: Iip Yahya