Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Perempuan dalam Perspektif Sunda dan Islam

Perempuan dalam Perspektif Sunda dan Islam
Sakola Kautamaan Istri rintisan Dewi Sartika.
Sakola Kautamaan Istri rintisan Dewi Sartika.

Oleh: Rudi Sirojudin Abas 
Indonesia sangat menjunjung tinggi peran perempuan. Bentuk penghargaan negara terhadap eksistensi perempuan Indonesia telah dituangkan dalam Keputusan Presiden No 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 tentang semangat perempuan Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keputusan Presiden tersebut menjadi bukti nyata apresiasi negara terhadap eksistensi perempuan di Indonesia dan terhadap apa yang telah mereka lakukan sembilan puluh dua tahun silam, yaitu Kongres Perempuan Indonesia pertama yang dilaksanakan tanggal 22-25 Desember 1928, dua bulan pasca kelahiran sumpah pemuda 28 Oktober 1928. 
Pada kesempatan ini, tidak salahnya bagi kita sebagai insan yang terlahir melalui perantara perempuan, merenungkan kembali peran dan eksistensi perempuan dalam kehidupan ini. 
Untuk menghargai eksistensi perempuan, sejatinya tidak cukup hanya memuja dan memujinya saja. Tetapi yang paling penting dari itu adalah bagaimana sekiranya setiap insan manusia yang terlahir dari rahimnya untuk dapat menghargai eksistensinya, kehormatannya, kemuliaannya, serta kontribusinya, baik dalam hidup bermasyarakat, beragama, berbangsa maupun bernegara. 

Semangat perjuangan dan kerja nyata yang dimiliki seorang perempuan memang terlalu agung dan besar untuk dipuja. Tapi sekiranya setiap insan dapat mengambil pelajaran dari semangatnya. Setiap insan khususnya wanita diharapkan dapat memulai perannya di lingkungannya masing-masing baik lingkungan keluarga, masyarakat, maupun lingkungan pekerjaan tanpa memandang perbedaan status sosial sehingga para perempuan dapat melakukan sekecil apapun kerja nyatanya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Seorang perempuan memang banyak memberikan sumbangsih bagi keberlangsungan kehidupan. Diskriminasi atas kaum perempuan pada zaman sekarang sudah tidak relevan lagi. Memang secara historis, keberadaan perempuan pernah mengalami diskriminasi baik secara budaya maupun agama. Merujuk pada  masa silam, kita ingat akan eksistensi perempuan pada zaman jahiliyah. Masyarakat Arab jahiliyah akan merasa hina ketika sebuah keluarga melahirkan anak perempuan. Perempuan dianggap pembawa sial, sumber malapetaka, tidak bisa perang, tidak bisa diandalkan, dan lain sebagainya. Rasa hina dan malu dalam melahirkan anak perempuan pada zaman jahiliyah  terangkum dalam ayat suci al-quran surat An-nahl ayat 57-59 yaitu:

"Dan mereka menetapkan bagi Allah anak-anak perempuan. Maha Suci Allah, sedang untuk mereka sendiri (mereka tetapkan) apa yang mereka sukai (yaitu anak-anak laki-laki). Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl: 57-59)

Berpijak dari permasalahan di atas, penulis pada kesempatan ini mencoba untuk memberikan gambaran tentang eksistensi kaum perempuan sesungguhnya. Dalam hal ini penulis mencoba untuk menjelaskan bagaimana peran perempuan dalam perspektif budaya Sunda dan agama Islam. Bagaimana sebenarnya karakter perempuan dalam budaya Sunda, sehingga beliau layak menjadi inspirasi bagi generasi perempuan Sunda masa kini? Adapun dalam perspektif Islam, bagaimana sebenarnya kedudukan perempuan dalam Islam? Apa yang menjadi pijakan kaum perempuan sehingga dalam kehidupan sosial, posisi, hak, serta kewajibannya mendapatkan porsi yang sama dengan lawan jenisnya. Agama Islam banyak memberikan porsi serta ruang bagi para perempuan untuk bersaing dan berkompetisi bersama kaum pria.

Perempuan dalam Perspektif Sunda 
Dalam budaya primordial Sunda, kedudukan wanita dan pria sangat dihormati. Hal tersebut mengacu pada faham dualisme antagonistik atau completio oppositorum, bahwa keberadaan ini merupakan pasangan-pasangan saling bersebrangan. Manusia dalam budaya primordial Sunda percaya bahwa adanya sesuatu itu karena adanya yang lain, yang bersebrangan subtansi dengan dirinya. Tidak ada terang kalau tidak ada gelap, tidak ada dingin tanpa panas, tidak ada panjang tanpa pendek, tidak ada lelaki tanpa perempuan.
Segala sesuatu itu ada pasangannya, yaitu pasangan oposisioner. Dua pasangan kembar berbalikan itu saling mengadakan (eksistensi) saling menjelaskan, saling mengidentitaskan diri, saling membutuhkan dan saling melengkapi. Di dunia ini hanya ada pasangan dualitas sehingga dikenal sifat-sifat, kualitas-kualitas, nilai-nilai. Lelaki tidak akan ada tanpa perempuan dan perempuan tidak ada tanpa lelaki. Maskulinitas sebab dan akibat feminitas. Feminitas sebab dan akibat maskulinitas. Hidup di dunia ini untuk mengenal sifat-sifat dan sifat-sifat muncul dari kondisi dualitas. 
 

Ayatrohaedi dalam tulisannya, Citra Perempuan dalam Sastra Sunda (2002) salah satunya menyimpulkan bahwa: "Di masyarakat Sunda baik yang tradisional maupun masyarakat masa silam, perempuan memiliki kedudukan dan peran yang cukup penting. Bahkan kadang kala terkesan bahwa kedudukan perempuan itu demikian penting, sedangkan tokoh laki-laki muncul sebagai 'pelengkap' untuk mendukung keterhormatan dan kemuliaan perempuan". 

Kesimpulan tersebut memang beralasan karena bagi masyarakat primordial Sunda, perempuan itu perlambang Sunan Ambu. Sunan yang berasal dari Susuhunan  yang artinya disembah (dimuliakan). Ambu adalah ibu, pemberi kehidupan, pemelihara, penyelenggara keberadaan, pemberi cinta kasih. 

Dalam pandangan kosmologi masyarakat Sunda Lama, perempuan memang "pemberi hidup". Seperti dikatakan Ayatrohaedi, seolah-olah lelaki hanya "pelengkap" perempuan. Memang pelengkap, tetapi dalam arti pelengkap pasangan oposisi keberadaan. Pandangan demikian itu hendaknya dipahami dari sudut masyarakat Sunda yang hidup dari berladang (padi), yang dunia maknanya (nilai-nilai) berdasarkan pengetahuan dan penghayatan ladangnya. Perempuan dalam mengolah padi memang dominan. Perempuan ikut berladang, perempuan mengolah padi menjadi beras (menumbuk padi), mengolah beras menjadi nasi. Perempuan mengurus kehidupan di dalam rumah. Perempuan menenun pakaian seluruh keluarga. Perempuan (yang sudah bersuami) juga ikut aktif di luar rumah. Inilah sebabnya, rumah itu sendiri, dalam kosmologi Sunda, berarti "perempuan", asal mula kehidupan.

Berpijak dari uraian di atas, kedudukan dan eksistensi perempuan dalam budaya Sunda sangat dihormati. Dalam kehidupan orang Sunda anak terakhir dilahirkan (bungsu) selalu identik dengan anak perempuan. Seandainya anak yang terakhir adalah laki-laki, tetapi peran keibuannya tetap harus dimiliki. Terlebih lagi ketika yang menjadi anak terakhir adalah anak perempuan. Dalam hal kepemilikan rumah misalnya, rumah yang dimiliki oleh setiap keluarga Sunda adakalanya sering diberikan kepada anak terakhir. Maka tidak heran ketika sebagian keluarga di Sunda masih melaksanakan kebiasaan tersebut hingga saat ini. Bahkan dalam pembagian waris pun yang dalam bahasa al-quran lidzakari mitslu hadhi al untsayaini atau dalam istilah Sunda satangungan sa aisan kenyataannya disama ratakan, setelah hukum agamanya dipenuhi.

Perempuan dalam Perspektif Islam
Peran perempuan serta eksistensinya dalam mewujudkan khalifah fil ardhi banyak didapat dari beberapa literasi Islam. Sebut saja kitab suci al-quran, hadits, serta literasi kesejarahan peradaban Islam yang banyak membahas tentang persamaan peran antara perempuan dan laki-laki.

Dalam Al-Quran disebutkan bahwa perempuan mempunyai kesamaan hak dan kewajiban baik secara hablumminallah maupun hablumminannas.
"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana" (Q.S At-taubah ayat 71).

Dalam ayat yang lain, Islam sangat tegas menghilangkan diskriminasi pria atas wanita. Wanita dalam tradisi jahiliyah hanya sebatas objek, bahkan sering dijadikan komoditas perbudakan dan seksual. Wanita pun sering diasumsikan sebagai penghalang kemajuan baik dalam kancah peperangan, politik, pendidikan, maupun ekonomi. Maka Islam hadir untuk mengangkat kedudukan dan peran wanita serta memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi wanita untuk berkontribusi dalam berbagai sendi asfek kehidupan. Dalam al-quran surat Al-Ahzab ayat 35 disebutkan bahwa:

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang taat dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya serta laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut asma Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala besar".

Selanjutnya di beberapa hadits, Rasulullah saw. justru sangat memuliakan dan menghormati perempuan ketimbang laki-laki. Misalnya pada saat baginda Rasul saw. Ditanya seorang sahabat perihal "Siapa di antara manusia yang paling utama untuk dihormati?, Jawab beliau, "Ibumu”. Kemudian siapa lagi? Jawab Nabi saw.: "Ibumu". Kemudian siapa lagi? Jawab Nabi saw.: "Ibumu". Kemudian siapa lagi? Jawab Nabi saw. "Bapakmu" (H.R Bukhari dan Muslim). Hadits ini kemudian dikuatkan pula dengan sabda beliau, al jannatu tahta aqdaamil ummahaat, surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.

Dalam Q.S  At-Taubah ayat 122, orang-orang mukmin termasuk perempuan juga mempunyai ruang untuk memberikan kontribusinya bagi masyarakat, terutama dalam bidang ilmu pendidikan. 

"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya".
Dalam literasi kesejarahan Islam , tokoh-tokoh perempuan pun tampil terdepan. Sebut saja ummul mukminin Siti 'Aisyah yang pernah menjadi seorang panglima perang (pemimpin pertempuran) dalam perang Jamal. Ada lagi tokoh tasawuf perempuan Rabi'ah al 'Adawiyah yang merupakan salah satu contoh wanita yang sukses menempuh perjalanan tasawufnya hingga mampu menemukan nadlariyyah al mahabbah. Serta  sosok  Ratu Bilqis yaitu seorang raja perempuan yang memimpin sebuah negeri yang adil, makmur, aman, dan sentosa yaitu negeri Saba, negeri yang diabadikan menjadi sebuah surat dalam al-Quran, surat-Saba.

Dengan demikian, dalam Islam, eksistensi perempuan benar-benar mendapat tempat yang mulia, dia adalah menjadi mitra sejajar laki-laki, tidak seperti dituduhkan oleh sementara masyarakat, bahwa Islam tidak menempatkan perempuan sebagai unsur sub ordinat dalam pranata sosial. 

Perempuan dengan segala kemampuan berikut kapasitas yang dimilikinya sudah saatnya menduduki tempat-tempat tinggi dan terhormat. Di samping hal-hal yang melekat pada kodrat dirinya, perempuan mempunyai hak yang sama dalam mendapatkan peran semisal menduduki kursi Presiden, Wakil Presiden, Gubernur, Bupati, Kepala Desa, menjadi pemimpin di berbagai lembaga pemerintahan, lembaga-lembaga pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, agama, maupun hukum. Bahkan dalam kegiatan darurat (perang) sekali pun, kontribusi perempuan tidak boleh dianggap sebelah mata. 

Di era millenium ini, sudah saatnya kaum perempuan diberikan kesempatan dalam mempersiapkan diri melalui berbagai pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) demi mengangkat harkat derajat perempuan. Perempuan bukan hanya sebatas komoditas seksual dan menjadi sumber daya kelas dua di bawah laki-laki saja. Tetapi lebih dari itu perempuan harus menjadi mitra laki-laki dalam mewujudkan lingkungan yang gemah ripah repeh rapih loh jinawi dan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Hal inilah yang 14 abad lalu telah digelorakan oleh Islam.

Wallahu'alam bishawab.

Penulis adalah pemerhati budaya Sunda