Perbedaan Tingkatan Manusia

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
DR. KH. Abun Bunyamin, MA., Wakil Rais Syuriyah PWNU Jabar, Pengasuh Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta.
DR. KH. Abun Bunyamin, MA., Wakil Rais Syuriyah PWNU Jabar, Pengasuh Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta.

Oleh Dr. KH. Abun Bunyamin, MA


هُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ اللهِ وَاللهُ بَصِيْرٌ بِمَا يَعْمَلُوْنَ

“(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Q.S. Ali Imran : 163)

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menegaskan adanya tingkat-tingkat dalam pengelompokan manusia. Penempatan golongan manusia pada tingkatan tertentu berbanding lurus dengan amal perbuatannya.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Ishaq menyebutkan bahwa orang-orang yang berbuat kebaikan dan orang-orang yang berbuat kejahatan itu bertingkat-tingkat. Menurut Abu Ubaidah dan Al-Kisai, makna derajat ialah tempat-tempat tinggal, yakni tempat tinggal mereka berbeda-beda; begitu pula kedudukan mereka di dalam surga dan yang berada di dalam neraka. Sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah pada ayat lain:

وَلِكُلٍّ دَرَجتٌ مِمَّا عَمِلُوْا وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang telah dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’aam: 132)
Dalam Ma’alim at-Tanzil, Imam al-Baghawi rahimahullah mengutip pernyataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang mengatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang mengikuti ridha Allah dan mendapatkan murka-Nya berada pada posisi yang berbeda di sisi-Nya. Orang yang mengikuti ridha Allah akan mendapatkan pahala yang besar, sementara orang yang mendapatkan murka-Nya mendapatkan adzab yang pedih.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili rahimahullah menambahkan dalam Tafsir al-Munir bahwa derajat tertinggi ditempati oleh Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan derajat terendah di neraka ditinggali oleh golongan orang munafik. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الْمُنفِقِيْنَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ

“Sungguh orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS. An-Nisaa: 145)

Itulah mengapa di akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia Maha Melihat amal-amal hamba-Nya. Dia akan mencukupkan balasan atas semua amal mereka secara adil, tanpa menzhalimi satu kebaikan pun atau menambahkan keburukan.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan Imam al-Maraghi rahimahullah bahwa manusia akan menerima balasan yang berbeda-beda sebagaimana di dunia mereka saling mengungguli yang lainnya dalam keutamaan dan pengetahuan. Tingkatan-tingkatan tersebut merupakan akibat dari amal baik maupun buruk mereka selama di dunia. Dan satu-satunya yang mengetahui tingkatan-tingkatan tersebut adalah Allah Yang Maha Mengetahui.

Upaya Meninggikan Derajat

Derajat adalah fitrah setiap manusia, bahwa dia menginginkan kedudukan dan posisi yang tinggi. Meskipun semua manusia menginginkan kedudukan yang tinggi, akan tetapi kedudukan masing-masing mereka tidak sama. Namun, tinggi dan rendahnya kedudukan itu adalah pilihan manusia sendiri sesuai usaha yang dilakukannya.

Dalam ajaran Islam disebutkan beberapa sebab tingginya derajat seorang hamba. Pertama, iman dan amal shaleh. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ یَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَھُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَا

“Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi.” (Q.S. Thaha: 75)

Kedua, berilmu. Orang-orang yang menuntut ilmu, terutama ilmu syar’i, akan menjadi wasilah bagi amal shalih yang lain. Allah Ta’ala berfirman:

یَرْفَعِ للهُ الَّذینَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذینَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ وَ للهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبیرٌ

“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat; Dan Allah dengan apapun yang kamu kerjakan adalah Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Mujaadalah: 11)

Ketiga, membiasakan shalat malam saat orang lain terlelap, sebagai sarana taqarrub kepada sang Khaliq. Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى اَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

“Dan pada sebagian malam lakukanlah shalat tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Israa’: 79)
Keempat, bersikap iffah (menjaga kehormatan diri). Salah satu cara untuk menjaga kehormatan diri adalah tidak bergantung pada selain Allah Ta’ala. Orang yang menjaga diri dari menggantungkan harapan pada makhluk akan mencapai derajat yang mulia di sisi manusia, bahkan menjadi bukti kuat tauhid kita terhadap Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (Q.S. Al-Fatihah: 5)
Kelima, bersikap pemaaf dan tawadhu’. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ , وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا , وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ ِللهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

“Tidak akan berkurang suatu harta karena dishadaqahkan, dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan hatinya karena Allah, melainkan Allah angkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Dari sebagian sebab tingginya derajat manusia di sisi Allah tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa sebab-sebab tersebut berkutat pada tiga poin pokok, yaitu ilmu, iman, serta amal shalih. Seorang yang berilmu akan mendasarkan keimanan dan amalnya pada ilmu yang benar. Hal ini tentu akan menghindarkan mereka dari kesalahan dan kesesatan.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufiq dan hidayah-Nya sehingga kita dapat menempuh sebab-sebab tingginya derajat kita kelak di sisi-Nya. Aamiin.

Penulis adalah Pengasuh Pesantren Al-Muhajirin Purwakarta, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jabar.