Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Penonton Sering Merasa Lebih Hebat dari Para Pemain

Penonton Sering Merasa Lebih Hebat dari Para Pemain
Ilustrasi: www.kidsnews.com.au)
Ilustrasi: www.kidsnews.com.au)

Oleh KH Ahmad Ishomuddin 

Sikap sebagian rakyat terhadap pemimpinnya itu kadangkala ibarat penonton pertandingan sepak bola yang seringkali hanya mentargetkan terpenuhinya rasa puas bagi dirinya masing-masing. 

Sebagian penonton menyaksikan permainan dengan segala kekagumannya terhadap para pemain sepak bola yang diidolakan dan dijagokannya, mereka memuji, berteriak-teriak gembira, bertepuk tangan, tertawa mengekspresikan kebahagian, kegembiraan, dan kepuasannya. 

Sebaliknya, ada juga penonton yang merasa jengkel, marah, melontarkan aneka celaan, atau sikap menjengkelkan lainnya untuk mengekspresikan kekecewaannya terhadap permainan sepak bola profesional di lapangan yang sedang disaksikannya itu. Bahkan si penonton dengan segala celotehan dan analisisnya terkesan seolah lebih mahir, lebih profesional, atau lebih menguasai seni dan teknik permainan itu untuk memenangkan pertandingan dengan mencetak goal sebanyak-banyaknya. 

Tetapi, senyatanya bertanding langsung terjun di lapangan sepak bola itu tidaklah sesederhana dan tidak semudah yang dibayangkan para penontonnya yang selalu hanya berharap kepuasan, yakni mereka yang tidak mau tahu, tidak pula menghayati problematika sesungguhnya yang dialami oleh para pemain yang gigih berlomba untuk meraih kemenangan dengan segala resikonya. Pastilah tidak segampang berucap untuk menyiasati lawan, mengotak-atik laju bola, demi mencetak gol-gol indah yang spektakuler.

Para penonton yang suka protes tidak mau tahu semua itu, yang penting baginya hanyalah meraih kepuasan, bahkan mungkin hanya merasa puas setelah menyalah-nyalahkan, mengoblok-goblokkan, dan mencerca para pemain sepak bola yang menurutnya sama sekali tidak becus berkompetisi.

Demikian pula gambaran sebagian rakyat penonton yang merasa tidak puas itu tak sudi menaati aturan, tak pula mau dan mampu berpartisipasi menolong meringankan beban berat di pundak para pemimpinnya. 

Rakyat penonton semacam itu bahkan tidak pernah menaruh rasa hormat, tidak mampu membedakan antara menghina dengan mengkritik, tidak menyadari posisinya sebagai orang yang dipimpin dan orang lain telah resmi diangkat sebagai pemimpinnya, tidak juga tahu hak dan kewajibannya sebagai rakyat atas pemimpinnya itu. 

Rakyat penonton yang tidak pernah merasa puas hanya terpuaskan bila telah "bekerja" menyoraki, mencela, menyebar berita bohong, memfitnah, menyukai kegaduhan tawuran antar sesama, dan menusuk dari belakang pemimpinnya sendiri karena dirinya selalu merasa benar, merasa paling pandai, selalu merasa dizalimi, dan seterusnya. 

Sebagian "rakyat" penonton yang arogan itu bahkan menggelorakan dan menggalang semangat sesamanya karena ingin sesegera mungkin menyetop laju cepat kereta api sebelum saatnya tiba untuk berhenti di stasiun terakhir.

Demikianlah sekilas gambaran kehidupan politik masyarakat kita. Mereka yang berada di luar pemerintahan selalu ada saja yang merasa tidak puas, menilai pemerintahan telah gagal, tidak adil (zalim), kebijakannya tidak berpihak pada kepentingan rakyat, menjalankan pemerintahan dengan penuh kekurangan dan kecurangan. 

Sebaliknya, orang yang yang di luar pemerintahan itu merasa adil, bersih, tidak korup, mampu dan yakin sukses jika tampuk kekuasaan diserahkan kepadanya. Padahal perasaan semacam itu belumlah tentu bisa menyata. Bila kekuasaan diserahkan kepada sebagian kecil rakyat "penonton" yang tidak puas itu, belum tentu mereka mampu sukses menjalankan roda pemerintahan dengan benar-benar adil dan jujur demi kepentingan seluruh rakyat. 

Boleh jadi, mereka itu tidak memiliki kompetensi, tidak lebih bersih, tidak lebih amanah, dan tidak lebih dicintai dari pemimpin pemerintahan yang sedang berkuasa saat ini.

Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU