Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Pendidikan ala Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari

Pendidikan ala Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari
Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari
Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari

Oleh Heri Kuswara

Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari (selanjutnya Hadratussyekh saja) merupakan ulama besar, kharismatik bergelar pahlawan nasional. Beliau juga seorang pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan mungkin dunia, yaitu NU (Nahdlatul Ulama). Namun, harus diingat, dia juga sebagai seorang pendidik. 

Sebagai akademisi, bagi saya beliau adalah pendidik sejati, inspirator, motivator, dan sang transformer pendidikan. Model pendidikan ala Hadratussyekh yang wajib diteladani adalah perhatiannya terhadap pendidikan akhlak. Pola kepemimpinan pendidikannya menekankan pada pola kepemimpinan yang kharismatik. Kharismatik menurut pandangan penulis didasarkan pada sikap, karakter, akhlak, perilaku dan kepribadian terpuji yang patut diteladani dari seorang pendidik atau pemimpin dalam pendidikan. 

Salah satu dari sekian banyak karya Hadratussyekh di bidang pendidikan adalah mahakarya yang monumental berjudul Adab Al‘Alim wa al Muta'allim (etika orang berilmu dan pencarian ilmu). Kitab itu setidaknya dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) bagian. 

Bagian pertama membahas tentang keutamaan ilmu, keutamaan belajar, dan mengajarkannya. Bagian kedua, membahas tentang etika seorang dalam tahap pencarian ilmu. Bagian ketiga, membahas tentang etika seseorang ketika sudah menjadi alim atau dinyatakan lulus dari lembaga pendidikan. 

Ketiga bagian ini menurut penulis merupakan pengejawantahan dari perintah agama dan negara yang mewajibkan manusia atau warganya untuk berilmu, belajar (mencari ilmu) dan berakhlakul karimah. Sungguh sangat sempurna paktik model pendidikan ala Hadratussyekh untuk diterapkan di sepanjang zaman. 

Beberapa hal penting tentang model pendidikan ala Hadratussyekh yang sarikan dari berbagai sumber diuraikan secara singkat sebagai berikut:

1. Pendidikan adalah Memanusiakan Manusia

Model pendidikan Hadratussyekh yang memanusiakan manusia secara utuh menempatkan ruang pendidikan sebagai media yang sangat strategis dalam membangun dan mewujudkan akhlak mulia peserta didik. Beliau menjadikan pendidikan dan islam sebagai entitas atau satu kesatuan sistem yang tak terpisahkan. Pendidikan menurut beliau, mewujudkan peserta didik “menjadi makhluk yang takut atau bertaqwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya menjalankan segala perintah-Nya, siap menegakkan keadilan di muka bumi, dan beramal saleh serta hidup yang maslahat, ujungnya pantas menyandang predikat sebagai hamba yang lebih tinggi derajatnya dan paling mulia dari segala jenis makhluk Allah di muka bumi ini.” (Asy’ari dalam Lbs M,2020:86-87). 

2. Tujuan Pendidikan adalah Mendapatkan Kebahagiaan Dunia dan Akhirat

Dua tujuan utama pendidikan menurut Hadratussyekh adalah: 1) Menjadi insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Swt dan 2) Insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. 

Menurut penulis kedua tujuan mulia pendidikan Hadratussyekh ini terejawantahkan di dalam tujuan pendidikan nasional kita yang termaktub di dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi “tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

3. Tiga Aspek Sistem pendidikan

Sistem pendidikan ala Hadratussyekh berlandaskan Al-Qur’an yang diwujudkan dalam sebuah sistem pendidikan yang meliputi tiga aspek pendidikan yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Beberapa nilai yang diterapkan dalam pengelolaan sistem pendidikan beliau diantaranya: nilai teosentris, nilai sukarela dan mengabdi, nilai kearifan, nilai kesederhanaan, nilai kebersamaan, restu pemimpin (kyai/guru), (Rohina M. Noor dalam Pilo N, 2019:209). 

Ketiga aspek dan nilai pendidikan yang diterapkan Hadratussyekh ini menurut penulis merupakan sistem pendidikan yang sangat komprehensif dan tepat dipraktekkan dalam sistem pendidikan di Indonesia untuk menjadikan SDM yang cerdas, terampil, berkarakter, berdaya saing global namun berbasis kearifan lokal. 

Selain itu, Al-Qur’an sebagai landasan dalam sistem pendidikan Hadratussyekh ini akan mewujudkan generasi yang berakhlakul karimah. 
 
4. Karakteristik Pendidik 

Untuk menjadi pendidik dan pemimpin pendidikan yang sukses, Hadratussyekh sangat memperhatikan pentingnya mempunyai karakteristik sebagai berikut: Cakap dan profesional, kasih sayang, berwibawa, menjaga diri dari hal-hal yang merendahkan martabat, berkarya, pandai mengajar, berwawasan luas dan Mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadis, (Suwendi dalam Pilo N, 2019:208-209). 

Karakteristik yang wajib dimiliki oleh pendidik atau pemimpin pendidikan ala Hadratussyekh ini, sangat sejalan dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) menyatakan bahwa

“Kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”. 

5. Etika Peserta Didik

Selain karakter yang harus dimiliki oleh pendidik atau pemimpin pendidikan, yang membuat penulis kagum akan maha karya fenomenalnya Hadratussyekh ini adalah, beliau menggariskan pentingnya peserta didik memiliki sepuluh etika dalam pendidikan yaitu: “1) mensucikan hati dan jiwa dari berbagai macam goncangan keimanan dan keduniaan, 2) meluruskan niat, 3) tidak menunda dan mengulur ulur kesempatan menuntut ilmu, 4) bersabar dan bersifat qana’ah terhadap berbagai macam nikmat dan cobaan, 5) bijak mengatur waktu, 6) menyederhanakan apa yang dimakan dan minum, 7) bersikap wara’, 8) membuang makanan maupun minuman  yang bisa membawa pada kemalasan, kelalaian dan kebodohan, 9) mengurangi durasi tidur serta 10) menjauhi hal-hal yang kurang bermanfaat”. (Asy'ari dalam Lbs M,2020:88). 

Sebatas pengetahuan penulis, di negara kita belum ada aturan tertulis yang mengatur tentang etika siswa dalam ruang pendidikan, gagasan besar Hadratussyekh ini sangat relevan dan tentunya dapat diadopsi dalam perspektif kekinian. 

6. Metode Pembelajaran

Pembelajaran ala Hadratussyekh sebagian orang melihat terkesan konvensional atau tradisional, mengingat ketika itu pembelajaran dilakukan dilingkungan pesantren dengan metode seperti sorogan, bandongan, wetonan, dengan kajian utama klasik buku. 

Namun outcome dari metode pembelajaran yang katanya konvensional dan tradisional ini faktanya banyak melahirkan ulama/kiai besar, pendidik, pemimpin pendidikan dan tokoh nasional teladan bangsa. 

Meskipun Hadratussyekh memposisikan guru (pendidik) sebagai subjek dan murid sebagai objek, namun yang perlu digarisbawahi adalah beliau mewajibkan guru tidak hanya sebagai penyampai pengetahuan bagi siswa, tetapi juga sebagai bagian yang mempengaruhi pelatihan signifikan dari perilaku siswa (etika). 

Di sinilah sejatinya substansi dari seorang guru yaitu digugu dan ditiru terutama dalam etika, akhlak dan keilmuannya.

7. Syarat Kesuksesan Pembelajaran
Kesuksesan dalam pendidikan (pembelajaran) akan dapat diraih manakala setiap pendidik atau peserta didik memperhatikan kesehatan jasmani dan rohaninya. Hadratussyekh sangat peka dan detail terhadap pentingnya kesehatan ini.

Beberapa persyaratan bagi peserta didik yang harus diperhatikan menurut Hadratussyekh adalah sebagai berikut: 

1). Anjuran untuk menjaga Kesehatan. Kesehatan adalah hal penting dalam proses pembelajaran yang dilakukan, agar proses pembelajaran berjalan lancar dan kondusif, 

2). Anjuran untuk menjaga pola makan. Tentu bukan berarti makan dan minum yang banyak namun porsinya yang sesuai atau yang cukup, juga bukan berarti harus makan dan minum yang mahal tetapi yang menyehatkan dan menyegarkan. 

3). Anjuran untuk berolahraga. Olahraga menjadi anjuran persyaratan dalam pembelajaran agar peserta didik dapat menjaga kebugaran jasmaninya, 

4). Anjuran untuk beristirahat dan tidur secukupnya. Istirahat dan tidur yang cukup akan membuat peserta didik fokus dan sungguh-sungguh dalam mengikuti pembelajaran yang dilakukan. 

5). Anjuran menjaga kebersihan. Kebersihan disini adalah bersih secara lahiriyah maupun batiniyah ((al-Abrasyi dalam Lbs M, 2020:89).
 
8. Teladan Budaya Literasi 

Kecerdasan (Hadratussyekh) dalam mendidik generasi bangsa tidak saja dilakukan secara langsung disampaikan melalui ruang-ruang pesantren, namun lebih dari itu, beliau curahkan semua ide, gagasan, pemikiran dan referensi dari berbagai sumber terpercaya kedalam bentuk tulisan hingga melahirkan banyak kitab/buku, artikel hasil karyanya. Inilah kehebatan Hadratussyekh kitab/buku, artikel buah karyanya menjadi rujukan para ulama/kyai/ustad, santri/siswa/mahasiswa, akademisi bukan hanya di Indonesia namun di banyak negara di dunia. Hadratussyekh memberikan contoh teladan kepada para pendidik dan pemimpin pendidikan untuk senantiasa cerdas dalam literasi membaca dan menulis.

9. Tiga Perspektif Pendidikan ala Hadratussyekh

Setidaknya terdapat tiga perspektif Hadratussyekh dalam pendidikan yaitu: 1) ilmu dan agama adalah sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan, dimana menuntut ilmu merupakan perintah agama, dan agama merupakan ilmu yang paling utama dari semua ilmu yang wajib dituntut. Beliau menghadirkan agama sebagai pondasi ilmu dalam menuntut ilmu lainnya. 

Kedua, pendidikan menurut beliau harus memuat nilai-nilai moral melalui nilai-nilai estetis yang bernafaskan sufistik. Ini tercermin dari pandangannya bahwa keutamaan dan kedudukan ilmu berada pada posisi yang sangat istimewa untuk orang-orang yang niatnya benar-benar lillahi ta’ala, suci dan lurus jiwanya dari segala macam sifat jahat. 

Ketiga, Hadratussyekh dalam model pendidikannya senantiasa menerapkan prinsip-prinsip Ahlusunnah wal-Jama’ah yaitu tawazun (seimbang), tawassuth (moderat/tengah-tengah/sedang-sedang/tidak ekstrem kiri tidak ekstrem kanan), ta‘adul (adil) dan tasamuh (berperilaku baik/saling menghormati/lemah lembut dan saling pemaaf). 

Sembilan model pendidikan ala Hadratussyekh ini tentu hanya sekelumit informasi yang penulis dapatkan dari berbagai sumber yang tentunya merujuk pada salah satu maha karya beliau yang fenomenal dibidang pendidikan yang termaktub dalam kitab Adab Al‘Alim wa al Muta'allim. Sudah pasti masih sangat banyak ide, gagasan dan pemikiran beliau yang dapat dijadikan referensi utama bagi pendidik dan pemimpin pendidikan disepanjang jaman. 

Semoga sekelumit informasi ini dapat menjadi referensi bagi pendidik dan pemimpin pendidikan khususnya di Indonesia. Wallahu a'lam. 

Penulis adalah Ketua Departemen Pengembangan SDM dan Kajian Strategis Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu)