Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Pak Syair Kepala Sekolah SMP NU Sumedang 1963 Hanya dengan SK Surat Al-Fatihah

Pak Syair Kepala Sekolah SMP NU Sumedang 1963 Hanya dengan SK Surat Al-Fatihah
Pak Syair di kediamannya, di Sumedang (Foto: NU Online Jabar/Abdullah Alawi)
Pak Syair di kediamannya, di Sumedang (Foto: NU Online Jabar/Abdullah Alawi)

Namanya Syair. Hanya Syair, tak ada nama belakangnya. Dia tak mengerti kenapa orang tua menamakannya seperti itu misalnya dengan harapan menjadi sastrawan yang terampil menulis puisi atau novel; tidak tahu. Pokoknya semenjak dia ingat, namanya Syair. 

Jika menyimak perjalanan hidupnya, ia adalah penyair, tapi bukan dengan kata-kata, melainkan dengan amal perbuatannya, terutama dalam dunia pendidikan, lebih khusus lagi dalam pendidikan di Nahdlatul Ulama Kabupaten Sumedang.

Ia adalah Kepala Sekolah pertama Sekolah Menengah Pertama (SMP) NU Sumedang yang berdiri atas inisiatif tokoh NU Sumedang KH Moh. Syatibi pada tahun 1963. 

Syair masih ingat waktu didaulat menjadi Kepala Sekolah SMP NU, ia baru lima tahun menjadi guru agama yang berstatus pegawai negeri, yaitu sejak 1958. Waktu itu memang masih langka sekali aktivis NU yang menjadi guru. 

Ia dipanggil ke kediaman KH Moh. Syatibi yang dikenal Mama Syatibi itu di dekat Masjid Agung Sumedang. Ia pun memenuhi panggilan itu gurunya itu yang mengajarnya membaca Al-Qur’an dan tata cara ibadah saat ia menimba ilmu di Madrasah Islam Sumedang (MIS) pada tahun1948. Di sekolah itu ia mendapatkan kalimat penting dari Mama Syatibi yang diingatnya hingga hari ini: 

“Kabeh elmu ala, geus bisa mah moal hese mamawa, tinggal kumaha mawana. (semua ilmu harus dipelajari, kalau sudah menguasainya tak akan susah untuk dibawa, tergantung kita yang membawanya)”

Saat ia tiba di kediaman Mama Syatibi, telah hadir Oyo Faturahman, Aceng Dimyati, Adun Abdul Kholik (putra Mama Syatibi), dan Jalil Hermawan. Dalam rapat itu ia mendengarkan maksud dan tujuan pertemuan itu, tiada lain mendirikan sekolah NU. Ia hanya mendengarkan, tapi ujung-ujungnya Mama Syatibi memintanya untuk menjadi kepala sekolah. 

Dan ternyata, seluruh orang yang hadir di situ menyetujuinya. Ia tak bisa mengelak. Perintah guru mau tidak mau harus diembannya. 

“SK-na mah ku baca surat Al-Fatihah we nya,” kata Mama Syatibi.

Kemudian semua orang tertunduk membaca surat Al-Fatihah berjamaah sebagai SK pengangkatan Kepala Sekolah SMPNU pertama di Sumedang.

Kemudian hal-hal yang menyangkut urusan operasional sekolah dibicarakan kemudian. Pertemuan itu hanya mengatakan kepada kepala sekolah bahwa sudah ada calon murid sebanyak 12 orang. Kelas tempat belajar mengajar diperbolehkan menggunakan ruangan kelas MIS yang telah berdiri sejak 1925, sejak Mama Syatibi tinggal di Sumedang.   

Dan kini, SMPNU dengan SK Al-Fatihah itu masih berdiri di Jalan Prabu Geusan Ulun, Sumedang, berdampingan dengan SDIT As-Samadani, sekolah dasar yang dikelola para pengurus NU. Sebagaimana awal berdiri, statusnya tetap dikelola di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. 

Pada perkembangannya, Pak Syair menjadi sekretaris lembaga tersebut hingga menjadi penasihat pada masa tuanya. Pada masa-masa menjadi sekretaris itulah terjadi perkembangan signifikan. Ia bersama pengurus lain, mampu mendirikan 36 SDNU, 12 MTs NU, dan 1 SMP NU, menjadi dua jika ditambah dengan SMP yang dikelolanya. 

Lembaga-lembaga pendidikan itu, mampu bertahan tetap menjadi milik NU sampai kini tanpa pernah berubah status meskipun NU pernah berada pada rezim yang penuh tekanan. Kemampuan itu tentu saja adalah keterampilan para tokoh dan pengurus NU di Sumedang membaca dan menyiasati semangat zaman. 

Bercita-cita Jadi Pilot
Pak Syair adalah anak keenam dari 10 bersaudara dari pasangan Pak Edo dan Min Mainah. Masa kecilnya ia mengaku pernah bercita-cita menjadi seorang pilot. Impiannya menjadi seorang pilot terbilang langka untuk anak-anak di masa itu, tapi masuk akal karena tetangganya ada yang menjadi seorang pengemudi pesawat terbang. 

Tempat Pak Syair lahir dan tinggal tak jauh dari Gedung Negara, kantor Bupati Sumedang dan Masjid Agung Sumedang. Penduduk yang tinggal di sekitar pusat pemerintahan kemungkinan besar memiliki informasi dan interaksi yang jauh berbeda dengan mereka yang di pedalaman. 

Tak heran kemudian jika Syair memiliki kesempatan untuk mendapatkan ikatan dinas (beasiswa) menjadi calon guru agama di Kota Bandung. Selepas menyelesaikan studinya, tahun 1958, ia langsung diangkat menjadi guru agama di Sumedang.   

Selama ikatan dinas itu, ia mengisahkan masa-masa nakalnya. Anak muda daerah yang datang ke kota Bandung menemukan hal-hal baru. Di antaranya bioskop. Ia pernah menghabiskan waktu luangnya untuk pergi ke gedung bioskop. Kemudian, kegemarannya itu mengganggu studinya karena ia menjadi bolos sekolah. Akhirnya ia harus menanggung risiko tidak naik kelas. 

Uwa mah liwar keur ngora mah,” katanya sambil tertawa nikmat.  

Namun, dengan sekuat tenaga ia memulihkan studinya agar jangan mengecewakan kedua orang tuanya. Selepas lulus, ia langsung menjadi PNS dan mengabdi dalam pengembangan pendidikan NU di Sumedang. Reputasinya dalam pengabdian, ia sempat diundang ke beberapa daerah. 

Kariernya sebagai PNS dan kepala sekolah di bawah naungan Kementerian Agama, pernah menjabat sebagai Ketua Kelompok Kerja Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri Jawa Barat 1987-1998, yaitu sampai pensiun.

Pada masa mengemban jabatan itu, ia sempat menjadi tim penulis buku panduan untuk para kepala sekolah di lingkungan Kementerian Agama di tingkat pusat.

Di masa tuanya, ia berharap agar para pengurus Lembaga Pendidikan Ma'arif NU di Jawa Barat tetap bersemangat dalam mengembangkan pendidikan NU sesuai dengan kebutuhan zaman.

"Ulah poho (jangan lupa) silatrurahim jeung (dengan) semua pihak, terutama dengan guru-guru NU sendiri dan tokoh-tokoh NU," katanya. Menurutnya itulah kunci keberhasilan pendidikan NU di Sumedang.  

Ia juga berharap pertemuan itu dilakukan secara rutin dilakukan LP Ma'arif NU Jawa Barat. Dia sendiri mengaku ingin bersilaturahim dengan guru-guru NU se-Jawa Barat. 

Penulis: Abdullah Alawi