Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Pak Agus dan Tragedi Bubat

Pak Agus dan Tragedi Bubat
Perkiraan lokasi Perang Bubat (Foto: historia.id)
Perkiraan lokasi Perang Bubat (Foto: historia.id)

Oleh Iip Yahya
Menurut dokumen surat elektronik, saya pernah berkomunikasi dengan Pak Agus Sunyoto pada awal 2010. Saat itu ia lazimnya disapa Pak atau Mas. Disapa Kiai atau Romo Kiai itu, kalau tidak salah, setelah menjadi Ketua PP Lesbumi. 
Seperti diceritakan banyak koleganya, perjumpaan dengan Pak Agus pastilah di Lantai 5 PBNU. Di markas besar NU Online. Saya pun sesama "pengguna rutin" karpet hijau ruang redaksi itu, sempat ngobrol panjang soal Perang Bubat.
Pak Agus menuturkan perspektif yang berbeda tentang Perang Bubat yang dinilai sebagai ganjalan psikologis hubungan orang Sunda dan Jawa itu. Kalau Gus Dur melihat perang tersebut dari perspektif agama, pemurnian agama Hindu, Pak Agus melihatnya dari sisi pemurnian keturunan. Bahwa pewaris Majapahit haruslah keturunan Daha. Jadi tidak boleh ada garwa padmi dari luar.
"Kalau njenengan sudah ada tulisannya, nanti saya tawarkan ke Redaksi Pikiran Rakyat."
"Ya nanti saya tulis," jawabnya ringan. "Minta alamat email sampeyan," lanjuntya. Dia pun memberikan alamat email yang unik: dewasimha@....
Saat itu Pemred PR Budhiana Kartawijaya kerap menugaskan saya menelisik hal-hal penting yang secara umum dilupakan atau diabaikan. Termasuk soal Perang Bubat Perspektif Jawa Timur ini. 
Artikel Pak Agus lalu dimuat pada hari Selasa, 30 Maret 2010 di rubrik features. Tak lama kemudian direspons oleh Kang Uu Rukmana yang menyanggah sejumlah pendapat Pak Agus.
Saya ingin mengenang beliau sebagai orang yang entengan, apalagi menyangkut berbagi ilmu dan informasi. Tidak pelit berbagi sumber. Karena terlatih sebagai wartawan lapangan, ia memang bisa menulis dengan cepat dan runut. Termasuk ketika diminta kontribusi untuk buku NU Penjaga NKRI yang digawangi oleh Mbak Rosalia Emmy dkk. 
"Pak, ada naskah yang belum pernah dimuat?"
"Ada, ya nanti saya email."
Seentengan itulah beliau. Teladan bagi kami yang sama-sama meniti jalan sunyi sebagai penulis partikelir.
Semoga berbahagia di alam keabadian, Pak. Njenengan bisa bersua dengan sejumlah pelaku sejarah yang pernah ditulis. Tidak perlu dikabarkan soal hasil pertemuannya ya, Pak, biar anak-anak muda pesantren mau meneruskan jejak njenengan: bertanya, mencari dan menggali informasi.
Penulis adalah direktur Media Center PWNU Jabar