Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Oto Iskandar di Nata yang Selalu Gelisah (Bagian 2-Habis)

Oto Iskandar di Nata yang Selalu Gelisah (Bagian 2-Habis)
Oto Iskandar di Nata dan makam simboliknya di Pasir Pahlawan Lembang.
Oto Iskandar di Nata dan makam simboliknya di Pasir Pahlawan Lembang.

Oto Iskandar di Nata, lahir 31 Maret 1897. Wafat, 20 Desember 1945.
Oleh Iip Yahya
Hampir sepuluh tahun menggumuli dokumen Oto Iskandar di Nata, membawa saya pada satu kesimpulan: ia sosok yang selalu gelisah. Sejak belia ia gigih mempertahankan kebenaran yang diyakininya. Ia akan ngotot membela keyakinannya, tetapi tak ragu meminta maaf jika salah. Oto tak segan berpindah haluan organisasi jika prinsip yang diyakininya telah diselewengkan. 

Tahun 1917 namanya tercatat mengikuti Kongres Pasoendan sebagai utusan dari Purworejo saat ia sekolah di HKS (Sekolah Guru Atas). Rupanya perkembangan Pasoendan saat itu tak menarik baginya. Namanya tak tercantum lagi dalam kongres berikutnya dan tiba-tiba publik Sunda dikagetkan oleh pidatonya dalam vergadering Boedi Oetomo (BO) cabang Bandung, 12-13 September 1921.  Di gedung pertemuan Merdika, Oto selaku wakil ketua BO Bandung, mengemukakan konsepnya tentang persatuan. Untuk menuju bangsa yang merdeka, menurutnya, harus dalam satu wadah perjuangan. 

Secara kebetulan pada masa itu Pasoendan sedang turun pamor, kongresnya yang terakhir hanya dihadiri 70 orang. Sementara pertemua propaganda BO dihadiri tak kurang dari 400 orang. Tak mengherankan jika Oto sangat percaya diri mengajak anggota Pasoendan untuk bergabung dalam satu wadah perjuangan, yaitu BO. Tentu saja ajakan Oto mengundang pro dan kontra. Apalagi ada ucapannya dalam merespon tanggapan peserta yang “melukai”, khususnya bagi anggota Pasoendan.

Baca juga: Oto Iskandar di Nata Setelah 75 Tahun (Bagian 1)

Oto saat itu bisa disebut njawani, sangat menjiwai konsep Jawa tentang persatuan yang harus diimplementasikan dalam kesatuan. Prestasinya dalam membangun BO baik di Bandung maupun saat di Pekalongan, membuatnya pernah masuk dalam kepengurusan pusat BO. Di Pekalongan ia menjadi anggota dewan kota mewakili BO. Ia benar-benar kader BO tulen. 

Ketika BO semakin memihak kepentingan priyayi Jawa, sesuai wataknya yang terus gelisah, Oto pun keluar. Lalu tawaran untuk menjadi pengurus Pasoendan pun datang. Kebo balik pakandangan, Oto menerima jabatan sekretaris Pasoendan pada Kongres ke XIII tahun 1928 dan setahun kemudian menjadi ketua umumnya. Dalam surat terbukanya yang dimuat orgaan Pasoendan (Mei, 1929), Oto mengungkit  peristiwa tahun 1921 itu. Secara jantan ia meminta maaf jika ucapannya waktu itu membuat hati anggota Pasoendan terluka.

Kehadiran Oto dalam Pasoendan adalah darah baru yang ditunggu-tunggu. Ia segera menjadikan Pasoendan sebagai shadow gouverment, yang susunan pengurusnya mengikuti struktur pemerintahan Hindia Belanda. Tak mengherankan saat ia mulai masuk ke dalam Volksraad, ia didukung dengan data akurat yang didapat dari para pengurus Pasoendan.  Itulah yang membuatnya capetang beradu argument dengan anggota Volksraad lain atau dengan wakil pemerintah. Ia fasih berbicara semua bidang yang terkait langsung dengan kepentingan publik.  Pasoendan pun menjelma menjadi tumpuan masyarakat. Nama Oto tak hanya harum di kalangan orang Sunda, bahkan para pekerja pelabuhan dari Makassar hingga Belawan. seperti diberitakan Harian Pemandangan (29/10/1937), megikuti sepak terjangnya selama di Volksraad.

Salah satu hal yang layak ditiru dari Oto adalah kesadarannya pada kaderisasi. Ia memang memimpin Pasoendan sejak 1929, tetapi sekretarisnya selalu berganti. 

Oto menggunakan cara-cara modern dalam mengelola Pasoendan. Ia menciptakan tiga lapis publikasi untuk mendukung sosialisasi program-programnya. Pertama, orgaan atau media internal bernama Pasoendan (sebelumnya bernama Somah Moerba dan Papaes Nonoman). Kedua, harian Sipatahoenan sebagai corong organisasi kepada masyarakat Sunda. Ketiga, koran berbahasa Indonesia yang mengabarkan Pasoendan kepada publik nasional, di antara yang paling intensif adalah Harian Pemandangan, kebetulan pemiliknya adalah Haji Une Djoenaedi, juragan karet asal Manonjaya. 

Selain itu, karena aktivitasnya yang populis, media berbahasa Belanda pun mau tidak mau memuat berbagai ucapan atau tindakannya. Nama Oto dengan mudah kita temukan jika menelusuri media-media Hindia Belanda tahun 1930-an. Pendeknya, Oto berhasil membangun pencitraan yang positif untuk organisasi dan juga reputasi pribadinya.

Pasoendan saat itu menjadi organisasi modern yang menjadi kancah alternatif bagi orang Sunda untuk “naik derajat” menjadi elit baru melalui proses pendidikan dan tempaan organisasi. Oto membuat roda organisasi bergerak cepat dan terpublikasi dengan sangat baik sehingga hasilnya dirasakan oleh khalayak banyak. 

20 Desember 2020 ini, dalam rangka memperingati hari wafat Oto yang 75, sudah selayaknya nonoman Sunda ikut gelisah, mempertanyakan segala hal tentang tatar Sunda yang makin terdesak kekuatan-kekekuatan besar di sekelilingnya. Menggugah, menggugat, mencari jawaban dan menemukan jalan keluar. Masih adakah masa depan untuk meraih kesejahteraan di tanah pakusarakan yang subur ini?  

Penulis adlah penganggit buku Oto Iskandar di Nata the Untold Stories.