Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Nurhayat Amal Hasan, Guru Madrasah Diniyah dengan Upah Rp 150 Ribu Per Bulan

Nurhayat Amal Hasan, Guru Madrasah Diniyah dengan Upah Rp 150 Ribu Per Bulan
Nurhayat Amal Hasan saat mengajar di madrasah (Foto: NU Online Jabar/Sri Melynda)
Nurhayat Amal Hasan saat mengajar di madrasah (Foto: NU Online Jabar/Sri Melynda)

Majalengka, NU Online Jabar 
Sabtu malam 31 Juli 2021, saya menghubungi Nurhayat Amal Hasan tentang aktivitas perihal dirinya yang kini sedang mengabdi menjadi seorang guru di Madrasah Diniyah Miftahussibyan di bawah naungan Yayasan Nurussyahid, Majalengka.

Pemuda lulusan Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon ini menjadi guru lebih setahun ini. Namun, menurutnya menjadi guru bukanlah sebuah profesi, tapi kewajiban.  

“Saya sering teringat dengan apa yang dikatakan oleh guru-guru saya di pondok, jadikan memberi ilmu itu sebagai sebuah kewajiban. Bukan sebagai pekerjaan atau profesi,” katanya

Menurut dia, ucapan para guru tersebut menjadi sebuah hal yang dipegang teguh saat pulang kampung. Di tengah masyarakat, santri mendapat anak-anak. Mereka adalah generasi penerus yang perlu mendapatkan sentuhan pendidikan keagamaan sejak dini akan jadi seperti apa. Itulah yang menjadi motivasi Hayat untuk terus mengabdi mengajarkan di madrasah.

Di masa pandemi ini, memang tak mudah menjadi guru. Meskipun negara saat ini sedang gencar dengan pembaharuan teknologi dan komunikasi, nyatanya menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh dinilai tidak sepenuhnya efektif untuk anak. Akibat hal tersebut pembelajaran akhirnya dengan tetap muka serta menerapkan protokol kesehatan  saat pembelajaran.

“Pembelajaran hari ini kembali di-offline-kan karena jika online tugas anak-anak tidak terkontrol.  Ada yang rajin banyak juga yang tidak dikerjakan,” ujar Ketua PMII Komisariat STAIMA Cirebon.

Pembelajaran di madrasah, lanjut Hayat, haruslah dibimbing secara langsung oleh guru karena pembelajaran yang diajarkan terkait dengan belajar shalat, bacaan Al-Qur’an dan ilmu agama lainnya. Jika tidak dibimbing langsung oleh guru terkesan kurang afdol, terlebih diantaranya ada orangtua yang tidak terlalu paham terkait ilmu agama. Jika bukan guru siapa yang akan mengajarkan.

“Kadang orangtua memasukan anak ke madrasah agar anaknya ngerti agama, karena merasa gak ngerti makanya dimasukkan dengan harapan ada yang bimbing” tegasnya kemudian.

Kegiatan mengajar dilakukan Senin hingga Sabtu. Pandemi membuat pembelajaran menjadi lebih relatif singkat dari biasanya. Pembelajaran tidak hanya terkait tugas yang harus dituliskan, melainkan ada pelajaran yang harus dilakukan secara tatap muka. Tidak sedikit orangtua terkadang mengeluhkan sistem pembelajaran yang diharuskan secara daring.

Sepanjang menjadi pengajar, menjadi guru adalah sebuah pengabdian yang luar biasa. Tidak semua orang kuat untuk menjalaninya. Menurutnya tidak banyak orang yang akan memilih untuk menjadi guru madrasah terlebih gaji yang tidak seberapa. Gaji yang diterima menjadi guru adalah 100-150 ribu per bulan. Tetapi karena pandemi, honor terpaksa nunggak sampai ada pemasukan terlebih dahulu

“Menjadi guru adalah mengabdi yang sebenar-benarnya mengabdi, karena jika tidak ada guru madrasah  siapa lagi yang mau mengajarkan ilmu terkait agama,” pungkasnya.

Pewarta: Sri Melynda
Editor: Abdullah Alawi