Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

NU di Mata Mang Kodel, Seorang Penari Cum Pemusik

NU di Mata Mang Kodel, Seorang Penari Cum Pemusik
Mang Kodel (Foto: NU Online Jabar/Bagus)
Mang Kodel (Foto: NU Online Jabar/Bagus)

Ti (dari) Wawan Hermawan…  Dubai, hadir…, alhamdulillah, hatur nuhun…,” kata Soni Bebek, host Guar Budaya, saat mengabsen komentar-komentar dari penonton acara Guar Budaya yang ditayangkan di YouTube NU Jabar Channel, Jumat (19/3) pukul 19.00 WIB. 

Sedetik kemudian, mata kamera mengarah kepada Mang Kodel, vokalis cum alok Guar Budaya, yang selalu berdampingan dengan Alex, pemain kacapi. Soni Bebek selalu menyebut keduanya sebagai tim kacapruk. 

Dubai badu bangpak,” kata Mang Kodel refleks sembari kedua tangannya seolah-olah sedang memukul gendang di udara.   

Sontak Guar Budaya dengan bintang tamu Ki Dalang Dadan Sunandar Sunarya terseret pada hiruk-pikuk gelak tawa. Termasuk penonton dan kru acara tersebut di studio Media Center PWNU Jawa Barat, Kota Bandung. 

“Dubang! Dubang! Dubang, sanes Dubai!” Ki Dalang Dadan Sunandar Sunarya berusaha meluruskan. “Dubai, Dubai maneh apal teu? Dubai dimana?” Ki Dalang Dadan malah semakin membelokkan acara dari pembahasan wayang. 

Untuk mengetahui selengkapnya bisa ditonton di channel di bawah ini:

Obrolan lantas membicarakan letak geografis Dubai, ibu kota negara Uni Emirat Arab yang berada di Timur Tengah. Tentu saja ini keluar dari rancangan tim kreator Guar Budaya. 

Mendapat pertanyaan itu, Mang Kodel pun menjawab bahwa Dubai terletak berdekatan dengan Korea. Jawaban itu disangkal Ki Dalang Dadan Sunandar yang menyebutkan bahwa Dubai terletak di sekitar Australia. 

Kodel: Koboy Deleka Putra Tentara
Mang Kodel adalah alias dari Dede Nuryaman lahir di Subang, Jawa Barat pada 1971. Ia mendapat panggilan Kodel sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Negeri Bandung yang sekarang menjadi SMKN 10 Bandung. 

Menurut dia, Kodel artinya koboy deleka, maksudnya iseng atau senang heureuy. Artinya dia senang iseng mengerjai teman-temannya. Watak isengnya terbawa saat ia menjadi vokalis cum alok Guar Budaya sehingga dirinya kadang menjadi bulan-bulanan bahkan jadi objek penderita host dan bintang tamu acara itu. 

Iseng yang abadi melekat pada dirinya. Nama Kodel pun menempel hingga kini. Bahkan orang lebih mengenal Kodel daripada nama aslinya.  

“Jika ke kampus ISBI nanya Dede Nuryaman, sering orang tidak tahu, tapi kalau Kodel, tahu semua,” kata ASN sebagai Pranata Laboratorium Pendidikan di ISBI selepas Guar Budaya pasal kelima di kantor PWNU Jawa Barat, Jumat (12/3) lalu. 

Mang Kodel merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya adalah seorang tentara. Namun anehnya seorang tentara mengarahkan anaknya ke jurusan seni. Bahkan dengan sedikit paksaan. Kodel yang saat itu remaja, mengaku ogah-ogahan masuk SMKI. Ayahnya sendiri yang mendaftarkannya ke sekolah karawaitan pertama di Jawa Barat itu. 

Menurutnya, sang ayah yakin bahwa anaknya itu harus menempuh jurusan seni tari hanya dengan satu bekal, Kodel pada masa kanak-kanak pernah menari jaipong pada saat kenaikan kelas di Sekolah Dasar. Mungkin sang ayah merasa terkesan dengan tariannya itu. 

Belakangan Mang Kodel tahu ternyata ayahnya juga meminati seni. Di kesatuan tentaranya, sang ayah kerap memainkan semacam drama bodoran bersama teman-temannya. 

Meski pada mulanya tidak suka studi SMKI, lama kelamaan ia menikmatinya. Bahkan menghayati dan memilih jalan sebagai penari. Tak heran selulus SMKI ia memperdalam bidang itu dengan memilih jurusan seni tari di Sekolah Tinggi Ilmu Seni (STSI) Bandung yang sekarang menjadi Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Saat itu ia sendiri yang memilih jurusan itu. 

Bergelut dalam seni tari, mengantarkan Mang Kodel keliling Eropa, yaitu ke Prancis, Italia, juga pernah Amerika Serikat. Dari penari kemudian melatih kelompok tari. Namun, sekitar 2010-an aktivitasnya terkurang dengan kesibukannya sebagai ASN. 

Namun, ia tak pernah benar-benar lepas dari kesenian karena hobinya tidak hanya menari, tapi juga seni musik. Sejak masa-masa SMKI, ia mengasah kemampuannya memainkan alat musik dan seni vokal. Minatnya pada musik membentuk grup The Kodel's pada 2008 bersama anak-anak muda daerah Sapan, yang menggarap lagu-lagu bergenre rock Sunda.  

“Resep seni. Jiwa seni itu freedom, senang berkreativitas, lamun cicing teh gering (kalau diam bisa sakit, red.),” kata Mang Kodel,” ungkapnya. 

Sebagai seorang seniman, ia mengaku merasa nyaman bergaul dengan orang-orang NU. Selama ini hanya tahu NU dari luar saja secara kultural. Kali ini dia tiap pekan ke kantor PWNU Jawa Barat di Jalan Galunggung No 9 Kota Bandung, untuk menjadi vokalis di acara Guar Budaya.

“Saya baru masuk di lingkungan NU. Tapi saya tinggal di basis berkultur NU di Subang. Jadi banyak saudara-saudara. Nambah duduluran. Musuh satu terlalu banyak. Saudara 1000 sedikit,” katanya. “Di NU mah asa ngeunah (enak, red.),” tambahnya. 

Menurut dia, NU adalah ormas yang tidak mempertajam perbedaan, tidak fanatik akan suatu pandangan.

“Nyambung jeung dunia seni anu digeluti,” pungkasnya. 

Penulis: Abdullah Alawi