Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Ngopi Hikam (3): Bashirahmu yang Mampu Menemukan-Nya

Ngopi Hikam (3): Bashirahmu yang Mampu Menemukan-Nya
Ilustrasi (NU Online)
Ilustrasi (NU Online)

Oleh Asep Mukhtar Rifa’i

Sesuatu terhijab karena dihalangi sesuatu. Tak ada penghalang, yang terhijab terlihat adanya. Itulah logika manusia yang diterima. Tapi, apakah logika yang sama bisa diterapkan pada Sang Pencipta?

Logika hanya menyentuh apa yang disentuh indera. Yang tak terjangkau indera dan dikukuhkan oleh logika, tidak bermakna tidak ada. 

Dia Yang Maha Ada, dengan Kemahaperkasaan-Nya, terhalang dengan yang tiada. Ya, tiada dalam jangkauan indera dan logika. Tahukah engkau apa yang menghalangi-Nya? Indera dan logikamu adalah penghalang utama. 

Bisakah engkau membayangkan, ada sesuatu yang menghalangi-Nya? Pasti tak bisa karena Dia yang membuat jelas segala sesuatu.

Akankah terpikir dalam logika, ada sesuatu yang bisa menghijab-Nya?  Dusta kalau ada. Karena Dia begitu jelas dengan segala sesuatu.

Akankah terbayang dalam pikiran, ada sesuatu yang bisa membenamkan-Nya? Tentu tak terbayang, karena Dia jelas di dalam segala sesuatu.

Bisakah engkau menerima, ada sesuatu yang menutupi-Nya? Pasti engkau menolak, karena Dia jelas bagi segala sesuatu.

Terlintaskah dalam nalarmu, ada sesuatu yang  menyembunyikan-Nya? Tentu tak terlintas. Ya, karena Dia yang jelas sebelum ada segala sesuatu.

Mampukah kecerdasanmu membenarkan, ada sesuatu yang meredupkan-Nya? Tentu hanya si bodoh yang mengiyakan. Karena Dia yang paling jelas dari segala sesuatu.

Tak usah membayangkan, Dia dihalangi sesuatu. Karena Dia Tunggal yang tidak disertai sesuatu.

Jangan pernah berkhayal, Dia dihalangi sesuatu. Karena Dia lebih dekat padamu dari segala sesuatu?

Sekali lagi, tak perlu berpikiran yang aneh-aneh, Dia dihalangi sesuatu. Sebab tanpa-Nya tidak mewujud segala sesuatu?

Sungguh aneh! Kok bisa Yang Ada begitu jelas dalam tiada. Kok bisa yang baru ditetapkan beserta Dia yang bersifat Kekal dan selamanya.

Akankah pada keterbatasan indera dan logika, engkau masih bersandar dan percaya? Dia menginginkanmu untuk memakai perkakas jiwa. Ada bashirah*, menggapa engkau biarkan tak berdaya. Bashirah-mu yang mampu menemukan-Nya tanpa dusta. Bashirah-mu yang bisa memandang-Nya meski mata buta.

Catatan:
Bashirah adalah pandangan batin