Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Ngopi Hikam (2): Tentang Makrifat dan Amal

Ngopi Hikam (2): Tentang Makrifat dan Amal
(Ilustrasi: NU Online Jabar/Iqbal)
(Ilustrasi: NU Online Jabar/Iqbal)

Oleh Asep Mukhtar Rifa'i

Makrifat itu bukit terjal yang harus dipanjat. Suka atau tidak, engkau mesti lewat. Karena itu, ketika dibuka sedikit pintu makrifat, jangan abaikan hanya karena amalmu sekarat. Dia ingin mengenalmu meski sesaat. Pahami, kala makrifat mengunjungimu dengan penuh hormat, padahal amal yang kau suguhkan sedikit nan berkarat, pantaskah dibandingkan keduanya dalam martabat?

Engkau pikir hanya satu cara mengenal-Nya? Tidak, amal menuju makrifat tidaklah satu warna, tapi beragam dalam rupa. Kebajikan apapun pasti mengantarkanmu kepada-Nya. Kebinekaan dan keragaman amal ini disengaja, dibuat begitu adanya, agar bisa menyelarasi ihwal jiwa. Dan, keadaan jiwa yang menghuni setiap manusia tidaklah sama. 

Ketika dengan makrifat jiwa berkalung, maka amal yang dikerjakan tidak laksana patung yang berdiri tegak terpasung. Mengenal Tuhan menjadikan jiwa kepada-Nya bergantung. Jiwa pun sadar tanpa-Nya hidup tak berlangsung. Ikhlaskan pengabdian agar jiwa beruntung.

Ikhlas menjadikan selain-Nya terpental. Termasuk eksistensimu ikut terjungkal. Karena itu, benamkanlah wujudmu agar tak dikenal! Benamkanlah sedalam mungkin agar hanya Dia yang kau kenal. Perhatikan benih tanaman yang ditanam tidak dangkal, hasilnya unggul dan pasti mahal.

Benamkan diri dengan cara uzlah. Menjauhkan diri dari pengaruh sampah. Agar lingkungan jiwa tampak ramah. Hanya dengannya jiwa menjadi gagah, dan dalam  wilayah-wilayah permenungan, akan dirambah. 

Mungkinkah hati menjadi. Ceria ketika dunia terpatri di atasnya. Mungkinkah hati kepada-Nya bertamasya, kala terbelenggu dengan syahwatnya. Mungkinkah hati memasuki Istana-Nya, bila belum suci dari kelalaiannya. Mungkinkah hati mengerti rahasia, ia sendiri belum bertaubat dari dosanya.

Dunia ini gelap gulita. Dia yang membuatnya bercahaya. Siapa melihat dunia, tapi tak menemukan-Nya, sungguh cahaya-cahaya telah membutakannya, matahari makrifat dihijab pengaruh dunia.

Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftahus Sa’adah Banjaran, Kabupaten Bandung