Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Ngopi Hikam (1): Komentari Diri Siang-Malam

Ngopi Hikam (1): Komentari Diri Siang-Malam
(Ilustrasi: NU Online)
(Ilustrasi: NU Online)

Oleh KH Asep Mukhtar Rifa’i 
Amal adalah tugas setiap hamba. Tidak untuk dihitung secara matematika, apalagi untuk membeli surga. Amal tak perlu disandari karena ia bukan segalanya. Amalmu sekadar kendaraan untuk mendekati-Nya. 

Karena itu, saat engkau terbelit nista atau berbuat dosa, kencangkan asa dan genggamlah roja. Ingat selalu Nabi dalam sabdanya: "Tak seorang masuk surga, termasuk aku, dengan amalnya. Semua itu hanya kasih-Nya semata."

Dengan amal yang dijalani, jangan pernah merasa tinggi, sehingga berkeinginan semau diri.  Ada Dia yang mengurusi.  Dalam tajrid kau dikehendaki, mengapa asbab yang kau minati? Bukankah itu kemunduran dari semangat tinggi? Di dalam Asbab  kau disetujui, bukan dengan tajrid seperti yang kau cari. Sadari semua itu bersumber dari syahwati.

Insan dicipta dilingkupi takdir. Meski begitu ia bebas mengalir. Mengejar ambisi yang tak ada akhir, hanya mengokohkan dirimu yang fakir. Setirlah keinginan yang menggelegar, sebab takkan melampaui qodar. Santaikan diri untuk tidak ngelantur, ada Dia yang sudah mengatur. Ridha akan takdir, hidupmu terukur lagi teratur.

Mengapa jua lelah kau utamakan untuk rezekimu yang sudah aman. Tidakkah kau dengar Tuhan berfirman: "Tidaklah yang merayap di bumi, kecuali Allah pasti akan rezeki mereka menjamin." 

Sedangkan untuk kewajiban yang menjadi tuntutan, engkau tak peduli lupa daratan. Keselamatanmu kelak di pengadilan tak jua diperhatikan. Ingatlah kebebalan ini bukti nyata butanya batin. Kebutaannya menjerumuskanmu dalam sesal tak berkesudahan. 

Belum terjawab sejumlah doa, jangan pernah berputus asa. Dia mendengar doa dari seluruh hamba. Jangan tanyakan kapan dan apa, apalagi dengan memaksa. Bukan kamu yang punya kuasa, sepenuhnya urusan doa hak-Nya semata  Yakinlah Dia tidaklah lupa pada janji-Nya dalam doa. Jangan ragu membuatmu tersiksa Agar hatimu tetap hidup dan ceria.

Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftahus Sa’adah Banjaran, Kabupaten Bandung


Catatan:
Roja adalah berharapan penuh kepada Allah.
Tajrid adalah melepaskan sebab-sebab lahir.
Asbab adalah bersandar pada sebab-sebab lahir.
Qodar adalah ketetapan dan ketentuan Allah.