Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Ngaos Sore (2): Indikator Manusia yang Bertaqwa

Ngaos Sore (2): Indikator Manusia yang Bertaqwa
Ustadz Endi Suhendi
Ustadz Endi Suhendi

Salah satu tujuan dari ibadah puasa yang kita lakukan saat ini adalah untuk membentuk pribadi yang bertaqwa. Lantas seperti apakah manusia yang bertaqwa itu? Apa saja indikator orang yang bertaqwa?

Ustadz Endi Suhendi pada Acara Ngaos Sore yang tayang di kanal YouTube NU Jabar Channel menuturkan. Sebagaimana Allah swt berfirman dalam Qur’an surat al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Jika merujuk pada firman Allah swt di dalam Qur’an surat ‘Ali Imran ayat 134, ada 4 indikator orang yang bertaqwa: 

Pertama, ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ (Orang yang bertaqwa adalah mereka yang mau menginfakkan sebagian hartanya baik dalam keadaan sempit maupun dalam keadaan lapang)

Mereka yang bertaqwa adalah yang memiliki kepedulian sosial sehingga ibadah puasa yang dilakukan saat ini harus membentuk diri menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap sesama. Bahkan di dalam ayat tersebut Allah swt mengatakan: 

“Bukan saja saat kita memiliki kelebihan bahkan saat kita dalam kekurangan pun kita senantiasa berusaha menjadi pribadi yang peduli terhadap sesama sehingga kita mau berbagi dengan saudara-saudara kita”.

Kedua, وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ (Mereka yang mampu menahan amarah)

Orang yang bertaqwa adalah orang yang tidak mudah mengumbar amarah, orang yang bertaqwa adalah orang yang mampu menahan diri dari mengumbar amarahnya. 

Setiap manusia pasti mempunyai rasa marah saat ia disakiti, saat ia di dzalimi, pasti dia akan marah. Tetapi, orang-orang yang bertaqwa ia akan mampu mengendalikan amarahnya dia tidak mengumbar amarahnya sehingga terjerumus pada kehinaan dirinya karena amarah itu sendiri. 

Ketiga, وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ  (Mereka yang mau memaafkan sesama manusia)

Dalam kehidupan sehari-hari saat kita berinteraksi mungkin ada di antara saudara, keluarga, anak, istri, atau pun mungkin sahabat yang berbuat kesalahan, berbuat kekeliruan, maka orang-orang yang bertaqwa dia akan mau memaafkan kesalahan orang lain, dia tidak menaruh dendam kepada siapa pun.

Keempat, وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ (Orang yang bertaqwa akan selalu sadar bahwa dirinya tidak akan luput dari kesalahan, dirinya tidak akan luput dari dosa)

Karena kesadaran itulah dirinya selalu berusaha untuk memohon ampunan kepada Allas swt saat ia terlanjur berbuat dosa, saat ia lalai berbuat kesalahan maka ia segera ingat kepada Allah swt, dan dia memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukannya. Tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kita selain Allah swt.

Oleh karena itu, puasa yang kita jalankan pada Ramadhan kali ini terus membentuk pribadi kita menjadi orang-orang yang lebih peduli terhadap sesama, menjadi pribadi yang mampu menahan amarah, mudah memaafkan orang lain, tidak menaruh dendam, dan tentunya kita harus selalu sadar bahwa diri kita tidak luput dari dosa dan kesalahan maka kita senantiasa memohon ampunan kepada Allah swt atas dosa dan kesalahan tersebut. 

Dengan seperti itu semoga kita semua mendapatkan kedudukan yang tinggi di hadapan Allah swt dengan derajat ketaqwaan. Semoga bermanfaat

Editor: Agung Gumelar