Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Nahdlatul Ulama, Kebangkitan Para Kiai Berlangsung hingga Kiamat

Nahdlatul Ulama, Kebangkitan Para Kiai Berlangsung hingga Kiamat
Ilustrasi (NU Online)
Ilustrasi (NU Online)

Oleh Abdullah Alawi 
Ketika para kiai pesantren mendirikan organisasi pada 1926, muncul dua usulan nama untuk perkumpulan mereka. Kedua-duanya secara prinsip memiliki makna sama dan dari akar kata dan bahasa sama pula. Namun memiliki implikasi yang berbeda. 

Usulan pertama disampaikan KH Abdul Hamid dari Sedayu Gresik. Ia mengusulkan nama Nuhudlul Ulama. Kata nuhudl artinya bahwa para ulama mulai bersiap-siap akan bangkit melalui wadah organisasi yang akan dibentuk tersebut.

Pendapat dia kemudian dikomentari KH Mas Alwi bin Abdul Aziz. Menurutnya, kebangkitan bukan lagi mulai atau akan bangkit, melainkan, sudah berlangsung sejak lama dan bahkan sudah bergerak jauh sebelum mereka mendirikan organisasi. Namun kebangkitannya tidak terorganisasi secara rapi. 

Maka, KH Mas Alwi bin Abdul Aziz mengusulkan nama nahdlatul dari kata nahdlah yang diiringi ulama. Jadi, organisasi ini bernama Nahdlatul Ulama yang artinya kebangkitan para ulama. Para kiai kemudian sepakat dengan nama itu. 

Menurut Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, dalam ilmu tata bahasa Arab, nahdlah adalah bentuk masdar marrah. Nahdlah dalam bentuk seperti itu maksudnya sekali bangkit dan akan berlangsung terus-menerus. Tidak sekali tumbuh, kemudian mati.

Kalau nuhudl itu bisa saat itu kebangkitannya. Kalau nahdlah itu, sekali bangkit, untuk seterusnya, dan menurut ilmu nahwu jumlahnya, jumlah ismiyah, bukan jumlah fi’iyah. Jumlah fi’liyah itu faidahnya tajadud, bisa hidup, mati, hidup, mati, ada, tidak ada, ada, tidak ada, tapi kalau jumlah ismiyah itu istimrar, seterusnya, terus, harapannya ila yaumil qiyamah, Nahdlatul Ulama. 

Kiai Miftah menambahkan, setelah nahdlatul diikuti kata ulama karena dalam Islam setelah pangkat kenabian adalah ulama. Nabi Muhammad mengatakan al-ulama’u waratastul anbiya: ulama adalah para ahli waris nabi. 

Di dalam Al-Qur’an ada innama yakhsallahu min ibadihil ulama. Jadi, ulama itu suatu kepangkatan, martabat yang tertinggi setelah kenabian. Bahkan di dalam diri nabi pun ada makna ulama. 

Ulama merupakan bentuk jamak dari kata alim yang berarti orang yang berilmu. Sementara itu di dalam ajaran Islam, ilmu mendapat kedudukan tinggi. 

Semua bisa diselesaikan dengan ilmu. Semua bisa dicapai dengan ilmu. Bahkan ilmu dunia ilmu akhirat. Di Al-Qur’an disebutkan, orang-orang yang dianugerahkan ilmu itu derajatnya di atas orang yang beriman. Mukmin yang berilmu itu derajatnya melebihi mukmin biasa.

Kiai Miftah menggarisbawahi, yang dimaksud ulama yang tinggi derajatnya adalah al-ulama al-amilin, orang yang alim yang mempraktikkan ilmunya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan innama yakhsyallahu min ibadihhil ulama, yang dimaksud ulama di situ adalah ulama yang al-‘amilin.

Penulis adalah Pemred NU Online Jabar