Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Merindukan Dakwah Lembut Ajengan AF Ghazali

Merindukan Dakwah Lembut Ajengan AF Ghazali
Almaghfurlah KH AF Ghazali. (Desain: M Iqbal)
Almaghfurlah KH AF Ghazali. (Desain: M Iqbal)

Oleh Aip Syaiful Mubarok

Pada awal 1990-an, setiap hari ayah saya selalu memutar kaset ceramah berbahasa Sunda di sela-sela waktu istirahatnya. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP. Ayah tampak menikmati ceramah itu. Tak jarang ia mengajak serta saya bersama sama mendengarkannya.

"Kupingkeun, Jang nya. Kieu ari da'wah nu leres mah. Sae basa, lemes gentra, ngeuna maksadna, tarik wasiatna," ungkapnya. Dengarkan, Nak, ya. Beginilah dakwah yang benar. Bahasanya baik, tutur katanya halus, maksudnya dipahami, dan nasehatnya dapat diresapi.

Saya memahami gaya dakwah ayah saya di kemudian hari, memang dipengaruhi oleh penceramah di kaset itu. Saya baca namanya, KH AF Ghazali. Ia akrab disebut Ajengan Totoh Ghazali. Seorang Ajengan dari Garut, daerah yang banyak melahirkan ajengan hebat dan santri santri yang luar biasa.

Gaya tutur ceramah Sunda para ajengan pada masa itu memang banyak dipengaruhi oleh sang maestro ini. Pada masa itu, sepertinya akan aneh kalau di panggung ceramah, kyai atau ajengan marah-marah dengan bahasa yang tak ramah. Ajengan pada masa itu benar-benar memberi hikmah dan mau'idhoh hasanah. Teduh dipandang, nyaman didengarkan, sejuk dirasakan.

Sebuah keberuntungan bagi saya saat masih remaja, seringkali dibawa pada acara ceramah ayah di berbagai pengajian. Atau menghadiri ceramah para guru ayah saya yang seringkali dihadirinya. Bahkan, karena memang sudah menjadi tradisi para ajengan, mereka saat bersilaturahmi tentu saja berbicara dalam basa Sunda yang begitu tertib. Selain memang keharusan, saya melihat ini juga karena kebiasaan para ajengan yang harus selalu menempatkan kosa kata bahasa Sunda dengan segala ketepatan dan kelengkapannya dalam mentranslasi atau ngalogat kitab kuning, supaya mudah dipahami para santri.

Tak cuma memberkati ilmu, tapi secara tidak langsung memelihara budaya bahasa tutur daerah. Saya mungkin termasuk yang beruntung dididik secara baik soal bahasa Sunda lewat ngalogat kitab dan mendengarkan ceramah-ceramah ajengan era 90an.

Ayah saya masih memelihara bahasa Sunda yang baik hingga hari ini. Saya kadang ditegur bila bahasa Sunda yang saya ungkapkan tidak tepat. Soal bahasa ini saya memang sangat berutang budi pada ayah saya KH Kholil, kakek almaghfurlah KH Atang Muchtar Muttaqien dan KH Totoh Ghozali. Terkhusus kakek saya, selain pribadi yang lembut dan jarang bicara, setiap kalimat yang keluar dari mulut beliau selalu terukur. Kalimat dan kata-katanya selalu tepat. Kakek seringkali menggunakan kata atau kalimat superlatif bagi nama-nama yang dimuliakan. Sepanjang hidup saya, rasanya jarang beliau menyebut nama Nabi Muhammad dalam dakwahnya, tapi dengan kata "Kangjeng Rasulullah". Ini salah satu cara orang Sunda yang tidak menyebut nama asli tokoh yang dimuliakan. Nama itu disebut dengan kata pengganti yang menunjukkan kemuliaan posisi yang bersangkutan.

Ajengan-ajengan sebelum tahun 2000-an, berwibawa dengan kehalusan bahasa dan kecakapan ilmunya. Dakwah mereka melahirkan kesadaran dan menelurkan gagasan tanpa harus meliuk-liuk mempergunakan kosakata yang rumit. Bahasa sederhana yang mudah dipahami umat dengan nada serta gestur yang memikat. Membuat mereka terhormat dan saat berpulang, pesan-pesannya menjadi keramat.

Tak perlu ujaran ujaran kasar dengan "lentong" suara yang menggelegar untuk bisa dihormati dan disegani umat. Cukup bicara saja seperti biasanya. Dakwah mereka dilahirkan dari hati, disepikan dari kepentingan, dan tidak disatukan dengan gestur ketidakramahan yang tak sepadan.

Para ajengan saat itu tak pernah bingung dengan panggung. Ada atau tidak ada, bukan persoalan. Mereka tak risau bila ada orang yang menunjukkan ketidaksimpatian, karena memang tak mereka butuhkan dan tak akan mereka hiraukan. Yang mereka lakukan adalah melaksanakan kewajiban berdakwah, mengajak secara baik dengan hikmah dan kebijaksanaan. Sungguh suasana yang membuat hati jadi rindu.

Merekalah sejatinya para revolusioner zaman, penggerak intelektual dan pemantik semangat spiritual umat. Tak perlu jargon dan istilah pabaliut untuk membuat ceramah-ceramahnya bisa diimplementasikan. Soal diterima dan dilaksanakan oleh umat, hal itu sepenuhnya bergantung pada hidayah Allah. Demikian memang sikap pribadi yang luhur dengan akhlak dan luhur dengan keilmuan.

Hari ini, dakwah sering tertukar dengan ujaran kebencian. Bahkan untuk sekedar memperbaiki akhlaq saja, dikarenakan dakwahnya yang tak berakhlaq, harus pontang panting dibuatkan tagar dan jargon. Karena dari hulunya sudah lamokot dengan kepentingan, akhlak jadinya cuma kiasan. Implementasinya malah seperti menginjak-injak akhlak itu sendiri. 

Mutiara lahir lewat proses alam yang panjang dan bergelombang, sementara kotoran masuk mulut dan tak lama keluar dari pembuangan.

Semoga segera lahir Totoh Ghazali baru, yang akan menjadi teladan umat dalam menyampaikan dakwah. Muballig yang baik bahasanya, halus tutur katanya, dapat dipahami maksudnya, dan  diresapi nasehatnya.

Penulis adalah Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Tasikmalaya