Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Menuntut Ilmu adalah Amalan Para Pahlawan

Menuntut Ilmu adalah Amalan Para Pahlawan
Mencari ilmu adalah amal para pahlawan (Foto: NU Online Jabar)
Mencari ilmu adalah amal para pahlawan (Foto: NU Online Jabar)

Oleh KH Imam Syamsudin

Dalam Islam, ulama menempati kedudukan yang sangat tinggi, peranannya amat penting dalam mengarungi dan menapaki jalan kehidupan. 

Ada banyak fungsi dan peranan ulama sebagaimana disebutkan dalam beberapa Hadits seputar keutamaan ilmu dan Ulama, diantara peranannya adalah sebagai “pelita di bumi” (ِمِصبَاحُ الأَرض), dapat menyampaikan soal-soal penting kepada masyarakat untuk menuju kebahagiaan dunia dan akhirat;  sebagai “khalifah atau pengganti para Nabi”(ِخُلَفَاءُ الأنبِيَاء), dapat ikut serta menggerakkan masyarakat ke arah yang lebih baik; sebagai “pewaris para Nabi”(ُوَرَثَة الأَنْبِيَاء), membimbing dan mengarahkan masyarakat kepada jalan yang benar; sebagai “orang kepercayaan Allah atas makhluknya”(ُأُمَنَاء اللّٰهِ عَلٰى خَلْقِه), dapat ikut serta membawa dan menunjukkan ke arah yang bermanfaat untuk kepentingan dunia dan akhirat; dan sebagai “pelita pada zamannya” (ِسِرَاجُ زَمَانِه), menjadi penerang bagi kegelapan, menyadarkan orang-orang yang berada pada kesesatan, menjadi pelipur lara bagi orang yang berada dalam kedukaan.

Demikian juga dengan para santri, murid, siswa, dan para penuntut ilmu lainnya, itu juga menempati kedudukan yang mulia. Mereka mengerahkan jiwa dan raganya guna terperolehnya ilmu untuk dapat menggapai ridha-Nya.

Menuntut ilmu adalah  termasuk amalan para pahlawan. Cahaya ilmu itu tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Demikian sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Mawa’izh al-‘Ushfuriyah:

Dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia berkata: bersabda Rasulullah SAW:

قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ أَعْمَالُ الْمَكْفِيِّيْنَ وَالصَّلاَةُ أَعْمَالُ الْأَعَاجِزِ وَٱلصَّوْمُ أَعْمَالُ الْفُقَرَاءِ وَالتَّسْبِيْحُ أَعْمَالُ النِّسَاءِ وَالصَّدَقَةُ أَعْمَالُ الْأَسْخِيَاءِ وَالتَّفَكُّرُ أَعْمَالُ الضُّعَفَاءِ أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَعْمَالُ الْأَبْطَالِ؛ قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ: وَمَا أَعْمَالُ الْأَبْطَالِ ؟ قَالَ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَإِنَّهُ نُوْرُ الْمُؤْمِنِ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. (رواه الحاكم)

“Membaca Al-Qur’an itu adalah amal orang-orang yang dilindungi dan shalat itu adalah amal orang-orang yang tak berdaya dan puasa itu adalah amal orang-orang miskin dan tasbih itu amal orang-orang perempuan dan sedekah itu amal orang-orang yang murah hati sedang tafakur itu adalah amal orang-orang yang lemah. (Amalkanlah itu semua!). Maukah ku tunjukkan kepada kalian amal para pahlawan? Ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, apakah amal para pahlawan itu?” Beliau menjawab: “Menuntut ilmu, karena ia adalah cahaya orang mukmin di dunia dan akhirat”. (HR. Hakim).

Rasulullah SAW bersabda:

أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا.

“Aku adalah kota ilmu sedang Ali adalah pintunya.”

Tatkala kaum Khawarij mendengar hadits ini mereka mendengki kepada Ali ra dan berkumpul lah sepuluh orang pemuka mereka: mereka berkata: Kita akan menanyakan satu masalah dan melihat bagaimana ia menjawab kita, seandainya ia menjawab masing-masing dari kita dengan jawaban lain tahulah kita bahwa ia seorang yang alim sebagaimana dikatakan oleh Nabi SAW.

Seorang diantara mereka datang kepada Ali bertanya: Hai Ali, mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Ilmu itu warisan para nabi dan harta itu warisan Qarun dan Syaddad dan Fir'aun serta lainnya. Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya seperti yang pertama. Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Ilmu menjagamu sedang engkau menjaga harta. Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya seperti pertanyaan orang pertama dan kedua. Maka Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Pemilik harta mempunyai banyak musuh dan pemilik ilmu mempunyai banyak teman. Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi seorang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Apabila engkau belanjakan hartamu ia akan berkurang dan jika engkau amalkan ilmumu ia akan bertambah. Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya dengan dalil apa? Ali menjawab: Pemilik harta bisa dipanggil si pelit dan menjadi hina sedang pemilik ilmu dipanggil dengan sebutan agung dan mulia. Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Manakah yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Pemilik harta akan di hisab pada hari kiamat sedangkan pemilik ilmu akan memberi syafaat pada hari kiamat. Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Harta itu makin lama di diamkan makin bertambah usang, sedang ilmu itu tidak bisa lapuk dan usang. Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Harta itu bisa membuat hati menjadi keras, sedang ilmu itu menerangi hati. Kemudian pergilah orang itu.

Datang lagi seorang yang lain lalu bertanya: Mana yang lebih baik, ilmu atau harta? Ali menjawab: Ilmu lebih baik daripada harta. Orang itu bertanya: Dengan dalil apa? Ali menjawab: Pemilik harta dikatakan sebagai pemilik dengan sebab harta, sedang orang yang berilmu mengaku sebagai hamba Allah.

Andaikata mereka bertanya tentang ini niscaya akan kujawab dengan jawaban lain selama aku hidup. Kemudian datanglah mereka dan menyerah semuanya.

Referensi

Hadits dan hikayat diterjemahkan dari Al-Mawa'izh al-'Ushfuriyyah, hal.4. dan beberapa sumber lainnya

Penulis sampai akhir hayatnya adalah Wakil Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Sukabumi