Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Mengevaluasi Puasa Kita

Mengevaluasi Puasa Kita
Foto ilustrasi: freepik
Foto ilustrasi: freepik

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA
Pada saat mencapai akhir dari puasa Ramadhan yang kita lakukan, sudah selayaknya kita mengadakan evaluasi terhadap puasa itu. Tujuan dari evaluasi yang dilakukan adalah untuk mengetahui sampai dimana tingkatan dari kualitas puasa kita. Kita semua yakin bahwa ibadah itu telah dilakukan selama berpuluh-puluh tahun, sejak masa kanak-kanak, namun demikian kita sering terje¬bak pada puasa rutinitas, puasa dari itu ke itu saja, tidak pernah memperhatikan kualitasnya. Memperhatikan kualitas puasa yang dilakukan seseorang sangat penting, dari sanalah seseorang akan mengetahui sampai atau tidaknya puasa yang dilakukan pada tujuan yang diarahkan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah.

Tujuan pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan sebagaimana telah diketahui secara umum adalah agar manusia mukmin yang melakukan ibadah itu dapat meningkatkan iman dan takwanya kepada Allah s.w.t. dalam segala aspeknya. Takwa merupakan kalimat dan perkataan yang sering diungkapkan, dibahas dan dibicarakan dalam berbagai disku¬si, ceramah dan khutbah, tetapi mengenai hakikat artinya belum banyak difahami secara utuh. Takwa pengertiannya menurut etimolo¬gi adalah memelihara diri, takut kepada azab Allah dan menjaga diri dari perbuatan yang tercela. Sedang pengertiannya menurut terminologi adalah: mengerjakan segala perintah Allah dan menjau¬hi segala larangannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Manusia takwa senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan Allah dalam ibadah-ibadah yang mereka lakukan dan hubungan yang serasi serta seimbang dengan sesamanya dalam berbagai kegiatan sosial, ekonomi, politik dan peradaban. Manusia yang bertakwa adalah mereka yang memperoleh keridhaan Allah dalam segala kehi¬dupannya, karena itu mereka akan memperoleh kesuksesan, baik pada masa sekarang ataupun pada masa yang akan datang.

Para ulama dan ahli dalam berbagai disiplin ilmu keislaman, menggambarkan manusia takwa sebagai manusia ideal, yaitu seorang yang teguh dalam keyakinannya, tekun dalam menuntut ilmu dan senantiasa bersyukur terhadap karunia Allah, baik lahir maupun batin. Ia senantiasa bersikap hidup sederhana, meskipun memiliki kekayaan yang berlimpah, ia juga bersikap murah hati, tidak menghina orang lain atau meremehkannya. Bila ia diingatkan menge¬nai kekeliruannya ia segera menyadari hal itu kemudian memperbai-kinya.

Betapa indah dan mulianya manusia yang memiliki sifat-sifat tersebut, ia merupakan pakaian takwa yang dikenakan oleh orang-orang yang beriman, yang senantiasa menegakkan shalat yang dila¬kukan dengan gerak ragawi dan diikuti oleh jiwanya yang bersih. Mereka juga melaksanakan puasa dengan baik, sesuai dengan tuntu¬nan Allah dan Rasul-Nya.

Ibadah puasa yang tidak hanya menahan lapar dan dahaga, akan tetapi diikuti dengan menjaga anggota badan dan panca inder¬anya dengan ketenangan hatinya dalam dzikir dan taqarrub. “Wahai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian kepadamu untuk menutupi auratmu dan sebagai perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang terbaik. Yang demikian itu adalah ba¬gian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, agar mereka selalu ingat”. (QS. al-A’raf, 7:26).

Mereka yang berhasil meningkatkan takwanya dengan berpuasa Ramadhan dan mengerjakan kebaikan-kebaikan yang diajarkan Islam, ia akan senantiasa dzikir dan selalu mengingat-Nya dalam segala aktifitas dan kehidupan. Mereka akan memperoleh rasa aman, keten¬traman dan ketenangan, ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah hati kita akan menjadi tenang. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Inga¬tlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram”. (QS. al-Ra’d, 13:28).

Dalam berbagai ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi banyak dijumpai pujian bagi mereka yang bertakwa, baik di dunia maupun di akhirat. Selain dari itu Allah juga memberikan jaminan kepada mereka yang berhasil meningkatkan takwanya sesuai dengan bimbingan al-Qur’an dan al-Sunnah. Jaminan-jaminan itu di antaranya:

Bahwa manusia takwa akan diberikan kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan yang bathil. Mereka selalu berusaha memisah¬kan yang hak dan yang bathil, demikian pula yang terpuji dan tercela. Selain kemampuan untuk memisahkan yang hak dan yang bathil ia juga mampu melaksanakan yang hak itu dan meninggalkan kebathilan-kebathilan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Allah s.w.t. berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mem¬berikan bagimu Furqan (kemampuan untuk membedakan antara yang hak dan yang bathil) dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (QS. al-Anfal, 8:29). 

Dalam ayat lain disebutkan, bahwa manusia takwa akan memperoleh way out dari segala kesulitan dan kesempitan serta senantiasa memperoleh bimbingan dalam mengarungi kehidupannya. Mereka dikarunia oleh Allah berupa rizki-Nya, baik yang terduga atau¬pun yang tidak terduga sama sekali. “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menyediakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (kebutuhan)nya...”. (QS. al-Thalaq, 65:2–3).

Betapa mulianya mereka yang dapat meningkatkan iman dan takwanya dalam bulan Ramadhan yang sedang kita jalani sekarang ini. Dengan mengevaluasi puasa yang kita lakukan, kemudian kita meningkatkan kualitas puasa itu, Insya Allah akan dapat mengarah¬kan diri kita menjadi “manusia paripurna”.

Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU