Mengenal Dunia Komik (1)

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
Sejumlah komik yang pernah populer di kalangan pembaca muslim.
Sejumlah komik yang pernah populer di kalangan pembaca muslim.

Ada pakar bacaan anak mengatakan bahwa komik tidak baik untuk perkembangan intelektual anak. Apakah komik kemudian sama-sama kita vonis buruk dan tak layak buat anak? Tidak serta merta demikian. Dalam dunia ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya bacaan anak, tidak pernah ada pendapat tunggal. Setiap pakar mempunyai sudut pandang sesuai latar belakang keilmuannya. Seorang penulis buku anak akan menyebutkan buku adalah yang terbaik untuk anak. Namun seorang komikus akan mengatakan bahwa komik adalah sarana pendidikan yang efektif untuk anak.

Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak segera mengiyakan atau menafikan setiap pendapat di seputar pendidikan anak kita. Baik kata seorang pakar, belum tentu tepat buat anak kita. Penting kata seorang ahli, belum tentu orang tua mampu secara finansial untuk mewujudkannya. Yang terbaik ialah yang paling sesuai dengan minat-bakat anak, kemampuan orang tua, dan dukungan lingkungan sekolah serta masyarakat.

Selintas Sejarah Komik

Pada awalnya, komik disebut cerita bergambar (cergam). Cergam diterbitkan dalam surat kabar mengambil tema humor, kehidupan sehari-hari, legenda, petualangan, dan tentang kemerdekaan Indonesia. Tahun 1931, surat kabar Sin Po mempublikasi serial komedi Put On yang ditulis Kho Wong Gie. Serial ini merupakan salah satu pelopor komik strip Indonesia. Para komikus lokal saat itu banyak dipengaruhi oleh komik-komik luar negeri seperti Flash Gordon, Rip Kirby, Prince Valiant, Tarzan, dan Superman. Misalnya komik Wiro Si Anak Rimba karya Kwik Ing Hoo yang mendapat inspirasi dari cerita Tarzan.

Memasuki tahun 50-an, ketika nasionalisme sedang tumbuh-mekar, para komikus membuat karya berlatar budaya lokal. Pilihannya jatuh pada wayang. Beberapa komikus bertema wayang adalah Ardisoma (Wajang Purwa), R.A. Kosasih (Mahabharata), Suherlan (Sang Hyang Djaja Rantunan), dan lain-lain. Ada juga komik humor yang mengambil tokoh Petruk dan Gareng. Karya Kosasih mengenai Mahabharata termasuk legendaris. Karyanya diakui mampu memandu pembaca untuk memahami epos yang mengisahkan pertikaian dua keluarga Pandawa dan Kurawa. Kosasih juga menciptakan hero bernama Sri Asih yang dipengaruhi dari komik Superman dan Siti Gahara yang terinspirasi kisah Seribu Satu Malam.

Pada era 60 dan 70-an, komik mengalami masa booming. Kisah dengan latar dunia persilatan menjadi pilihan utama sebagai pengaruh dari cerita-cerita Cina. Mereka antara lain Hans (Panji Tengkorak), Djair (Jaka Sembung), dan Ganes TH (Si Buta dari Goa Hantu, Si Djampang). Ada pula komikus yang melahirkan superhero semisal Godam karya Wid N.S., dan Gundala Putra Petir karya Hasmi. Komik-komik berdasarkan cerita pengarang H.C. Andersen juga banyak dibuat dan mendapat tempat tersendiri bagi publik pembaca terutama anak-anak. Begitu pula komik agamis yang “menggambarkan” surga dan neraka sangat populer dan digemari. Memasuki paruh pertengahan 80-an, golden age komik Indonesia mulai meredup. Secara perlahan komik asing mulai masuk dan mencapai puncaknya hingga sekarang.

Memasuki tahun 2000, sejumlah ‘pendekar’ komik mencoba bangkit kembali. Mereka memanfaatkan peluang yang diberikan oleh sejumlah penerbit seperti Elex Media Komputindo, Mizan, Studio Komik Bajing Loncat, Komik Karpet Biru, SP Komik, Mikon, dan lain-lain. Pengaruh komik Amerika dan Jepang tak bisa dipungkiri sangat kuat pada karya-karya komik. Keunggulannya adalah pada tema-tema yang lebih membumi. Nama-nama tokoh dan setting sejarah atau tempat yang mudah dikenal, dengan kualitas yang tidak kalah baik.

Di era medsos sekarang, komik juga tetap tampil. Misalnya produsen komik asal Prancis BDouin, menyebarkan serial Muslim Show yang sudah ada versi Indonesianya. Menyesuaikan ruang medsos yang terbatas, serial komik ini menyampaikan satu pesan khusus dalam setiap tampilannya. Pesan yang disampaikan kadang serius tetapi kerap juga tampil jenaka.

Komik tentu saja dapat pula digunakan untuk meneguhkan citra pesantren di tengah umat, menyebarkan pesan-pesan kedamaian Islam dan keluasan cakrawala kelimuan Islam. Umat perlu terus diingatkan pentingnya sanad keilmuan dan perlunya rujukan yang kuat dalam menyampaikan pendapat. Dengan demikian dapatlah dihindari kesemberonoan jari-jari dalam menekan huruf-huruf pada gadget, tak sembarangan copy-paste (copas) atau sekedar share sesuatu yang tak diteliti terlebih dahulu. Dengan kecermatan bermedsos inilah, wibawa tradisi akademik pesantren akan diakui kembali.

Penulis: Iip Yahya