Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Menengok Geliat NU Garut, Antara Peluang dan Tantangan

Menengok Geliat NU Garut, Antara Peluang dan Tantangan
Duet Rais Syuriyah KH Rd. Amin Muhyiddin (kanan) dan Ketua Tanfidziyah KH Aceng Abdul Wahid (kiri) membawa PCNU Garut atasi pandemi Covid-19 (Foto: NUJO)
Duet Rais Syuriyah KH Rd. Amin Muhyiddin (kanan) dan Ketua Tanfidziyah KH Aceng Abdul Wahid (kiri) membawa PCNU Garut atasi pandemi Covid-19 (Foto: NUJO)

Oleh: Muhammad Salim
Wabah pandemi Covid-19 meresahkan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, umumnya di belahan dunia lainnya. Namun selain soal pandemi Covid-19 ini, saya melihat ada anomali yang terjadi pada diri bangsa ini. Sebagian orang yang tengah bersusah payah untuk bisa bertahan hidup karena harus bekerja dengan pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah.

Tantangan tersebut tidak membuat semangat para pengurus NU di kabupaten Garut mengendor, hal tersebut dibuktikan dengan semangat para pengurus NU di tiap tingkatan mulai dari Cabang sampai Pengurus Anak Ranting dalam melakukan kegiatan organisasi. Beberapa di antaranya kegiatan pengajian yang dilaksanakan di tingkat Anak Ranting sampai tingkat Majelis Wakil Cabang di setiap kecamatan.

Selain pengajian, beberapa pengurus MWC juga sedang giat dalam melakukan pembentukan Pengurus Ranting dan Anak Ranting di daerahnya masing-masing.

Bahkan di beberapa MWCNU yang ada di Garut, dengan kondisi pandemi seperti ini, mereka fokus untuk membangun sekretariat permanen, diantaranya MWCNU Sukaresmi yang pertama kali mempelopori pembangunan sekretariat MWCNU di Garut, disusul oleh MWCNU Banyuresmi, Leuwigoong, Singajaya, Banjarwangi, Kadungora, Malangbong, dan MWCNU lainnya.

Menengok geliat NU yang begitu besar, saya berpikir optimis bahwa NU lima tahun kemudian akan semakin membesar, menjadi pemenang dalam menjaga akidah Ahlussunnah Waljamaah di Garut. Apalagi  secara umum warga muslim Garut merupakan ahlussunnah waljamaah, walaupun sebagian dari mereka memilih berafiliasi dengan organisasi selain NU.

Hal tersebut bisa dilihat dari kegiatan pengajian NU semakin gencar, di setiap tingkatan kepengurusan, selain itu juga warga NU pada khususnya dan warga Garut pada umumnya merasakan manfaat dari NU.

Saya meyakini hal tersebut karena Rais Syuriah KH Rd Mimin Muhyiddin dan dan Ketua Tanfidziah KH Atjeng Abdul Wahid merupakan kolaborasi ideal yang menjadi motor penggerak NU di semua tingkatan, itu dibuktikan dengan semua kecamatan yang ada di kabupaten Garut sudah terbentuk kepengurusan MWCNU, bahkan Pengurus Ranting yang sudah terbentuk mencapai 85% atau sekitar 380 dari 442 Desa dan Kelurahan yang ada di Kabupaten Garut.

Ketua Tanfidziah PCNU Garut pun menekankan agar warga NU Garut tidak boleh memiliki musuh. Saya tafsirkan, agar warga NU saat berceramah, bergaul dan bekerja, tidak boleh mencela prilaku, organisasi dan agama orang lain, karena akan menimbulkan sakit hati pada anggota maupun pengikutnya. Namun ketika ada yang bertentangan dengan agama dalam hal prinsip (akidah), juga nilai-nilai kebangsaan dan ideologi Negara, maka secara tidak langsung mereka menjadi musuh NU.

PCNU Garut pula memiliki tantangan yang cukup besar karena menghadapi basis pengikut Negara Islam Indonesia (NII). Di Garut sendiri NII lebih dikenal dengan Islam Bai’at karena cara mereka merekrut anggota selalu di bai’at. Selain masalah ideologi radikalis dan intoleran tersebut, PCNU Garut juga memiliki tantangan untuk mensejahterakan nahdliyin yang terdampak covid-19, ditambah meningkatkan kualitas kader dan pendidikan di lingkungan NU sendiri.

Berdasarkan hasil Musyawarah Kerja Cabang ke-1 yang kemarin dilaksanakan, PCNU Garut diminta oleh peserta MUKERCAB untuk memberikan pelayan khusus dalam bidang pendidikan, kesehatan dan kontra narasi paham radikal.

Mudah-mudahan dari semua ikhtiar yang sudah dan akan dilakukan, NU di manapun berada, bisa memberikan manfaat juga bisa menjadi sahabat bagi siapapun.

Penulis merupakan Kontributor NU Jabar Online dan Sekretaris LTN NU Garut