Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Memelihara Kesucian Jiwa (2)

Memelihara Kesucian Jiwa (2)
(Ilustrasi: freepik.com)
(Ilustrasi: freepik.com)

Oleh Dr. KH. Zakky Mubarak, MA
Kasar hati atau hati yang keras adalah simbol dari kecongkakan seseorang sehingga diumpamakan hatinya seperti batu bahkan lebih keras lagi. Ia tidak mau menerima petunjuk dan saran dari orang lain, ia bersikap sombong dan takabbur, akibatnya akan bersikap dengki terhadap orang lain. Orang lain seolah-olah tidak berguna bagi dirinya bahkan ia bersikap benci terhadap sesamanya yang mendapat kebaikan.

Salah satu tanda apabila hati seseorang telah dihinggapi penyakit hasad atau dengki adalah ia merasa benci apabila seseorang itu mendapat nikmat. Ia menghendaki agar nikmat itu lenyap dari pemiliknya. Sebaliknya ia merasa gembira apabila orang lain ditimpa bencana dan kesulitan. Mengenai sikap seperti ini dilukiskan al-Qur’an:

إِن تَمۡسَسۡكُمۡ حَسَنَةٞ تَسُؤۡهُمۡ وَإِن تُصِبۡكُمۡ سَيِّئَةٞ يَفۡرَحُواْ بِهَاۖ وَإِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لَا يَضُرُّكُمۡ كَيۡدُهُمۡ شَيًۡٔاۗ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ مُحِيطٞ

“Apabila kamu memperoleh kebaikan, mereka merasa sedih, dan apabila kamu ditimpa keburukan mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak akan mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan”. (QS. Ali Imran, 3 : 120).

Mencintai kehidupan dunia tidak dilarang dalam pandangan Islam, karena hal itu banyak dijumpai dalam ayat al-Qur’an ataupun hadis yang memerintahkan kita agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Akan halnya terlampau mencintai dunia sehingga melupakan kehidupan akhirat adalah sikap yang dilarang dalam ajaran Islam. Karena itu manusia muslim diperintahkan agar senantiasa menjaga keseimbangan antara kehidupan di dunia dan di akhirat. 

وَاعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا (رواه ابن عساكر)

“Berusahalah untuk kehidupan duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya. Dan bekerjalah untuk akheratmu seolah-olah kamu akan mati esok pagi”. (Atsar al-Shahabah, Ibnu Umar r.a. Riwayat. Ibn Asakir).

Apabila seseorang memiliki sedikit perasaan malu, ia akan gemar melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela, karena ia tidak merasa malu, baik kepada Allah atau kepada sesamanya. Sebaliknya orang yang memiliki rasa malu yang kuat akan senantiasa menghindari perbuatan-perbuatan yang tercela. Perasaan malu itulah yang akan mencegah dirinya dari perbuatan-perbuatan yang terkutuk itu. Perasaan malu dapat menentukan baik atau buruknya kualitas seorang muslim, Nabi bersabda:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، وَالحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ (رواه البخاري)

“Iman itu mempunyai lebih dari enam puluh tiga cabang dan malu itu adalah sebagian dari iman”. (HR. Bukhari, No: 9). 
 

Aisyah meriwayatkan satu perumpamaan dari Nabi SAW: 

لَوْ كَانَ الْحَيَاءُ رَجُلًا لَكَانَ رَجُلًا صَالِحًا , وَلَوْ كَانَ الْبَذَاءُ رَجُلًا لَكَانَ رَجُلَ سُوءٍ (رواه الطبراني) 

“Andaikata malu itu seorang laki-laki, maka ia adalah lelaki yang shaleh dan apabila perasaan tidak malu itu seorang laki-laki, maka ia laki-laki yang jahat”. (H.R. Thabrani, No: 674).

Berangan-angan merupakan fitrah setiap manusia, karena itu ia merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang. Namun demikian angan-angan harus sesuai dengan kemampuan diri kita, jangan sampai berlebihan. Angan-angan yang berlebihan akan mencampakkan seseorang kepada khayalan-khayalan yang tidak berguna, karena itu, angan-angan yang berlebihan dilarang oleh ajaran Islam.

Perbuatan dzalim atau menganiaya terhadap orang lain atau menganiaya diri sendiri adalah merupakan perbuatan yang sangat tercela. Banyak sekali ayat al-Qur’an ataupun hadis Nabi yang melarang perbuatan tersebut. Suatu bangsa atau generasi akan mengalami kehancuran apabila penduduknya saling berbuata dzalim. Allah berfirman:

وَلَقَدۡ أَهۡلَكۡنَا ٱلۡقُرُونَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَمَّا ظَلَمُواْ 

“Sesungguhnya Kami telah membinasakan umat-umat sebelummu, ketika mereka berbuat kedzaliman.”(Q.S. Yunus, 10:13).

Penulis adalah salah seorang Rais Syuriyah PBNU