Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Memahami Ulang Para Penceramah Agama

Memahami Ulang Para Penceramah Agama
Ilustrasi penceramah agama (NUO)
Ilustrasi penceramah agama (NUO)

Oleh Amin Mudzakkir
Bulan Rabiul Awwal atau maulud atau mulud dalam penanggalan tahun hijriyah adalah bulan yang penuh berkah bagi para penceramah agama. Mereka akan diundang ke berbagai acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam sehari mereka bisa tampil di beberapa tempat, bahkan beberapa kota. Bulan "marema" kalau kata urang Sunda. 

Akan tetapi, di dunia akademis yang sekuler, peran para penceramah agama sering dipandang sebelah mata. Posisi mereka biasanya ditempatkan lebih bawah daripada para penulis. Secara intelektual mereka dianggap lebih rendah. 

Ketika dikaji secara ilmiah, para penceramah agama jarang dihargai secara memadai. Mereka dipahami hanya sebagai pengecer, bukan produsen, ajaran. Secara metodologis mereka biasanya didekati dengan kerangka teori tentang budaya populer, media, atau komunikasi. Dengan kata lain, posisi dan peran mereka disamakan dengan artis film, penyanyi panggung, atau figur-figur pemain hiburan lainnya. 

Bahkan di kampus-kampus agama Islam seperti UIN, para penceramah agama umumnya hanya menjadi objek penelitian mahasiswa S-1 fakultas dakwah. Para dosen dan mahasiswa UIN lebih tertarik mempelajari ulama-ulama yang menghasilkan kitab atau manuskrip. Hingga hari ini, misalnya, saya tidak tahu apakah ada kajian setingkat disertasi yang mengkaji kiprah KH Zainuddin MZ. 

Pertanyaannya, mengapa hal ini terjadi? 

Jawabannya telah saya kemukakan tempo hari: karena secara normatif ruang publik yang sekuler, termasuk di kampus-kampus, lebih mengutamakan keberakasaraan daripada kelisanan. Terlebih lagi jika kelisanan yang dimaksud adalah ceramah keagamaan yang cenderung dianggap sebagai keberisikan. Masyarakat modern tidak menyukai keberisikan. Mereka menyukai keheningan. 

Norma tersebut jelas bertentangan dengan realitas sosial di masyarakat kita yang justru lebih menyukai ceramah agama daripada aktivitas membaca. Apakah ini salah? Tentu saja jika dinilai berdasarkan norma yang dianut oleh masyarakat modern. Akan tetapi, dengan memeluk norma ini, para akademisi kita kehilangan kesempatan untuk memahami masyarakat secara lebih faktual. Bagaimana otoritas keagamaan terbentuk di acara-acara maulidan, misalnya, di mana para penceramah menjadi pelaku utamanya lepas dari perhatian. 

Padahal, kenyataannya, isi amplop yang diterima para penceramah agama itu umumnya lebih besar daripada para akademisi yang rajin menulis di jurnal-jurnal.

Penulis adalah peneliti BRIN