Melacak Asal-usul Amalan Rebo Wekasan atau Rabu Terakhir Bulan Safar (2)

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
Melacak Asal-usul Amalan Rebo Wekasan atau Rabu Terakhir Bulan Safar (2)
Melacak Asal-usul Amalan Rebo Wekasan atau Rabu Terakhir Bulan Safar (2)

Oleh Ustadz Hikmatul Luthfi

Dalam beberapa hal di antara kitab-kitab tersebut terdapat perbedaan terkait tatacara pelaksanaanya, waktu pelaksanaan, dzikir, dan redaksi doanya.

Baca: Melacak Asal-usul Amalan Rebu Wekasan atau Rabu Terakhir Bulan Safar (1)

Namun secara umum amaliyah yang dilaksanakan pada Rabu akhir bulan Safar telah dikutip dan ditulis lengkap dan apik dalam kitab Kanz al-Najah wa al-Surur, kecuali amaliyah shalat yang dilakukan oleh para murid Hussamuddin Manikpur dimana mereka melaksanakannya Shalat Rabu akhir bulan Safar dengan shalat dua rakaat di waktu dhuha. Pada rakaat pertama setelah membaca al-Fatihah adalah membaca Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 29-30 satu kali, dan pada rakaat kedua setelah Surat al-Fatihah membaca Surat al-Isra ayat 110-111 satu kali kemudian setelah salam, membaca shalawat Nabi kemudian berdoa:

اَللّهُمَّ اصْرِفْ عَنْ شَرِّ هذَا الْيَوْمِ وَ اعْصِمْنِي مِن شُؤمِهِ وَ اجْعَلْهُ عَلَى رَحْمَةٍ وَ بَرَكةٍ وَ جَنِّبْنِي عَمَّا أَخَافُ فِيهِ مِنْ نُحُوْسَاتِه وَ كَرَمَاتِه بِفَضْلِك يَا دَافِعَ الشُّرُور وَ يَا مَالِكَ النُّشُوْرِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 

Sejauh penelusuran penulis, para murid Hussamuddin Manikpur ini adalah para pengamal Tarikat Jistiyyah Hussamiyyah dengan menisbahkan kepada Syekh Hussamuddin. 

Demikian pula sekilas sumber kitab-kitab di atas adalah merupakan sumber induk pedoman tarekat tertentu yang dikarang oleh para pemuka sufi, wali qutb, ghauts, dan ‘arifin, shalihin, fudhala lainnya. Seperti misalnya pengarang kitab Na’t al-Bidayah adalah pemuka tarekat Qadiriyyah Fadhiliyyah dengan dinisbahkan kepada Muhammad al-Fadhil (w. 1910), al-Jawahir al-Khams sebagai pemuka tarekat Syattariyyah yaitu Muhammad bin Khatir al-Din (w. 1562 M).

Sejauh ini dibanding kitab lainnya, kitab Jawahir al-Khamsah adalah kitab yang paling tua yang berbicara tentang amaliyah Rabu terakhir bulan Safar. 

Dalam kitabnya terkait rebo wekasan, Syekh Ibn Khatir al-Din mengutip perkataan Syekh Farid al-Din dan menyebut nama Syekh Mu’inuddin. Berikut petikan terjemahannya:

Dalam kitab al-Jawahir al-Khamsah disebutkan bahwa Syekh Kamil Farid al-Din Kanz al-Syukr berkata, “Aku melihat aurad Syekh Mu’inuddin bahwanya setiap tahun itu 320.000 cobaan diturunkan dan semuanya terjadi pada hari Rabu yang terakhir di bulan Safar, hari itu merupakan hari tersulit di tahun itu. Siapa orang yang shalat di hari itu sebanyak empat rakat dengan membaca tiap-tiap rakatnya Surat al-fatihah, al-Kautsar 17 kali, al-Ikhlas 5 Kali, dan Al-Falaq 1 kali, dan al-Nas 1 kali, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa, maka Allah dengan kemurahan-Nya menjaga orang tersebut dari semua bala` dan cobaan yang turun pada hari itu, dan tidak mengitarinya sampai akhir tahun.

Demikian lengkap dengan doanya sebagaimana dalam kitab al-Jawahir al-Khamsah.

Lalu siapa Syekh Farid al-Din Kanz al-Syukr dan Syekh Mu’nuddin al-Jisti?

Syekh Fariduddin Mas’ud adalah seorang Muslim Sunni, bermadzhab Hanafi, pemuka sufi, pembesar tarekat Jistiyyah/Chistiyyah/Justiyyah di India, yang wafat tahun 1265 M (7 H). Sementara Syekh Mu’inuddin al-Jisti adalah saudara Syekh Abdul Qadir al-Jilani, karena ibu Syekh Mu’inuddin adalah saudara perempuan Syekh Abdul Qadir dari arah paman laki-lakinya.

Nasab Syekh Mu’inuddin sampai kepada Nabi, dari garis bapaknya adalah melalui Sayyidina Husen, dan garis Ibu melalui Sayyidina Hasan. Syekh Mu’inuddin (w. 627 H/w. 1236 M), seorang Muslim Sunni bermadzhab Hanafi, termasuk pembesar tarekat Jistiyyah yang didirikan oleh Syekh Abu Ishaq al-Syami di Herat, Afganistan, Syekh Mu’induddin dianggap pendiri Jistiyyah di India. Beliau Wafat di Ajmir India. ada beberapa sanad tarekat ini yang menyampaikannya kepada Rasulullah SAW melalui jalur Sultan Ibrahim bin Adham, sampai kemudian berikutnya kepada Syaikh Imam Abi Sa’id al-Hasan bin Yasar al-Bashri lalu kemudian kepada Sayyidina Ali r.a.

Berdasarkan hal ini bahwa untuk pelacakan awal bahwa sumber amaliyah Rebo wekasan adalah berasal aurad Syekh Mu’inuddin al-Jisti, seorang sufi, waliyullah abad yang hidup sekita abad ke 6-7 H/12-13 M, Sunni bermadzhab Hanafi, pembesar dan pendiri salah satu tarekat mu’tabarah.

Referensi:

al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, t.tp.: Idarah al-Thiba’ah al-Muniriyyah, Juz. 27 h. 85

al-Dayrabi, Mujarrabat al-Dayrabi al-Kubra, Beirut: Maktabah Tsaqafiyyah, h. 79

al-Zirikli, Qamus `A’lam wa Tarajim, Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, Juz. 3, h. 288

Jalal al-Din al-Suyuthi, al-Samarikh fi ‘Ilm al-Tarikh, Kairo: Maktabah al-Adab, h. 25-26, 28

Ma’ al-‘Ainayn Ibn al-Qutb Syekh Muhammad Fadhil bin Mamayn, Na’t al-Bidayat wa Tawshif al-Nihayat, Beirut: Dar al-‘Ulum al-‘Ilmiyyah, h. 167

Muhammad ‘Abd al-Hayy al-Laknawi, Majmu’ Rasail al-Laknawi, Karachi: Idarah al-Quran wa al-‘Umlum al-Islamiyyah, Juz. 5, h. 94

Muhammad bin Khatir al-Din, al-Jawahir al-Khamsah, t.t: t.p., h. 5, 34

Musthafa Muhy al-Din al-Hudwi al-Malibari, Syekh Mu’in al-Din al-Jisti al-Ajmiri: Hayatuh wa Da’watuh wa Atsaruh, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, h. 14-16

Shafiyy al-Din Ahmad bin Muhammad al-Maqdisi, ¬al-Simth al-Majid fi Ahl al-Tawhid, h. 90-91

Yusuf al-Mar’asli, Natsr al-Durar fi ‘Ulama’  al-Qarn alRabi’ ‘Asyar, Beirut: Dar al-Ma’rifah, Jilid 1.

’Abd al-Hamid Quds al-Makki, Kanz al-Najah wa al-Surur, Beirut: Dar al-Hawi, 2009, h. 90-101

Penulis adalah Nahdliyin kelahiran Cibadak, Kabupaten Sukabumi