Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download
Kolom Buya Husein

Maulid Nabi: Semesta Menyambut Kelahiran Sang Nabi

Maulid Nabi: Semesta Menyambut Kelahiran Sang Nabi
Foto: NU Online
Foto: NU Online

Oleh: KH Husein Muhammad
Kelahiran Muhammad bin Abdillah SAW disambut dengan penuh suka cita, bukan hanya oleh makhluk Allah di bumi, melainkan juga di langit. Ibnu al Jauzi seorang ulama pengikut aliran pemikiran Ahmad bin Hanbal terkemuka menggambar peristiwa kelahiran Nabi yang agung itu dengan sangat indah. Katanya : 

“Ketika Muhammad lahir, Malaikat di langit menyiarkan beritanya dengan suara riuh rendah. Jibril datang dengan suara gembira. Arasy bergetar. Para bidadari sorga keluar menebarkan aroma wewangian. Ketika Muhammad lahir, Aminah, ibunya, melihat cahaya menyinari istana Bosra. Malaikat mengelilinginya dan membentangkan sayap-sayapnya sambil menyenandungkan puja puji kepada Tuhan”.

Malam kelahiran Nabi adalah malam yang bertaburan cahaya yang memancar dari langit biru bening. Kehadiran Nabi Muhammad, adalah anugerah besar bagi dunia manusia dan semesta raya. 

Syeikh Al-Barzanji menyenandungkan kidung-kidung Madah dan puisi-puisi Na’tiyah menyambut kelahiran sang Nabi, sang calon pemimpin dunia itu. 

يَا نَبِى سَلَامٌ عَلَيكَ يَا رَسُول سَلَام عَلَيكَ
يَا حَبِيبُ سَلَام عَلَيكَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيكَ
أَشْرَقَ الْبَدْرُ عَلَينَا  فَاخْتَفَتْ مِنْهُ الْبُدُورُ
مِثْلَ حُسْنِك مَا رَأَيْنَا  قَطُّ يا وَجْهَ السُّرُورِ
أَنْتَ شَمْسٌ أَنْتَ بَدْرٌ  أنْتَ نُورٌ فَوْقَ نُورٍ
أَنْتَ إِكْسِيرٌ  وَغاَلىِ  أَنْتَ مِصْبَاحُ الصُّدُورِ
يَا حَبِيب يَا مُحَمَّد يَا عَرُوسَ الخَافِقَينِ
يَا مُؤَيَّد يَا مُمَجَّد  يَا إِمَامَ الْقِبْلَتَينِ

Aduhai Nabi, Selamat dan Damailah Engkau 
Aduhai Rasul, Salam dan Damailah Engkau 
Aduhai kekasih, Selamat dan Damailah Engkau 
Sejahteralah Engkau     
Telah terbit purnama di tengah kita  
Maka tenggelam semua purnama 
Seperti cantikmu tak pernah kupandang
Aduhai wajah ceria      
Engkaulah matahari, 
Engkau purnama
Engkau cahaya di atas cahaya
Engkau permata tak terkira
Engkau lampu di setiap hati      
Aduhai kekasih, aduhai Muhammad
Aduhai pengantin rupawan
Aduhai yang kokoh, yang terpuji
Aduhai imam dua kiblat, timur dan barat   
 
Puisi-puisi ini dinyanyikan dan dihapal oleh masyarakat muslim hampir di seluruh dunia muslim, tak terkecuali Indonesia. Pada saat puisi-puisi ini dibacakan,  orang-orang yang hadir bangkit berdiri dalam sikap penuh penghormatan terhadap sang Nabi. Mereka membayangkan seakan-akan sang Nabi datang dan hadir  di tengah-tengah mereka. Ini sebuah ekspresi indah yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang punya nurani bersih dan mengerti keindahan sastrawi dan berkebudayaan.

Sumber: FB Husein Muhammad