Masyayikh Tarekat (15): Khawaja Muhammad Baha'udin Naqsyabandi

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
ilustrtasi https://www.lovemeditation-naqshbandi.com/
ilustrtasi https://www.lovemeditation-naqshbandi.com/

Oleh Nur Kholik Ridwan 

Dikenal dengan nama Syah Naqsyaband, dan nama aslinya adalah Muhammad Baha'uddin an-Naqsyabandi al-Uwaisy al-Bukhari. Disebut dalam kitab ath-Thariqah an-Naqsyabandiyah wa A’lamuha (TNWA, 18-19), namanya dikenal dengan sebutan Syah Naqsyaband. Dilahirkan pada tahun 717 H. (1317 M.) di daerah Qashrul Arifan, sebuah desa di dekat Bukhara.

Dia belajar ilmu-ulmu syariah kepada Khawaja Baba Samasi, yang dimakamkan di desa Samas, dekat Bukhara. Pada umur 18 tahun, dia mengambil tarekat dari Syekhnya, Syekh Baba Samasi dan belajar ketenangan, khusu', dan tadharru’. Akan tetapi, silsilah sanad tarekatnya beliau menyambungkan kepada murid Baba Samasi, yang juga gurunya, yaitu Sayyid Amir Kullal.

Sumber-sumber yang menyebut biografinya, menjelaskan bahwa Syah Naqsyaband memiliki tiga guru yang yang banyak berpengaruh kepada pembentukan karakter dan perkembangan spiritualnya. Tiga orang itu, disebut oleh Jaudah Muhammad Abul Yazid al-Mahdi dalam Biharul Wilayah al-Muhammadiyah (BWM, 1998: 545-547) yaitu: Khawaja Abdul Kholiq al-Ghuzdawani, Baba Samasi, dan Sayyid Amir Kullal.

Melalui Khawaja Abdul Kholiq al-Ghuzdawani, Syekh Muhamamd Bahaudin Naqsyabandi disebut memperoleh tarbiyah Uwaisyiah secara ruhani, bil madad ar-Ruhil A’zham. Sementara dengan Baba Samasi, disebut, ketika Syekh Muhammad Baha'uddin Naqsyabandi memperoleh tarbiyah Uwaisyah di dalam batin dari Khawaja Abdul Kholiq al-Ghuzdawani, beliau memperoleh tarbiyah ruhiyah pula di alam dhahir dari Baba Samasi dan Sayyid Amir Kullal.

Peran Syekh Baba Samasi, di antaranya disebut oleh Jaudah Ahmad Abul Yazid al-Mahdi (BWM, 1998: ), berdasarkan kesaksian Syah Naqsyabandi sendiri, begini: “Kakekku mengirimku, dan umurku kira-kira 18 tahun, ke Samas untuk berkhidmah kepada al-Arif, al-Kabir, mursyid asy-Syahir, Syekh Baba Samasi, dengan memohon doa kepadanya untukku. Tatkala aku memperoleh hasil, tidak sampai waktu ghurub, kecuali aku telah mendapatkan barakahnya, diriku dalam keadaan tenang, khusyu’, dan tadharu’. Kemudian aku berdiri pada waktu sahur, lalu berwudhu dan ke masjid yang di dalamnya ada para sahabat, maka aku takbiratul ihram menunaikan shalat. Tatkala aku sujud, aku berdoa kepada Allah dan aku merendahkan diri dengan banyak, maka lewatlah melalui lisanku, pujian atas doaku:

“Ya Tuhaku, kuatkan aku dalam membawa (ahwal) untuk menaggung bala’, dan minhahnya mahabbah.” Kemudian aku sholat fajar bersama Syekh Baba Samasi, qoddasalah sirrahu. Tatkala aku sudah selesai shalat, kemudian Syekh Baba menemuiku dan mengingatkanku, setiap apa yang terjadi (padaku) dari jalan kasyaf, kemudian berkata kepadaku: “Hai anakku, sebaiknya engkau berdoa begini: “Ya Tuhanku, berilah hambamu yang lemah ini ridhamu, sesungguhnya Allah ta`ala itu tidak ridha hamba-Nya di dalam menanggung bala. Apabila kekasihnya diuji berdasarkan tuntunan hikmah dia diberi kekuatan untuk membawa bala’ dan memunculkan hikmah. Maka tidak patut seorang hamba untuk memilih memperoleh bala’, karena sesungguhnya hal itu menghilangkan maqam adab.”

Setelah wafatnya Syekh Baba Samasi, Muhammad Baha'uddin Naqsyabandi diambil kakeknya untuk diajak pergi Samarkand, berziarah dan bertemu dengan para shalihin, para quthub untuk memperoleh barakah mereka. Setelah itu, beliau datang ke Bukhara dan dinikahkan, menekuni ibadah menjalankan syariat dan menekuni hakikat (BWM, 547). Syah Naqsyaband kemudian juga bersahabat dan belajar kepada Sayyid Amir Kullal yang memiliki kemuliaan dalam men-tarbiyah murid, yang juga murid dan menggantikan kedudukan Baba Samasi.

Pada saat bersama Sayyid Amir Kullal ini, Syah Naqsyaband juga mengalami jadzbah dan mendengar hatif. Dari jadzbah ini kemudian dibangun dasar-dasar tarekat Naqsyabandi. Para murid Sayyid Amir Kullal al-Bukhari berdzikir dengan dzikir jahr, bila bersama-sama, dan bila sendiri dengan dzikir khafi. Syah Naqsyabandi kemudian memilih dzikir khafi, dan dzikir khafi disebutnya sebagai: “aula wa aqwa” (TNWA, 1987: 18). Setelah itu, dzikir Naqsyabandi, dari Syah Naqsyabandi mengunakan metode dzikir khafi. Tentang jawaban Syayid Amir Kullal ketika ditanya salah satu muridnya, soal dzikir khafi dari Syah Naqsyaband telah dikutip di bagian Sayyid Amirt Kullal, dan tidak diulang lagi di sini.

Setelah datang kepada Sayyid Amir Kullal, Syah Naqsyabandi berziarah kepada orang-orang shalih dan belajar dari ahwal mereka. Dan, setelah berhaji 3 kali, Syah Naqsyaband berdiam di Merwa, kemudian Bukhara, dan kembali ke daerahnya di Qashrul Arifan dan mendidik para murid. Sejak masa Syah Nasyabandi, tarekat yang dulu sering dinamai Thaifuriyah atau `Isyqiyah, kemudian dikenal sebagai tarekat para Khojagan (Kwajagan), maka tarekat ini kemudian dinisbahkan kepadanya, menjadi Nasyabandi (Martin, hlm. 50). Syah Naqsyaband meninggalkan beberapa risalah dan kitab yang diberi judul: al-Aurad al-Baha’iyah, dan diberi syarah oleh para muridnya diberi judul Manbaul Asrar; Tanbihul Ghafilin, Sulukul Anwar, dan Hidayatus Salikin wa Tuhfatuth Thalibin.

Syah Naqsyaband, menambahkan 8 asas yang telah diletakkan oleh Khawaja Abdul Khaliq al-Ghuzdawani di dalam bahasa Persia, dengan 3 asas lagi, yaitu: wuquf-izamani, wuquf-i adadi, wuquf-iqalbi. Sejak masa beliau ini, silsilah Khawajagan kemudian dikenal dengan Naqsyabandiyah.

Beliau wafat pada bulan Rabiul Awwal tahun 791 H. (1388 M.), dan ketika sakit menjelang wafat, para muridnya membacakan surat Yasin sampai sempurna kewafatannya. Beliau dimakamkan di kebunnya sendiri, sebagaimana wasiatnya, dan di kuburannya itu oleh para murid dan pengikutnya, dibangun sebuah qubbah.

Penulis adalah penulis buku "Suluk dan Tarekat"