Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka PWNU Download

Masyarakat Blok Dukuh Desa Kenanga Pertahankan Tradisi Bubur Sura

Masyarakat Blok Dukuh Desa Kenanga Pertahankan Tradisi Bubur Sura
Masyarakat Blok Dukuh Desa Kenanga (Foto: NU Online Jabar/Tosim)
Masyarakat Blok Dukuh Desa Kenanga (Foto: NU Online Jabar/Tosim)


Indramayu, NU Online Jabar
Salah satu tradisi Nahdliyin dalam mengisi bulan Muharram atau dalam Bahasa Jawa disebut bulan Sura atau Suro adalah membuat bubur sura atau suro. Tradisi ini juga masih dipegang dan terus dilakukan oleh masyarakat Indramayu saat memasuki bulan Muharam setiap tahunnya, salah satu desa di Indramayu yang masih memegang teguh tradisi tersebut adalah warga Blok Dukuh  Desa Kenanga Kecamatan Sindang, Indramayu.  

Saat menyambut datangnya Tahun Baru Islam beberapa hari yang lalu, Nahdliyin di desa yang dikenal sebagai penghasil krupuk udang tersebut, terlihat bergotong royong membuat bubur sura yang dipimpin oleh tokoh agama setempat dan lebe (kaur kesra) desa. Pembuatan bubur sura dipusatkan di halaman Masjid Nurul Huda dan diikuti puluhan warga. 

Tokoh masyarakat yang juga Lebe (Kaur Kesra) Desa Kenanga, Rustadi menuturkan, Pembuatan bubur sura memiliki makna yang mendalam, selain untuk merayakan Tahun Baru Islam, Nahdliyin di desanya juga dapat mengingat peristiwa banjir bandang yang melanda umat  Nabi Nuh dan saat air surut Nabi Nuh membuat makanan (bubur) yang berisi berbagai jenis biji-bijian untuk dimakan oleh kaumnya yang selamat karena mengikutinya 

“Kami mengadakan tradisi membuat bubur sura bersama warga bergotong-royong untuk mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan terutama ibu-ibu RT/RW bersama ibu-ibu yang lainnya, tetapi dalam pelaksanaan tradisi ini kami tetap memakai protokol kesehatan karena mengingat situasi saat ini masih dalam pandemi covid-19,” jelasnya.

Rustadi menambahkan, bubur sura mempunyai rasa yang unik, yakni ada rasa gurih dengan nuansa pedas yang tipis, bahannya terdiri dari beras, santan, garam, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Selain itu, bubur sura dicampur bulir-bulir buah delima, kacang-kacangan, asam jawa (klungsu), jagung, pepaya dan lain-lain. Sementara, mengenai dana untuk membuat bubur sura Rustadi menuturkan sumber dana berasal dari urunan warga yang ingin ikut berpartisipasi tanpa adanya paksaan dan tidak ditarget berdasarkan kesukarelaan.

“Setelah bubur matang, kemudian para ketua RT/RW membantu pendistribusian/membagikan bubur kepada masyarakat dari RT 17 Sampai RT 25 yang ada di blok dukuh,  dibagikan dari rumah ke rumah dan secara merata, sehingga tidak ada satu rumah pun yang terlewat,” ujar Rustadi.

Rustadi menegaskan, maksud dan tujuan menggelar tradisi bubur sura, diharapkan masyarakat Desa Kenanga Blok Dukuh mendapatkan keberkahan, terhindar dari bala/ penyakit dan diharapkan rezekinya bertambah. 

“Setiap butir buah dan kacang-kacangan biasanya berjumlah 7 buah, angka tujuh punya arti sendiri, yakni melambangkan jumlah hari dalam seminggu. Maknanya, dalam hidup setiap hari, kita harus selalu punya tekad dan keberanian untuk bertindak yang dilambangkan, namun, semua tindakan tersebut haris dilandasi dengan niat yang bersih dan benar. Hal lain yang patut kami ungkapkan di sini adalah, bahwa dengan pembuatan bubur sura, sebagai lambang bagi warga untuk terus melakukan introspeksi diri, apa saja yang telah dilakukan setahun yang lalu dan apa saja yang harus diperbaiki untuk satu tahun ke depan serta seterusnya, agar kehidupan warga terus meningkat terutama dalam hal kebaikan,” pungkasnya. 

Pewarta: Tosim
Editor: Iing