Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Mang Usep dan Galon Kosong

Mang Usep dan Galon Kosong
Mang Usep (Foto: NU Online Jabar/Rizal Ahmad)
Mang Usep (Foto: NU Online Jabar/Rizal Ahmad)

Oleh Abdullah Alawi 

Enam bulan sudah saya menjadi warga di kantor PWNU Jawa Barat di Jalan Terusan Galunggung Nomor 9, Kota Bandung. Namun hanya sekali mendapati galon kosong di dapur. Hanya sekali pada suatu hari di antara sekitar 182 hari yang lain. 

Padahal sebagaimana kantor-kantor NU yang pernah saya datangi di daerah lain, tiap hari selalu ada saja yang datang. Dilihat dari statusnya, mereka mungkin pengurus lembaga atau banom atau pengurus PWNU sendiri atau Nahdliyin atau warga umum. Dilihat dari tujuannya, mereka terdiri dari yang memiliki tujuan maupun tidak. Baik hanya sekadar bertemu seseorang atau sekadar nongkrong. Dilihat dari sisi jenis kelamin, perempuan dan laki-laki. Dilihat dari sisi umur, remaja, dewasa, dan tua. Dilihat dari sisi jabatannya di luar NU, ini yang saya tidak tahu. Dan mungkin sisi-sisi lain yang tidak saya pahami. 

Tentu saja mereka tidak datang secara berjamaah. Apalagi di musim pandemi ini. Kategori-kategori itu hanya menunjukkan bahwa kantor ormas sangat terbuka didatangi siapa saja tanpa batasan waktu dan kategori-kategori dan atribusi. Yang tidak boleh datang adalah mereka yang memang tak mau datang. 

Nah, mereka yang datang itu kendati tidak mesti, membutuhkan paling minimal adalah air minum. 

Setahu saya, di PWNU ada dua sumber air minum, pertama, air mineral kemasan dalam bentuk botol dan gelas merk Qoha yang diproduksi Pimpinan Wilayah Jam’iyyatul Qurra wal Huffaz Nahdlatul Ulama Jawa Barat dan selainnya. Kedua, galon yang berada di dapur. 

Nah, pada sisi ini, saya kategorikan lagi orang-orang yang datang ke PWNU itu. Pertama, yang merasa tamu dan bukan tamu. Saya sebut sebagai bukan tamu karena intensitasnya kehadirannya di PWNU cukup sering. Kategori yang disebut terakhir ini, setidaknya terbagi tiga. Pertama, bukan tamu, tapi memang harus dilayani. Kedua, bukan tamu, tapi merasa harus dilayani. Ketiga, bukan tamu dengan melayani diri sendiri. 

Perlu saya ditambahkan lagi, jenis air minum untuk mereka, yakni tidak hanya putih atau bening, melainkan teh dan kopi dengan ragam jenisnya pula. Di luar jenis itu, saya tak pernah menemukannya. 

Terkait air minum itu sampai di tenggorokan mereka, semua terkait dengan pemeran utamanya, yaitu Mang Usep. Dia seperti mesin yang bekerja otomatis untuk mereka.

Saya sukar menjelaskan tentang ketangkasannya dalam melayani. Di hari begini, kok bisa menyisakan makhluk sepertinya. Selama enam bulan saya mencari-cari kesalahannya, hanya menemukan sekali saja galon kosong di dapur. Dan saya yakin semua orang tak menyebut itu suatu kesalahan. 

“Nah, ini dia,” pekik saya dalam hati ketika mendapati galon kosong itu. Saya bahagia karena ternyata Mang Usep bukan malaikat atau mesin otomatis. Dia masih makhluk yang terdiri dari darah dan daging. 

Saya kemudian mencarinya, memastikan apakah dia sedang ongkang-ongkang kaki, bermalas-malasan atau melamunkan dunia, sedang berbincang KLB sebuah partai dengan tamannya, atau tidur.  Di kamarnya tidak ada. Begitu juga di aula dan ruangan-ruangan lain. Akhirnya saya ke beranda. Di sebuah sofa panjang, saya mendapati Mang Usep sedang memijit Wakil Sekretaris PWNU Jawa Barat KH Dasuki As. 

Siapa pun, setahu saya, tak mungkin bisa mengganti galon kosong dengan yang berisi ke dispenser sambil memijit.  

Penulis adalah pengagum Mang Usep