Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Mama Syatibi Dan Awal Mula NU Di Sumedang

Mama Syatibi Dan Awal Mula NU Di Sumedang
KH Mohammad Syatibi (Mama Syatibi) Sumedang (1901-1987) (NU Online Jabar/Foto: Dok. Keluarga)
KH Mohammad Syatibi (Mama Syatibi) Sumedang (1901-1987) (NU Online Jabar/Foto: Dok. Keluarga)

KH Mohammad Syatibi atau lebih dikenal dengan Mama Syatibi adalah kiai kharismatik dari Sumedang. Beliau Lahir 1 januari 1901 di cicalengka dan wafat di Sumedang 6 September 1987. Ajengan yang merupakan Kakek dari Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir ini, jejaknya di NU tercetak sebagai salah satu pendiri Nahdlatul Ulama di Sumedang dan menjadi Rois Suriyah PCNU Sumedang Mulai tahun 1955 sampai tahun 1983, serta Wakil Rois Syuriyah PWNU Jawa Barat pada Tahun 1971 sampai 1987.  

Sebagaimana tradisi para kiai, Mama Syatibi menghabiskan masa belajarnya dari satu pesantren ke pesantren lainnya seperti Pondok Pesantren Pinggirwangi, Pondok Pesantren Sarjaya Cirebon, Pondok Pesantren Keresek Cibatu Garut, Pondok Pesantren Sukaraja Garut, Pondok Pesantren Gentur Cianjur dan Pondok Pesantren Sukamiskin Bandung. 

Kepindahannya ke Sumedang terjadi pada tahun 1926 ketika Dalem Bintang (Bupati/Raja Sumedang) ingin anak-anak keturunan dan masyarakat Sumedang memiliki seorang yang dapat membimbing ilmu Agama. Dalem Bintang kemudian berkunjung ke Pondok Pesantren Sukamiskin, yang sudah dikenal sebagai salah satu pusat keilmuan Islam pada saat itu, untuk memohon diberikan seorang yang dapat dijadikan guru dan pembimbing Agama di Sumedang.

KH Idad Istidad, Ketua PCNU Sumedang, mengisahkan cerita dari ayahnya, Mama Falah Cikoneng, bahwa Raja Sumedang sumping (sowan) ke Sukamiskin, “Kiai Kaula hoyong gaduh putra pinter, hoyong apal kana agama, pang didikkeun ku santri kiai.” (“Kiai Saya ingin punya putra pintar, ingin tahu agama, mohon dididik sama santri Kiai.”) 

Mama Sukamiskin kemudian maparing santri anu dipandang pas kanggo ngawuruk di Sumedang (Mama Sukamiskin kemudian memberikan santri yang dipandang pas untuk mengajar di Sumedang), santri anu pintar sareng berintelektual tinggi, yaitu Jang Epen. 

Setelah datangnya Mama Syatibi di Sumedang, pada tahun yang sama, Dalem Bintang dan Penghulu RHM Hamim mendirikan Sekolah Agama Madrasah Islamiyyah Sumedang (MIS, yang menjadi cikal bakal lahirnya pendidikan-pendidikan Islam di Sumedang. Selain Memimpin MIS Mama Syatibi Juga diangkat menjadi Imam di Masjid Agung Sumedang. 

Selang delapan tahun di Sumedang, Mama Syatibi mendapat perintah dari gurunya, Mama Sukamiskin, untuk mendirikan Organisasi Nahdlatul Ulama (NU),  melalui perantaraan surat yang dititipkan oleh mama Sukamiskin kepada Mama Falah ketika beliau bersilaturahmi ke Sukamiskin.

Meneruskan cerita Mama Falah, Kang idad melanjutkan, ketika Bapak silaturahmi ke Sukamiskin dalam pejalanan pulang dari Cipasung pada 1934, Bapak ditanya oleh Mama Sukamiskin. 

Jang, dimana masantren teh? (Jang, belajar di pesantren mana?)” Mama Sukamiskin bertanya. 

“Di Cipasung, saur pun bapa teh (di Cipasung, kata Bapak).”

“Ieu surat pasikeun ka Jang Epen di Sumedang (ini surat kasihkan ke Jang Epen di Sumedang), di Srimangantri (pendopo kediaman raja/bupati Sumedang),” perintah Mama Sukamiskin.

Surat tersebut kemudian disampaikan kepada Mama Syatibi dan dibuka di depan Mama Falah sebagai pembawa surat yang isinya adalah intruksi mendirikan NU di Sumedang. 

“Ieu jang isina teh Ajengan Sukamiskin miwarang ngadamel NO (NU) di Sumedang (Ini jang surat berisi perintah Ajengan Sukamiskin mendirikan NO di Sumedang),”  Kata Mama Syatibi seperti dikutip dari Kang Idad mengulang kata-kata Mama Falah.

Kisah ini dibenarkan oleh KH Ahmad Shobir yang mendapatkan kisah yang sama dari Mama Syatibi, ayahnya. 

“Apa Syatibi pada tahun tersebut disuruh mendirikan NU di Sumedang,” kata KH Ahmad Shobir.  Dia menambahkan bawa pada awal pendiriannya, Ketua Tanfidziyah dijabat oleh K Mualim Toha.

Penulis: Cucu Samsu
Editor: Muhyiddin