Warta Sejarah Keislaman Tokoh Profil Opini Wawancara Ngalogat Adrahi Pustaka Download

Maiyah, Penjual Es Teh dan Gorengan Hafal Al-Qur’an 30 Juz

Maiyah, Penjual Es Teh dan Gorengan Hafal Al-Qur’an 30 Juz
Maiyah (kiri) bersama salah seorang pengurus JQHNU Indramayu Ru'yatun Hilali (Foto: NU Online Jabar/bdullah Alawi)
Maiyah (kiri) bersama salah seorang pengurus JQHNU Indramayu Ru'yatun Hilali (Foto: NU Online Jabar/bdullah Alawi)

Bandung, NU Online Jabar 
Pengurus Pimpinan Wilayah Jam’iyatul Qurra Wal Huffadz Nahdlatul Ulama (PW JQHNU) Provinsi Jawa Barat menggelar Diklat Kebangsaan angkatan ketiga, yang bertempat di Hotel Asrilia, Kota Bandung, Rabu (18/11). 

Kegiatan itu diikuti para 338 penghafal Al-Qur’an yang berada dalam program Satu Desa Satu Hafidz (Sadesha) dari 13 Kota dan Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, di antaranya dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Indramayu, Kabupaten Bandung Barat, Cianjur, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Kuningan, Kota Cimahi, Banjar, dan juga Pangandaran.

Maiyah adalah salah seorang peserta Sadesha dari Kecamatan Krangkeng, Indramayu. Tidak seperti peserta lainnya, ia berjalan dengan kursi roda. Ia memang tak bisa berjalan kaki sejak usia tiga tahun. 

NU Online Jabar menyaksikan Maiyah dibantu temannya selepas mengikuti materi Wawasan Al-Qur’an yang disampaikan Wakil Katib KH Hadi Hidyatullah di hari pertama diklat itu. 

Maiyah bercerita proses menghafal Al-Qur’an dimulainya sejak 2002 saat ia berusia 12 tahun. Secara kebetulan, niatnya ada seorang dermawan yang bersedia menanggung seluruh biaya pendidikannya di pesantren khusus menghafal Al-Qur’an. 

Ia pun pergi meninggalkan kampung halamannya, menjadi santri pesantren hafalan Al-Quran, di Cirebon. Selama tujuh tahun ia berada di pesantren itu. 

Menurut dia, selama lima tahun mampu menghafal Al-Qur’an 30 juz. Dua tahun sisanya terus-menerus menyempurnakan hafalan itu. 

Pada 2009 ia kembali ke kampung halamannya. Kesehariannya tiada lain adalah menemani ibunya yang lanjut usia. Sang ayah sudah tiada, sementara keempat kakaknya sudah berkeluarga. 

Dengan kondisi seperti itu, Maiyah hanya bisa membantu mencuci pakaian ibunya dan dirinya sendiri. Sementara memasak nasi dibantu salah seorang kakaknya yang kebetulan tak jauh dari kediamannya. 

Aktivitas lain Maiyah adalah menjaga hafalannya. Tiap selepas shalat subuh, ia mengulang hafalannya sebanyak dua juz. Keesokan harinya melakukan hal sama, melanjutkan juz berikutnya. Begitu bertahun-tahun. 

Pada 2017, supaya tak tergantung orang lain, Maiyah berinisiatif berjualan es teh manis dan gorengan di sebuah mushala yang tak jauh dari rumahnya. Berjarak sekitar 50 meter. Barang dagangannya diantar sang kakak, kemudian ia menunggu pembeli dari pukul 15.00 sampai 20.00. 

“Di situ banyak anak-anak mengaji, sekitar 50 orang,” katanya.  

Dari aktivitas jualannya itu, kalau lagi mujur Maiyah bisa mengumpulkan uang sekitar Rp15.000 per hari. Kadang-kadang Rp10.000.

“Itu untuk kebutuhan sehari-hari, beli sabun,” katanya, “Nabung paling seribu dua ribu,” katanya. 

Selama menunggu pembeli itulah, diam-diam bibir Maiyah melanjutkan hafalan Al-Qur’annya, ayat demi ayat. Kalimat-kalimat itulah yang disampaikan malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad 14 abad lalu. 

Pewarta: Abdullah Alawi