Mahbub Djunaidi, Tokoh NU Kelahiran Jakarta Wafat di Bandung 1 Oktober (2-Tamat)

PCINU Arab Saudi Harap Menaker Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran
H. Mahbub Djunaidi
H. Mahbub Djunaidi

Oleh Abdullah Alawi

Pernah Dipenjara Gara-gara Tulisan 
Menurut Ensiklopedia NU, karier Mahbub Djunaidi sebagai wartawan dimulai ketika ia menjadi redaktur majalah sekolah, Pemuda Masyarakat, sambil mengetuai Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) ranting SMP ll di Jakarta, 1952. 

Baca: Mahbub Djunaidi, Tokoh NU Kelahiran Jakarta Wafat di Bandung 1 Oktober (1)

Ketika bersekolah di SMA Budi Utomo, ia mulai muncul ke publik yang lebih luas. Karyanya berupa cerpen, sajak, dan esai dimuat di majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Roman, dan Star Weekly.  

“Hal yang menarik, minatnya pada dunia tulis-menulis dan kesusastraan, justru ketika ia bersekolah di Madrasah Manba'ul Ulum di Solo, ketika salah seorang gurunya, Kiai Amir, sering memperkenalkannya pada karya-karya sastra dunia, seperti Mark Twain, Karl May, Sutan Takdir Alisyahbana, dan lain-lain,” tulis Ensiklopedia NU.  

Awal karier Mahbub pada 1950-an sebenarnya adalah sastrawan. Tapi, status ini sempat menghilang ketika ia lebih banyak sibuk sebagai wartawan dan aktivis partai. Baru tahun 1975, namanya muncul lagi ketika mengumumkan novelnya Dari Hari ke Hari (Pustaka Jaya, 1975). 

Novel ini berkisah tentang perang kemerdekaan dengan tokoh utama seorang anak kecil. ”Anak kecil" dianggap sebagai metafora dari Indonesia, yang masih muda dan baru merdeka. Novel ini menyabet penghargaan dalam Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1975. 

Akibat tulisan-tulisannya yang penuh sindiran dan tajam, ia sempat ditahan pada tahun 1978. Di tahanan ini pula ia menyelesaikan terjemahan Road to Ramadan karya Husein Heikal dan sebuah novel Maka Lakulah Sebuah Hotel

Tahun 1985 keluar lagi satu novelnya, Angin Musim, yang diterbitkan oleh Inti Idayu Press. Novel ini berisi suatu sindiran pada situasi sosial pada masa Orde Baru, ketika korupsi melanda Indonesia tanpa ada yang bisa mencegahnya. 

Yang menarik dari novel ini adalah tokohnya seekor kucing jalanan. Dalam sejarah sastra Indonesia, inilah satu-satunya karya sastra yang menggunakan tokohnya seekor binatang. 

Menulis Sarat Humor 
Menurut Ensiklopedia NU, Mahbub dikenang di antaranya karena esai-esainya yang khas dan penuh humor, yang muncul di media-media terkemuka seperti Kompas dan Tempo. Esais Indonesia terkemuka, Goenawan Mohammad, mengaku cemburu dengan gaya menulis Mahbub yang kocak, yang bisa membuat orang tersenyum dan tertawa, meski yang dibicarakannya soal yang serius sekali.  

“Mahbub mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan kecakapan seorang mime yang setingkat Marcel Marceau. la menggerakkan kata-kata dan kalimat dalam berbagai perumpamaan yang tidak pernah membosankan karena selalu tak terduga. Esai-esainya adalah kritik sosial yang tajam, namun tidak membuat orang yang dikritik menjadi marah. Gaya esainya yang renyah ini membuatnya sering dijuluki sebagai Art Buchwald-nya Indonesia. Sementara gaya kocaknya itu membuatnya dikenal pula sebagai peIopor ”jurnalisme humor". 

Esai-esainya yang tetap menarik dibaca hingga kini itu telah dikumpulkan dan dibukukan di antaranya Kolom Demi Kolom (1986), Humor Jurnalistik (1986), dan Asal-Usul (1996),” tulis Ensiklopedia NU

Mahbub Djunaidi yang lahir 27 Juli 1933 ini, wafat di Bandung pada 1 Oktober 1995. Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sedang berada di luar negeri saat Mahbub wafat. Gus Dur baru hadir ke makam Mahbud Djunaidi pada 40 hari setelah kewafatannya. 

Penulis: Abdullah Alawi